KETIK, MALANG – Melihat jalan dan trotoar berlubang tidak harus selalu direspons dengan omelan di media sosial. Di Kota Malang, seorang perajin kaca patri bernama Ivan Rachman memilih menyentil kondisi infrastruktur kota lewat karya seni bertajuk Pothole Mosaic.
Dengan tangan terampilnya, ia menyulap lubang-lubang yang merusak pemandangan di kawasan Jalan Semeru menjadi media ekspresi artistik. Berbekal limbah potongan kaca patri dari hasil produksinya dan perajin lokal lain, ia menutupi lubang-lubang tersebut dengan mosaik berwarna-warni.
Konsep Pothole Mosaic sendiri bukanlah hal baru. Istilah ini sudah lebih dulu dikenal di Inggris untuk menyebut karya mosaik yang dibuat pada lubang jalan atau trotoar.
Ivan mengaku sebenarnya terinspirasi dari mendiang seniman Nasirun dengan konsep “zakat kebudayaan”, yaitu bagaimana seorang seniman dapat memberikan kontribusi bagi ekosistem seni, kreativitas, sekaligus lingkungan di sekitarnya.
"Ini sedikit kontribusi untuk lingkungan saya hidup, dibesarkan dan mencari makan yaitu di Kota Malang," jelasnya, Minggu, 6 September 2026.
Salah satu lubang trotoar telah ditambal menggunakan kaca patri berwarna. (Foto: Istimewa)
Untuk menata dan membuat karya mosaik tersebut, ia menggunakan peralatan sederhana seperti tang potong, lem, dan semen. Aktivitas ini ia lakukan di sela-sela kesibukannya mengelola warung kecil dan menerima pesanan kaca patri.
Sejauh ini, dua karya mosaik telah terpasang di badan jalan dan trotoar Jalan Semeru, masing-masing berdiameter 15 sentimeter serta berukuran 10 x 20 sentimeter. Sementara itu, karya ketiga yang sedang dikerjakannya berukuran sekitar 45 x 25 sentimeter.
Karya pertamanya bahkan diberi nama Makobu sebagai sindiran halus, yang memelesetkan julukan bersejarah "Malang Kota Bunga" menjadi "Malang Sejuta Lubang dan Parkir".
Meski demikian, Ivan menerangkan bahwa sejak awal ia tidak secara khusus membuat Pothole Mosaic sebagai bentuk kritik terhadap pemerintah. Ide tersebut murni bermula dari keinginannya untuk mempromosikan sekaligus mengasah kemampuannya di bidang kaca patri dan mosaik.
"Kalau ada pihak atau individu yang menafsirkan ini adalah sebuah kritik tentang perawatan dan pengelolaan kota yang buruk, saya juga tidak mempermasalahkan," terangnya.
Saat ini, Ivan ingin terus membuat Pothole Mosaic di sejumlah titik lain di Kota Malang. Ia berharap karya tersebut tidak hanya menjadi pengingat tentang kondisi fasilitas publik, tetapi juga menghadirkan sedikit keindahan bagi warga yang melintas.
"Semoga bisa konsisten melakukan kreasi ini, terlebih jika hal ini bermanfaat. Agar bisa menghibur pedestrian, di sela semrawutnya fasilitas pejalan kaki tapi masih bisa menemukan keindahan kecil," ungkapnya.
Di sisi lain, ia juga mengajak pelaku industri kreatif di Kota Malang untuk tidak sekadar berkarya dan mencari penghidupan, melainkan turut memberikan kontribusi sosial bagi lingkungan sekitar.
"Kalau bukan dengan aksi warga jaga warga, siapa lagi yang berupaya membuat ruang aman dan nyaman. Apa tidak capek berharap terus dan menuntut kepada pemangku kebijakan," pungkasnya.(*)
