KETIK, SIDOARJO – Usia bukanlah penghalang untuk meraih cita-cita. Prinsip itulah yang dipegang Dr Rukmini Ambarwati MPSi. Di tengah kesibukannya sebagai Pengawas Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur Wilayah Sidoarjo, dia berhasil menuntaskan pendidikan doktoral pada usia 59 tahun.
Perjalanan penuh perjuangan tersebut kini diabadikan dalam buku berjudul Doa, Takdir, dan Doktor.
Buku setebal 343 halaman itu diluncurkan pada Jumat (30 Oktober 2026). Saat ditemui di SMA Negeri 1 Waru, Rukmini mengisahkan perjalanan akademiknya yang tidak selalu berjalan mulus.
Mulai dari perjuangan mengikuti perkuliahan, menghadapi berbagai ujian, kehilangan dua profesor, hingga tetap menyelesaikan disertasi di tengah kondisi kesehatan yang kurang mendukung. Baginya, meraih gelar doktor merupakan tantangan tersendiri. Apalagi, dia harus membagi waktu antara tanggung jawab pekerjaan, keluarga, dan kewajiban akademik.
"Usia saya sudah 56 tahun ketika memutuskan kuliah doktoral. Lulus saat 59 tahun. Itu menjadi tantangan tersendiri bagi saya. Namun, ada keinginan kuat untuk menyelesaikan pendidikan sekaligus mewujudkan impian almarhum bapak saya," ungkap Rukmini.
Dia memilih menempuh pendidikan doktoral di Universitas Islam Negeri Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung. Keputusan tersebut tidak diambil secara terburu-buru. Rukmini mengaku melakukan survei selama enam bulan sebelum akhirnya mantap menentukan pilihan.
Salah satu pertimbangannya adalah aktivitasnya di STKIP PGRI Trenggalek. Dengan berbagai pertimbangan tersebut, dia akhirnya memutuskan melanjutkan pendidikan di kampus tersebut.
Bagi Rukmini, melangkah di program doktoral ini bukan sekadar berpindah ruang kelas, melainkan upaya mendamaikan dua kutub ilmu yang berbeda. Jika dulu psikologi melatihnya untuk menyelami labirin pikiran dan perilaku manusia secara personal, kini manajemen pendidikan Islam menantangnya untuk membedah kompleksitas sistem, seni kepemimpinan, dan marwah organisasi di bawah payung nilai-nilai langit, sebuah “pelangi pengalaman” sebagai ASN, ibu, penulis, dan pembelajar sepanjang hayat.
Namun, perjalanan menuju gelar doktor bukan perkara mudah. Dalam bukunya, Rukmini menceritakan beragam pengalaman selama menjalani perkuliahan. Termasuk suasana kelas saat menghadapi ujian hingga kesedihan ketika dua profesor yang dikenalnya meninggal dunia.
Di balik perjuangan itu, ada motivasi besar yang terus menguatkannya, yakni keinginan memenuhi harapan sang ayah. Rukmini mengaku sempat berjanji kepada ayahnya untuk kembali menempuh pendidikan. Sayangnya, sang ayah meninggal dunia tidak lama setelah janji tersebut disampaikan.
"Motivasi terbesar saya salah satunya dari bapak. Saya pernah berjanji untuk kuliah lagi, tetapi tidak lama kemudian beliau meninggal dunia. Karena itu, saya ingin mewujudkan impian bapak saya," tuturnya.
Dukungan keluarga juga menjadi kekuatan penting bagi Rukmini. Suami dan anak-anaknya terus memberikan semangat agar pendidikan doktoralnya dapat diselesaikan tepat waktu.
Dukungan tersebut semakin berarti ketika dia harus menghadapi persoalan kesehatan. Rukmini mengungkapkan, dirinya beberapa kali harus menjalani perawatan di rumah sakit. Kondisi jantungnya yang mengalami gangguan sempat menjadi tantangan di tengah proses penyelesaian disertasi.
Di atas bangsal tidur rumah sakit, laptop tetap setia menemani. Jarum infus menancap di tangan kiri, sementara jemari tangan kanan masih berusaha menari di atas kibor. Baginya, ini bukan sekadar perjalanan mengejar selembar ijazah tertinggi, melainkan sebuah pertarungan melawan keterbatasan dan pembuktian atas janji yang terpatri di hati.
"Saya pernah menulis disertasi di lorong rumah sakit. Beberapa kali masuk rumah sakit, tetapi saya tetap berusaha menyelesaikannya. Alhamdulillah, keluarga sangat mendukung dan memotivasi saya agar bisa lulus tepat waktu," jelasnya.
Pengalaman itulah yang kemudian dituangkan dalam Doa, Takdir, dan Doktor. Judul buku tersebut memiliki makna tersendiri bagi Rukmini. Kata doa menggambarkan dukungan dan harapan dari keluarga, teman seperjuangan, dosen, rektor, serta kepala sekolah dan guru di lingkungan binaannya.
Sementara itu, takdir menggambarkan perjalanan hidup yang membawanya menempuh pendidikan di kampus pilihannya. Adapun doktor menjadi simbol pencapaian akademik yang berhasil diraih setelah melewati berbagai ujian.
Menariknya, Rukmini memiliki alasan khusus mengapa memilih buku sebagai buah tangan atau suvenir perjalanan akademiknya. Dia ingin membagikan pengalaman kepada masyarakat, khususnya para guru yang sedang atau berencana melanjutkan pendidikan.
Menurutnya, perjalanan kuliah tidak selalu dipenuhi pengalaman menyenangkan. Ada tantangan, pengorbanan, dan perjuangan yang harus dilalui. Namun, dengan kerja keras, doa, serta dukungan orang-orang terdekat, cita-cita tetap dapat diwujudkan.
"Saya ingin buku ini menjadi motivasi bagi kepala sekolah, guru dan siapa pun yang sedang menempuh pendidikan. Ternyata kuliah itu tidak mudah. Namun, kalau diiringi doa dan kerja keras, insyaallah bisa berjalan lancar," tegasnya.
Buku tersebut juga mendapatkan apresiasi yang luas dari berbagai kalangan, mulai dari rektor, dosen, pimpinan instansi, rekan sejawat sesama pengawas, kepala sekolah, hingga guru, serta suami dan anak-anak tercinta. Apresiasi yang diterimanya menjadi pelengkap perjalanan panjang dalam meraih gelar doktor.
Akhirnya, perjalanan menjadi doktor adalah bukti bahwa cita-cita besar dapat diraih oleh mereka yang memadukan tiga kekuatan, doa yang tulus, perjuangan yang konsisten, dan keyakinan terhadap takdir Allah.
Sebab keberhasilan bukan hanya hadiah bagi mereka yang pintar, tetapi bagi mereka yang sabar, tekun, dan tidak pernah menyerah dalam memperjuangkan impiannya.
Melalui Doa, Takdir, dan Doktor, dia berharap kisah perjuangannya dapat menginspirasi para pendidik untuk terus meningkatkan kompetensi dan tidak mudah menyerah dalam mengejar cita-cita. Sebab, selama ada kemauan, kerja keras, dan doa, kesempatan untuk meraih impian selalu. (nas/*)
