KETIK, SURABAYA – Menteri Haji dan Umrah Republik Indonesia (Menhaj RI) Mochamad Irfan Yusuf menegaskan Presiden Prabowo Subianto tidak mengintervensi Muktamar ke-35 NU yang bakal berlangsung pada 1-5 Agustus 2026.
Ketegasannya itu ia sampaikan di sela-sela penutupan operasional haji 2026 di Asrama Haji Surabaya pada Rabu, 1 Juli 2026.
"Ndak ada, Ndak ada (tidak ada) poros Istana itu tidak ada. Presiden Prabowo itu sangat menghormati NU. Sehingga beliau tidak akan ikut cawe-cawe menentukan ini yang jadi, tidak ada," tegasnya.
Maka dari itu, jika ada selentingan kabar mengenai Presiden Prabowo memberikan kudungan pada salah satu kubu. Pria yang akrab disapa Gus Irfan itu menekankan kabar itu tidak benar.
"Jadi kalau selama ini ada yang mengklaim saya didukung Presiden, nol. Presiden sangat menghormati Nadhlatul Ulama. Beliau tidak ingin NU dikotori oleh pihak-pihak dari luar NU. Bahkan beliau juga tidak ingin ikut cawe-cawe di sana," lanjutnya.
Menurutnya Presiden Prabowo berharap yang terbaik kepada Nahdlatul Ulama pada saat penyelenggaraan Muktamar tersebut. Sebagaimana diketahui, selain menanggapi hal ini. Gus Irfan juga mendengar adanya dinamika yang terus bergolak di internal NU menjelang Muktamar.
Baginya, sebagai cucu pendiri NU. Mendengar kabar seperti ini, ia malu sekaligus sedih karena dinilai saling menjegal. Situasi ini tak sesuai dengan semangat Nahdlatul Ulama.
Menurutnya apabila bercermin kepada kiai pendahulu, mereka justru menolak ketika diminta menjadi pengurus karena menganggap jabatan sebagai amanah besar yang harus dipertanggungjawabkan di dunia maupun akhirat.
"Para petinggi-petinggi NU berkaca pada para pendahulu-pendahulu, kiai-kiai terdahulu di mana mereka saling menolak untuk dipilih menjadi pengurus karena merasa bahwa itu tanggung jawab yang berat," tuturnya. (*)
.png)