Kadin Jatim dan Swisscontact Cetak Fasilitator JOA Demi Pangkas Pengangguran SMK

4 Juli 2026 14:05 4 Jul 2026 14:05

Simon Naldi E., Rahmat Rifadin

Redaksi Ketik.com
Thumbnail Kadin Jatim dan Swisscontact Cetak Fasilitator JOA Demi Pangkas Pengangguran SMK

Ketua Umum Kadin Jatim Adik Dwi Putranto saat menutup pelatihan fasilitator JOA bersama Swisscontact demi sinkronisasi kurikulum vokasi dan industri.(Foto: Humas Kadin Jatim)

KETIK, SURABAYA – Demi memangkas kesenjangan antara kompetensi lulusan sekolah vokasi dan kebutuhan nyata dunia kerja, Swiss Foundation for Technical Cooperation (Swisscontact) berkolaborasi dengan Kadin Jawa Timur dan Kadin Institute mencetak para fasilitator ahli Job and Occupational Analysis (JOA) melalui Pelatihan Industry Based Curriculum (IBC).

Langkah strategis ini dirancang agar penyusunan kurikulum pendidikan vokasi kedepannya benar-benar berbasis pada analisis riil kebutuhan industri, sehingga mampu melahirkan lulusan yang siap pakai, relevan, dan adaptif terhadap dinamika dunia kerja. Kegiatan intensif yang berpusat di Surabaya ini berlangsung dari tanggal 29 Juni hingga resmi ditutup pada Jumat, 3 Juli 2026.

Pelatihan pembentukan fasilitator Job and Occupational Analysis (JOA) ini menjadi langkah awal strategis untuk mencetak tenaga ahli yang mampu membedah suatu profesi secara mendalam. Para fasilitator ini dilatih secara khusus untuk menguliti anatomi sebuah pekerjaan, guna memetakan kebutuhan riil di lapangan secara akurat.

 Langkah krusial ini mencakup analisis komprehensif terhadap tugas dan tanggung jawab pekerjaan, kompetensi esensial yang dibutuhkan, tren pekerjaan di masa depan (future trend), persyaratan dasar (basic requirement), hingga berbagai informasi lain yang berkaitan dengan kompetensi pekerja.

Senior Program Officer VET Development Swisscontact, Ilham Hasbiullah, mengatakan para fasilitator ini memiliki peran krusial dalam menghasilkan dokumen analisis okupasi. Dokumen inilah yang nantinya menjadi landasan utama dalam menyusun kurikulum pendidikan vokasi yang tepat sasaran.

"Fasilitator nanti akan mampu mengembangkan analisis tentang sebuah okupasi yang menyangkut tugas dan tanggung jawab pekerjaan, kompetensi yang dibutuhkan, tren pekerjaan di masa depan, basic requirement, hingga berbagai informasi lain yang berkaitan dengan kompetensi seorang pekerja," ujar Ilham, Surabaya, pada Jumat,3 juli 2026.

Ia menambahkan, hasil analisis Job and Occupational Analysis ini akan menjadi rujukan utama dalam menyusun kurikulum di berbagai jenjang, mulai dari SMK, perguruan tinggi, hingga lembaga pelatihan kerja. Langkah ini memastikan materi pembelajaran benar-benar dirancang berdasarkan kompetensi nyata yang dibutuhkan oleh dunia industri.

Ilham menjelaskan bahwa selama ini penyusunan kurikulum umumnya masih dimulai dari pihak institusi pendidikan baru kemudian diverifikasi oleh industri. Pola konvensional inilah yang dinilai menjadi pemicu utama terjadinya kesenjangan kompetensi atau skill mismatch antara lulusan sekolah dengan kebutuhan nyata di dunia kerja.

"Kalau kita ingin mengurangi skill mismatch, maka prosesnya harus dibalik. Analisis pekerjaan dilakukan terlebih dahulu di industri, baru hasilnya diterjemahkan menjadi kurikulum. Jadi kurikulum benar-benar lahir dari kebutuhan industri, bukan sebaliknya," katanya.

Melalui pendekatan ini, kesenjangan kompetensi yang memicu tingginya pengangguran lulusan SMK diharapkan terkikis. Namun, Ilham menekankan bahwa kurikulum bukan satu-satunya kambing hitam; ada banyak faktor lain di luar sekolah yang turut memengaruhi angka pengangguran.

Tak sekadar jadi fondasi kurikulum, hasil JOA ini bakal memetakan porsi belajar antara sekolah dan industri secara presisi. Nantinya, ada garis tegas yang memisahkan mana teori yang cukup dituntaskan di kelas, dan mana keahlian yang wajib diasah lewat praktik langsung di lapangan.

"Melalui JOA kita juga bisa menentukan kompetensi mana yang cukup diajarkan di sekolah dan kompetensi mana yang harus dipelajari langsung di industri. Ini akan memperkuat implementasi sistem pembelajaran ganda atau dual system," jelasnya.

Sebanyak 10 calon fasilitator dari lintas sektor industri, perguruan tinggi, hingga pemerintah diterjunkan dalam pelatihan ini. Selama lima hari penuh, mereka digembleng dengan menu lengkap: mulai dari teori metode Job and Occupational Analysis (JOA), trik mengorek informasi dari pakar industri, menyusun laporan analisis, hingga simulasi langsung bertindak sebagai fasilitator dan panelis.

Ilham mengungkapkan bahwa tim pelaksana sejauh ini telah menuntaskan sekitar 80 analisis JOA di berbagai sektor, berkolaborasi dengan Kementerian Perindustrian serta sejumlah mitra strategis. Menariknya, pelatihan bersama Kadin Jawa Timur ini mencetak sejarah sebagai yang pertama kali digelar di lingkungan Kadin, sekaligus menjadi batu loncatan untuk memperluas taji metode JOA di luar institusi pendidikan.

Lulus dari kelas teori bukan akhir dari segalanya. Para peserta justru baru akan memulai ujian sesungguhnya: terjun langsung ke lapangan untuk mempraktikkan Job and Occupational Analysis bersama para praktisi senior. Lewat praktik langsung di dunia industri ini, taji dan kompetensi mereka sebagai fasilitator andal bakal benar-benar diuji.

"Kami berharap ke depan setiap penyusunan kurikulum pendidikan vokasi diawali dengan Job and Occupational Analysis. Dengan begitu, kurikulum benar-benar bersifat demand driven, sesuai kebutuhan industri, sehingga lulusan memiliki kompetensi yang relevan dan lebih siap memasuki dunia kerja," tukas Ilham.

Sementara itu, Ketua Umum Kadin Jawa Timur, Adik Dwi Putranto, menegaskan bahwa para peserta terutama dari internal Kadin Jatim bakal memegang misi penting. Mereka akan diterjunkan untuk menjembatani industri dengan pihak sekolah, perguruan tinggi, hingga politeknik. Tujuannya satu: memastikan kurikulum yang disusun benar-benar sinkron dan selaras dengan kebutuhan nyata dunia usaha.

"Kebutuhan industri, terutama di bidang teknologi informasi, berkembang sangat cepat, sementara perubahan kurikulum membutuhkan waktu yang panjang. Karena itu, pendampingan melalui fasilitator JOA menjadi jalan tengah agar kurikulum tetap relevan dengan perkembangan industri," ujar Adik.

Menurutnya, harmonisasi kurikulum ini akan menghadirkan keuntungan timbal balik bagi dunia pendidikan sekaligus industri. Lulusan diproyeksikan memiliki keahlian yang tepat sasaran sesuai standar perusahaan. Di sisi lain, program magang juga bakal berjalan jauh lebih efektif karena materi di bangku sekolah dan kuliah sudah seirama dengan kebutuhan nyata di lapangan kerja.

"Melalui Kadin Institute, kami akan mengajarkan bagaimana melakukan harmonisasi kurikulum kepada industri. Di sisi lain, guru dan dosen juga akan kami dampingi agar memiliki pemahaman yang sama dalam menyusun kurikulum berbasis kebutuhan industri," katanya.

Adik mematok target tiap fasilitator mampu mengawal minimal 10 perusahaan beserta mitra pendidikannya. Berbekal 10 fasilitator dari angkatan perdana ini, Kadin Jatim optimistis program ini sanggup menyentuh sekitar 100 industri pada fase awal, sebelum akhirnya diekspansi secara masif ke seluruh wilayah Jawa Timur.

"Kami juga akan membekali Kadin kabupaten dan kota agar memiliki kemampuan yang sama. Harapannya, semakin banyak industri yang dapat didampingi sehingga semakin banyak pula sekolah dan perguruan tinggi yang memiliki kurikulum sesuai kebutuhan dunia kerja," pungkasnya.(*)

Tombol Google News

Tags:

Kadin Jatim kurikulum vokasi Pendidikan Vokasi Pengangguran Smk Dunia Industri