KETIK, BATU – Apel yang selama puluhan tahun menjadi identitas Kota Batu kini menghadapi berbagai tantangan. Mulai dari produktivitas tanaman yang terus menurun, perubahan iklim, hingga gempuran buah impor.
Menjawab kondisi tersebut, Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (Distan KP) Kota Batu memperkuat program revitalisasi kebun apel, peremajaan tanaman, serta pengembangan varietas unggul agar komoditas andalan daerah tetap mampu bersaing.
Kepala Bidang Pertanian Distan KP Kota Batu, Endrayoni, mengatakan apel masih menjadi komoditas yang memiliki nilai strategis karena memberikan dampak ekonomi yang luas bagi berbagai sektor.
Menurutnya, keberadaan apel tidak hanya menopang pendapatan petani, tetapi juga menjadi penggerak sektor pariwisata, UMKM, industri pengolahan hasil pertanian, hingga desa wisata.
“Apel masih menjadi komoditas strategis karena memiliki dampak ekonomi yang luas. Wisatawan yang datang ke Kota Batu bukan hanya membeli buah apel, tetapi juga ingin melihat kebun apel, proses budidaya, penanganan penyakit tanaman, hingga berbagai produk olahannya,” ujarnya, Senin, 6 Juli 2026.
Untuk menjaga keberlanjutan komoditas tersebut, pemerintah daerah saat ini memprioritaskan program revitalisasi kebun apel. Langkah awal yang dilakukan adalah memperbaiki kualitas lahan yang selama ini mengalami penurunan kandungan bahan organik.
Endrayoni menjelaskan, sebagian besar lahan apel di Kota Batu memiliki kandungan bahan organik kurang dari dua persen, padahal kondisi ideal berada pada kisaran lima hingga enam persen.
Karena itu, petani didorong memanfaatkan pupuk organik, mikroba hayati, dan pestisida hayati agar struktur tanah kembali sehat sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap bahan kimia.
“Pemberian pupuk kimia saja tidak cukup apabila kondisi tanah sudah mengalami kerusakan. Karena itu, perbaikan kualitas tanah menjadi fokus utama revitalisasi apel,” katanya.
Selain memperbaiki lahan, Distan KP juga menjalin kerja sama dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) untuk mengembangkan varietas apel yang lebih adaptif terhadap perubahan iklim serta memiliki ketahanan lebih baik terhadap serangan hama dan penyakit.
Di sisi lain, pemerintah juga menjalankan program peremajaan tanaman mengingat mayoritas pohon apel di Kota Batu telah berusia antara 20 hingga 30 tahun sehingga produktivitasnya terus menurun.
Penanaman bibit baru telah dimulai dan akan dilanjutkan secara bertahap dalam beberapa tahun mendatang.
Persoalan pemasaran juga menjadi perhatian pemerintah daerah. Masuknya apel impor serta fluktuasi harga membuat posisi petani semakin tertekan.
Endrayoni menyebut harga jual minimal agar petani tidak mengalami kerugian berada di kisaran Rp8.000 per kilogram.
“Kami berharap ada dukungan dari perangkat daerah lain maupun BUMD untuk membantu menjaga stabilitas harga serta membuka kemitraan pemasaran dengan berbagai daerah,” ujarnya.
Ia juga mengusulkan adanya regulasi berupa Peraturan Wali Kota yang mendorong hotel, restoran, hingga pelaku usaha kuliner di Kota Batu menggunakan apel lokal sebagai bahan baku produk mereka.
Langkah tersebut dinilai dapat meningkatkan penyerapan hasil panen sekaligus memperkuat pasar bagi petani.
Sementara itu, Distan KP turut memberikan apresiasi terhadap munculnya varietas apel baru bernama Golden Analagi yang dikembangkan oleh petani di Kota Batu.
Tim teknis telah melakukan peninjauan lapangan dan menilai varietas tersebut memiliki tampilan buah yang menarik serta cita rasa yang baik.
Namun demikian, Endrayoni menegaskan varietas tersebut masih harus melewati serangkaian pengujian sebelum dapat ditetapkan sebagai varietas resmi.
“Jika seluruh persyaratan terpenuhi, Golden Analagi dapat didaftarkan ke Pusat Perlindungan Varietas Tanaman dan Perizinan Pertanian Kementerian Pertanian untuk memperoleh status pelepasan varietas,” jelasnya.
Sebagai bagian dari upaya menjaga identitas komoditas unggulan daerah, Pemerintah Kota Batu juga tengah mengajukan sertifikasi Indikasi Geografis (IG) untuk apel Kota Batu.
Sertifikasi tersebut diharapkan mampu memberikan perlindungan hukum sekaligus meningkatkan daya saing apel lokal di pasar nasional maupun internasional. (*)
.png)