Indonesia Masih Impor Jahe Meski Jadi Negara Penghasil, Ini Penyebab Utamanya

15 Juli 2026 18:40 15 Jul 2026 18:40

Thumbnail Indonesia Masih Impor Jahe Meski Jadi Negara Penghasil, Ini Penyebab Utamanya

Komoditas jahe. (Foto: Husni Habib/Ketik.co.id)

KETIK, BOGOR – Indonesia dikenal sebagai salah satu negara penghasil rempah, termasuk jahe. Namun, di balik potensi tersebut, impor jahe masih terus dilakukan untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. Kondisi ini bukan semata-mata disebabkan oleh rendahnya produksi nasional, tetapi juga dipengaruhi berbagai faktor dalam sistem agribisnis dan rantai pasok.

Dosen Departemen Agribisnis IPB University, Dr Anisa Dwi Utami, menjelaskan bahwa besarnya potensi produksi jahe nasional belum otomatis mampu memenuhi seluruh kebutuhan pasar secara berkelanjutan. Menurutnya, terdapat sejumlah kendala yang membuat impor masih diperlukan, terutama untuk memenuhi kebutuhan industri.

"Jahe merupakan komoditas hortikultura strategis yang berperan sebagai bahan pangan, rempah, hingga bahan baku industri obat tradisional dan minuman herbal. Karena itu, ketersediaan pasokan harus tetap terjaga," ujarnya, seperti dikutip dari laman resmi IPB, Rabu, 15 Juli 2026. 

Dr Anisa menerangkan, salah satu penyebab utama impor masih berlangsung adalah adanya kesenjangan antara waktu panen dengan kebutuhan pasar yang berlangsung sepanjang tahun. Produksi jahe dalam negeri belum mampu menyediakan pasokan secara stabil dari waktu ke waktu.

Selain persoalan musim panen, industri juga membutuhkan jahe dengan spesifikasi kualitas tertentu yang belum selalu dapat dipenuhi secara konsisten oleh produksi domestik. Faktor kontinuitas pasokan menjadi pertimbangan penting karena industri membutuhkan bahan baku dalam jumlah besar dan tersedia tanpa terputus.

Karena itu, impor dilakukan untuk menutup kekurangan pasokan sekaligus memenuhi standar mutu yang dibutuhkan sektor pengolahan. Dengan kata lain, impor bukan semata karena Indonesia kekurangan jahe, melainkan juga untuk menjaga kesinambungan produksi industri.

Menurut Dr Anisa, persoalan tersebut menunjukkan bahwa tantangan utama agribisnis jahe tidak hanya terletak pada peningkatan produksi, tetapi juga pada kemampuan menyediakan pasokan yang stabil, berkualitas, dan sesuai kebutuhan pasar.

Ke depan, penguatan sistem produksi dan distribusi menjadi kunci agar ketergantungan terhadap impor dapat terus ditekan tanpa mengganggu kebutuhan industri maupun masyarakat.

Sebelumnya, data Badan Pusat Statistik (BPS) juga mencatat produksi jahe nasional turun dari 190,26 ribu ton pada 2024 menjadi 168,97 ribu ton pada 2025, disertai penyusutan luas panen. Kondisi tersebut semakin memperbesar tantangan dalam menjaga keseimbangan pasokan di dalam negeri.

Di sisi lain, Dr Anisa menilai solusi jangka panjang tidak cukup hanya dengan membatasi impor. Penguatan kelembagaan petani, pengembangan kawasan sentra jahe, serta kemitraan yang lebih erat dengan industri perlu dipercepat agar sistem agribisnis jahe nasional menjadi lebih efisien, produktif, dan berdaya saing. (*)

Tombol Google News

Tags:

Impor Jahe Indonesia Kebutuhan Industri Jahe Pasokan Jahe Kualitas Jahe Produksi Jahe Nasional Agribisnis Jahe IPB University