KETIK, TULUNGAGUNG – Plt. Bupati Tulungagung, Ahmad Baharudin, S.M., M.M., menghadiri ritual adat Labuh Massal yang diinisiasi oleh Kelompok Tani Angker di Desa Dukuh, Kecamatan Gondang, pada Senin pagi, 1 Juni 2026.
Agenda budaya yang menjadi simbol ungkapan syukur atas melimpahnya hasil bumi ini turut diikuti oleh jajaran dinas terkait, unsur Forkopimcam, serta warga setempat.
Sejumlah pejabat turut mendampingi Plt. Bupati dalam kegiatan tersebut. Mereka di antaranya Kepala Dinas Pertanian Drs. Suyanto, M.M., Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Muhammad Ardian Candra, S.STP., Camat Gondang Endra Kusriawan, S.STP., M.Si., Danramil Gondang, Kapolsek Gondang, Kepala Desa Dukuh, Ketua BPD Dukuh, Koordinator BPP, Kepala UPT Pengairan Gondang, para formulator, serta kelompok tani setempat.
Dalam pidatonya, Ahmad Baharudin memberikan apresiasi tinggi terhadap kelestarian tradisi ini. Menurutnya, Labuh Massal bukan sekadar formalitas, melainkan ritual turun-temurun yang sarat makna spiritual.
“Labuh Massal merupakan ritual adat petani untuk berterima kasih kepada Tuhan Yang Maha Esa atas berkah panen padi yang melimpah. Tradisi ini sudah mengakar kuat dalam identitas budaya masyarakat Tulungagung,” tutur Ahmad Baharudin.
Pada kesempatan yang sama, ia memaparkan performa impresif sektor pertanian Tulungagung sepanjang tahun 2025. Dari lahan panen seluas 45.966 hektare, Tulungagung sukses memproduksi 319.969,33 ton gabah kering panen (GKP) atau setara dengan 185.582,21 ton beras.
Dengan jumlah penduduk sekitar 1,1 juta jiwa yang membutuhkan konsumsi beras sebesar 90.944 ton per tahun, Tulungagung berhasil mencatatkan surplus beras mencapai 94.638,08 ton. Keberhasilan ini memperkokoh posisi Tulungagung sebagai salah satu lumbung pangan utama di Jawa Timur.
Kendati menorehkan prestasi, Plt. Bupati mengingatkan bahwa sektor pertanian masih dibayangi berbagai tantangan serius. Mulai dari fenomena alih fungsi lahan, penurunan kesuburan tanah, dampak perubahan iklim, keterbatasan infrastruktur, serangan hama (OPT), pasokan sarana produksi, hingga perlunya akselerasi teknologi di kalangan petani.
Di samping itu, minimnya ketertarikan generasi muda untuk bertani juga menjadi persoalan krusial. Hal yang tidak kalah penting adalah manajemen pengairan di tahun ini. Menghadapi prediksi cuaca dari BMKG, efisiensi air menjadi kunci utama.
“Isu ketersediaan air memerlukan perhatian serius. Berdasarkan proyeksi BMKG untuk tahun 2026, kita akan melewati musim kemarau yang cukup panjang. Karena itu, para petani diharapkan bijak dan efektif dalam mengelola sumber air agar aktivitas pertanian tidak terganggu,” imbuhnya.
Pemerintah daerah berharap momentum Labuh Massal ini dapat memicu motivasi para petani untuk terus mendongkrak produktivitas sekaligus menjaga ketahanan pangan. Kegiatan ini juga menjadi pengingat spiritual bahwa setiap usaha yang dilakukan bermuara pada rida Sang Pencipta.
“Kita wajib menjaga warisan leluhur ini agar terus eksis. Semoga ke depan petani di Tulungagung bisa semakin modern, mandiri, dan berdaya saing, demi mewujudkan daerah yang harmonis, aman, sejahtera, dan terus berkembang,” pungkasnya.
Rangkaian acara Labuh Massal ini diakhiri dengan prosesi tasyakuran dan doa bersama, memperkuat tali silaturahmi sekaligus menutup ritual syukur atas berkah tanah yang subur. (*)
