KETIK, TRENGGALEK – DPRD Kabupaten Trenggalek melalui komisi II menggelar rapat kerja bersama Organisasi Perangkat Daerah (OPD) mitra tentang rencana APBD Tahun Anggaran 2027 di Aula Badan Musyawarah (Banmus) setempat, Senin 19 Oktober 2026.
Dalam rapat tersebut, komisi II menyoroti terkait dana pinjaman daerah sebesar Rp11,5 miliar yang dipergunakan untuk pembangunan beberapa destinasi wisata yang ada di Trenggalek. Antara lain, Guwo Lowo, Hutan Kota (HUKO), Pasir Putih dan 360.
"Kami mengingatkan kepada Dinas Pariwisata dan Kebudayaan untuk menghitung dan mengkaji ulang potensi balik modal. Karena dana tersebut merupakan dana pinjaman. Kan wajar jika bertanya kapan balik modalnya," kata Mugianto, Ketua komisi II DPRD Kabupaten Trenggalek.
Politisi senior partai Demokrat itu menyebut, dana pinjaman tersebut tentu ada bunganya, sehingga anggaran Rp5 miliar untuk Guwo Lowo perlu dipertimbangkan. Karena dari perhitungan kaca mata bisnis sepertinya perlu dikaji ulang.
"Akan lebih baik jika difokuskan pada Karanggongso dan Pasir Putih yang pendapatannya lumayan tinggi. Per tahunnya bisa mendapatkan pundi-pundi kurang lebih Rp6 miliar. Jadi tinggal moles dengan inovasi-inovasi yang ada," ujarnya.
Selain Guwo Lowo, ia juga menyentil pembiayaan yang bersumber dari dana pinjaman untuk Huta Kota (HUKO) sebesar Rp1,7 miliar. Karena dianggap belum maksimal dalam menyumbang pendapatan.
"Artinya belum nampak bahwa kedua destinasi wisata tersebut pasca digelontorkan anggaran tersebut mendapat Penghasilan Asli Daerah (PAD) yang menjanjikan dari paparan yang disampaikan oleh Disparbud," ungkapnya.
Ia berharap agar anggaran tersebut ditangguhkan terlebih dahulu dan bisa digunakan untuk yang lebih menjanjikan atau bisa mendapatkan penghasilan. "Kan ini dana pinjaman, jadi harus cermat dalam mengestimasi," tandasnya.
Kemudian, ia menegaskan, dengan adanya suntikan dana segar tersebut pendapatan dari Disparbud idealnya harus ada peningkatan dari Rp9 miliar.
Sehingga kami perlu berhati-hati terhadap potensi mana yang harus kita dorong atau destinasi wisata yang perlu melakukan inovasi agar bisa sumbangsih PAD.
"Kalau memang secara potensi tidak menguntungkan buat apa harus kita poles atau kita bangun terus?," tuturnya.
Ia optimistis jika nantinya penggunaan anggaran tersebut tepat sasaran atau penggunaan pihaknya yakin akan ada kenaikan sebesar 30 persen.
"Maksudnya, jika uang Rp11 miliar tersebut dialokasikan ke destinasi wisata yang bisa mendongkrak dari sisi pendapatan, Insyaallah bisa naik 30 hingga 40 persen," pungkas orang nomor satu partai Demokrat Trenggalek (*).
