Rembuk Lingkungan Libatkan Industri, Patroli Air Ubah Strategi Pengawasan Kali Surabaya

19 Juni 2026 12:55 19 Jun 2026 12:55

Simon Naldi E., Mustopa

Redaksi Ketik.com
Thumbnail Rembuk Lingkungan Libatkan Industri, Patroli Air Ubah Strategi Pengawasan Kali Surabaya

Tim Patroli Air Provinsi Jawa Timur kini merangkul sektor industri di sepanjang bantaran Kali Surabaya melalui program Rembuk Lingkungan. Pendekatan baru ini menggeser paradigma dari sekadar pengawasan menjadi kemitraan strategis guna membangun kepedulian bersama dalam menjaga kelestarian salah satu sumber air baku utama di Jawa Timur. (Foto : Kominfo Jatim)

KETIK, SURABAYA – Melalui program Rembuk Lingkungan, Tim Patroli Air Provinsi Jawa Timur mengubah pendekatan dalam menjaga kualitas Daerah Aliran Sungai (DAS) Kali Surabaya.

Penjagaan kelestarian sumber air tersebut kini dilakukan dengan melibatkan pelaku usaha dan industri di sepanjang bantaran sungai, tidak lagi hanya menggandeng masyarakat serta komunitas.

Imam Rochani selaku Koordinator Tim Patroli Air Jawa Timur menyebut keterlibatan sektor industri sebagai terobosan baru untuk pengawasan dan pelestarian sungai, menggeser fokus yang selama ini lebih banyak bertumpu pada pendekatan kepada masyarakat.

"Biasanya rembuk lingkungan dilakukan bersama masyarakat atau komunitas tambangan. Sekarang kami mulai mengajak pelaku industri untuk duduk bersama. Tujuannya membangun kepedulian dan rasa memiliki terhadap kelestarian Kali Surabaya karena sungai ini merupakan sumber kehidupan bagi masyarakat," ujarnya dalam keterangan tertulis Jumat, 19 Juni 2026.

Imam menyatakan bahwa pendekatan tersebut tidak berhenti pada forum diskusi, melainkan diwujudkan melalui aksi nyata di lapangan dengan melibatkan pihak manajemen hingga karyawan perusahaan.

Kegiatan yang direncanakan meliputi penanaman pohon di bantaran sungai dan ekspedisi Kali Surabaya bersama pelaku industri untuk meninjau langsung kondisi air. Program ini juga mendorong perusahaan melakukan pembiayaan mandiri dalam upaya pemulihan lingkungan di sekitar wilayah operasionalnya.

Penegasan mengenai perubahan paradigma pengawasan terhadap dunia usaha ditunjukkan melalui reposisi Tim Patroli Air. Tim tidak lagi sekadar melakukan pengawasan, melainkan bertindak sebagai mitra yang mengedepankan dialog dan kolaborasi dalam menjaga lingkungan.

"Kami ingin perusahaan merasa menjadi bagian dari solusi. Dengan pendekatan yang kolaboratif, perusahaan memiliki ruang untuk terbuka dan terus meningkatkan kepatuhan terhadap pengelolaan lingkungan," katanya.

Menurut Imam, langkah ini krusial mengingat status Kali Surabaya sebagai salah satu sumber air baku utama. Keberadaan sungai tersebut tidak hanya memenuhi kebutuhan harian masyarakat, tetapi juga menjadi penopang bagi jalannya aktivitas ekonomi.

Perum Jasa Tirta (PJT) I memastikan ketersediaan air di wilayah Sungai Brantas berada dalam kondisi aman. Kepastian pasokan ini diberikan sebagai langkah antisipasi terhadap potensi dampak musim kemarau akibat fenomena El Nino.

Kepala Sub Divisi Pengelolaan Sumber Daya Air Wilayah Sungai Brantas III PJT I, Ariet Setiawan, mengatakan pasokan air dari wilayah hulu masih sesuai dengan pola operasi waduk sehingga diperkirakan mampu memenuhi kebutuhan hingga akhir tahun. "Untuk ketersediaan air di hulu saat ini masih sesuai pola, artinya pasokan masih cukup hingga akhir tahun," ujarnya.

Antisipasi terhadap potensi kekeringan ekstrem tetap disiapkan PJT I merujuk pada pengalaman tahun 2018. Jika kondisi tersebut berulang, distribusi aliran air akan diprioritaskan utama untuk kebutuhan air minum masyarakat serta sektor irigasi pertanian.

Pengawasan kualitas air Kali Surabaya konsisten dilakukan PJT I melalui uji laboratorium terhadap sampel berkala. Bersamaan dengan itu, forum Rembuk Lingkungan dimanfaatkan untuk mendorong kepatuhan industri terhadap baku mutu limbah serta kecepatan respons atas indikasi pencemaran.

Kepatuhan perusahaan dalam kepemilikan izin pemanfaatan air permukaan menjadi poin penting yang ditekankan oleh Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Brantas dalam pengawasan tata kelola air.

Dimas, Ketua Pelaksanaan Urusan Perizinan Pemanfaatan dan Rekomendasi Teknis BBWS Brantas, menegaskan kewajiban perusahaan pemegang izin untuk melaporkan volume pengambilan air secara berkala. Data ini menjadi instrumen penting bagi pemantauan dan pengelolaan sumber daya air, terutama di tengah situasi musim kemarau.

"Perusahaan yang sudah berizin memiliki kewajiban menyampaikan laporan berkala sehingga penggunaan air dapat dikendalikan. Tantangan terbesar justru berasal dari perusahaan yang belum memiliki izin karena pengambilan airnya sulit dipantau," ujarnya.

Dimas menjelaskan, peningkatan kekeringan akibat El Nino akan memicu pemberlakuan pembatasan pengambilan air bagi industri lewat Rencana Alokasi Air Tahunan (RAAT). Langkah ini diambil untuk memastikan pasokan air baku masyarakat dan irigasi pertanian tetap terpenuhi tanpa pengurangan.

Ia mengimbau masyarakat dan pelaku usaha di sepanjang Kali Surabaya untuk bijaksana dalam menggunakan air serta bergotong royong menjaga kualitas aliran sungai sebagai sumber kehidupan utama.

Tim Patroli Air Jawa Timur optimistis kolaborasi bersama pemerintah, komunitas, dan dunia usaha akan membuat pengendalian pencemaran Kali Surabaya lebih efektif, sekaligus memperkuat kepatuhan lingkungan sektor industri secara jangka panjang.(*)

Tombol Google News

Tags:

Kali Surabaya Rembuk Lingkungan Pencemaran Air Sektor Industri