KETIK, SURABAYA – Balai Besar Kekarantinaan Kesehatan (BBKK) Surabaya memperketat pengawasan di pelabuhan dan bandara guna mencegah penyebaran hantavirus.
Kepala BBKK Surabaya, Rosidi Roslan, menjelaskan, pengetatan ini sudah mulai dilakukan usai adanya instruksi dari Direktorat Jenderal Penanggulangan Penyakit.
"Pengawasan ini dilakukan di pelabuhan maupun di bandara. Di pelabuhan, kapal-kapal pasti kami periksa sanitasinya, termasuk keberadaan tikus," katanya pada Rabu, 13 Mei 2026.
Penularan hantavirus diketahui berasal dari tikus. Karena itu, keberadaan tikus menjadi salah satu indikator yang dipantau BBKK Surabaya.
"Tikus merupakan indikator kebersihan lingkungan yang kurang baik, jika ada satu tikus, biasanya ada gerombolannya yang membuat sarang dan menjadi pemicu risiko virus," ungkapnya.
Salah satu lokasi yang berpotensi menjadi tempat penyebaran hantavirus adalah pelabuhan. Rosidi mengungkapkan, pelabuhan merupakan salah satu kawasan tersibuk karena dipadati aktivitas kapal, kendaraan, dan masyarakat setiap harinya.
"Pelabuhan adalah pintu masuk negara yang memiliki faktor utama karena faktor kelembapan. Kapal-kapal yang datang, baik kapal besar, kapal pesiar, maupun lokal atau feri," jelasnya.
Tim dari BBKK Surabaya, jelasnya, sudah rutin melakukan pengecekan terhadap kapal-kapal yang bersandar di pelabuhan. Pengecekan dilakukan secara menyeluruh, tujuannya memastikan kebersihan tetap terjaga, sehingga terhindar dari hantavirus.
"Apabila ada masalah, kapal harus segera 'disehatkan' melalui proses fumigasi dan sebagainya," katanya.
Sementara itu, bandara juga menjadi salah satu tempat yang dipantau kebersihannya. Sejumlah sudut-sudut ruangan di bandara juga tak luput dari pantauan.
"Seperti ruang logistik, penyimpanan yang gelap dan jarang dibersihkan, seperti ruang-ruang kosong dengan sanitasi buruk. Tikus adalah reservoir utama virus ini," bebernya.
Selain itu, Rosidi mengatakan pihak bandara juga menyiapkan kamera thermal untuk memantau suhu tubuh penumpang yang baru turun dari pesawat.
"Kalau ada penumpang dari luar negeri, kami pantau menggunakan thermal scanner. Jadi ada penumpang dari wilayah endemia dengan suhu tubuh tinggi akan kami bawa ke klinik," pungkasnya. (*)
