KETIK, MALANG – Krisis energi global kembali memicu kekhawatiran di berbagai negara setelah ketegangan geopolitik di Timur Tengah mengganggu jalur distribusi minyak dunia. Situasi tersebut mendorong sejumlah negara mengambil langkah darurat untuk menekan konsumsi energi dan menjaga pasokan bahan bakar tetap aman.
Gangguan distribusi minyak terutama terjadi di kawasan Selat Hormuz yang menjadi salah satu jalur utama perdagangan minyak dunia. Pembatasan pelayaran di wilayah tersebut berdampak langsung terhadap pasokan energi global dan memicu kenaikan harga minyak internasional.
Beberapa negara Asia mulai menerapkan kebijakan penghematan energi secara besar-besaran pada Rabu, 13 Mei 2026. Thailand misalnya, mendorong masyarakat untuk bekerja dari rumah atau work from home (WFH), mengurangi penggunaan kendaraan pribadi, serta menghemat konsumsi listrik.
Sementara itu, Bangladesh mengambil langkah dengan menutup sementara sekolah dan kampus guna mengurangi penggunaan energi nasional.
Di sisi lain, Sri Lanka mulai membatasi pembelian bahan bakar minyak (BBM) demi menjaga ketersediaan pasokan dalam negeri. Adapun Jepang dan Korea Selatan memilih mencairkan cadangan minyak strategis mereka untuk menjaga stabilitas energi nasional.
Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies, Bhima Yudhistira, mengingatkan bahwa banyak negara kini mulai bersiap menghadapi kemungkinan terburuk akibat ancaman krisis energi global.
Ia menilai kesiapan cadangan energi menjadi faktor penting dalam menghadapi ketidakpastian pasokan energi dunia.
“Jepang punya cadangan hingga 254 hari,” ujar Bhima saat membandingkan kesiapan sejumlah negara menghadapi ancaman krisis energi.
Di tengah situasi tersebut, Indonesia dinilai masih memiliki ketahanan energi yang relatif lebih baik dibanding sejumlah negara lain. Laporan JPMorgan Chase menyebut Indonesia masuk dalam kelompok negara dengan ketahanan energi cukup kuat karena tingkat ketergantungan impor energinya lebih rendah.
Meski demikian, pemerintah tetap perlu mewaspadai potensi lonjakan harga minyak dunia apabila konflik geopolitik terus memanas dan distribusi energi global belum kembali normal.
Jika situasi di Timur Tengah terus memburuk, lebih banyak negara diperkirakan akan menerapkan kebijakan penghematan energi secara ketat guna mencegah krisis yang lebih besar. (*)
