KETIK, MALANG – Tidak pernah terlintas di benak Prof. Dr. Dyah Sawitri, S.E., M.M dipercaya memimpin Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) Wilayah VII Jawa Timur. Pencapaian ini terbilang sangat istimewa, lantaran ia menjadi perempuan pertama dari Perguruan Tinggi Swasta (PTS) dipercaya menduduki posisi strategis tersebut.
Perjalanan karir perempuan kelahiran Trenggalek tahun 1967 ini terbilang inspiratif. Sebelumnya, ia pernah bekerja sebagai tenaga honorer di lingkungan Dinas Kebersihan Pemkot Malang.
Dedikasinya di dunia akademis dimulai saat ia menjadi dosen pengampu mata kuliah Statistika di Universitas Gajayana (Uniga) Malang. Setelah itu, dipercaya menjadi Rektor di kampus tersebut selama dua periode yakni 2016-2022 dan 2020-2024.
Diketahui, LLDIKTI merupakan transformasi dari Koordinasi Perguruan Tinggi Swasta (Kopertis) yang dahulu mengkoordinasikan perguruan tinggi swasta di wilayah kerja. Kini, LLDIKTI mempunyai tugas membantu peningkatan mutu penyelenggaraan pendidikan tinggi baik perguruan tinggi negeri maupun perguruan tinggi swasta di wilayah.
Kini, pihaknya mendorong seluruh perguruan tinggi untuk tidak sekedar mencetak lulusan semata, melainkan juga menjadi agen perubahan. Lewat berbagai program strategis seperti Kakak Tangguh, kampus-kampus di Jawa Timur dituntut untuk memberikan kontribusi dan dampak nyata yang dapat dirasakan langsung oleh masyarakat.
Diketahui, Kakak Tangguh merupakan konsep penguatan peran perguruan tinggi melalui pemetaan wilayah dan kebutuhan masyarakat. Sehingga kampus tidak hanya menjadi pusat pendidikan, tetapi juga motor penggerak pembangunan daerah.
Untuk mendukung implementasi program tersebut, LLDIKTI Wilayah VII membagi Jawa Timur ke dalam sejumlah kawasan pengembangan. Yaitu Pantura, Arek, Mataraman, serta Pesisir dan karakteristik masing-masing wilayah menjadi kekuatan tersendiri dalam menerapkan program Kakak Tangguh.
Bagi Prof Dyah, keberhasilan perguruan tinggi tidak hanya diukur dari jumlah lulusan. Melainkan, juga dampak nyata yang telah dihasilkannya.
Ia menilai kampus memiliki tiga indikator utama. Yaitu kesiapan kerja terkait seberapa siap lulusan langsung terserap di dunia kerja dan industri, lalu kemandirian ekonomi terkait kemampuan lulusan dalam menciptakan lapangan kerja baru, dan kontribusi nyata berupa seberapa besar dampak positif yang diberikan lulusan perguruan tinggi bagi masyarakat, bangsa, dan negara.
Lewat program Kakak Tangguh, maka di tahun 2026 ini ia berupaya mewujudkan tiga indikator utama tersebut kepada perguruan tinggi di Jawa Timur. (*)
