KETIK, TRENGGALEK – Komisi IV DPRD Kabupaten Trenggalek bergerak cepat untuk menuntaskan pembahasan Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) APBD Perubahan Tahun Anggaran 2026 bersama Organisasi Perangkat Daerah (OPD) mitra di aula Badan Musyawarah (Bamus) DPRD setempat, Jumat 4 September 2026.
Ketua Komisi IV DPRD Kabupaten Trenggalek, Sukarodin, menjelaskan, ada beberapa kegiatan di OPD yang patut diapresiasi sekaligus menjadi prioritas.
Salah satunya adalah kegiatan yang ada di Dinas Pendidikan, yaitu terkait sekolah tematik di tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP) untuk tahun ajaran baru 2027.
Dimana sekolah tersebut memberi ruang pada siswa yang mempunyai talenta atau bakat. Apakah itu di bidang olahraga, seni atau ilmu pengetahuan.
"Ada beberapa sekolah yang bisa dijadikan sarana untuk mendongkrak talenta-talenta muda berbakat yang ada di Trenggalek," ucapnya.
Politisi senior PKB itu memaparkan, skema sekolah tematik itu terdiri dari, SMP 1 Negeri Trenggalek bidang ilmu pengetahuan, SMP 1 Negeri Watulimo bidang olahraga, SMP 4 Negeri Trenggalek bidang kesenian, dan SMP 6 Trenggalek bidang olahraga.
"Kita ingin sekolah tematik tersebut bisa menjadi daya ungkit pengembangan talenta muda Trenggalek. Paling tidak bisa memberi ruang bagi siswa untuk meraih cita-cita sesuai dengan kemampuan yang dimiliki," ujarnya.
Ia meminta agar ada rasionalisasi anggaran di Dinas Pendidikan untuk sekolah tematik, karena anggaran yang tersedia ada baru untuk SMP 1 Negeri Watulimo.
Asumsinya pada penerimaan siswa baru 2027 sudah ada yang ditawarkan.
"Jadi sekolah bisa menawarkan fasilitas yang dimiliki. Paling tidak bisa menjadi magnet," ungkapnya.
Kemudian, untuk RSUD dr Soedomo, rawat inap yang ada di depan perlu untuk dipertimbangkan supaya naik kelas. Karena, sekarang masih masuk kategori kelas satu.
Kalau melihat fasilitasi dan menjadi favorit masyarakat, maka perlu ditingkatkan dari kelas satu menjadi VIP.
" Harapannya bisa mendongkrak pendapat rumah sakit plat merah tersebut," tuturnya.
Sedangkan untuk Dinas Kesehatan Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Dinkes PPKB), ada empat Puskesmas yang sudah punya lahan untuk dibikinkan mushola, namun anggaranya belum ada maka perlu kiranya pendapat di beberapa Puskesmas dinaikan dan bisa menjadi solusi untuk pembiayaan pembangunan mushola.
"Kan orang sakit tidak cukup hanya ditangani secara medis, tapi perlu juga usaha secara religius atau berdoa agar bisa sinergis dalam proses penyembuhan antara usaha dan doa.
"Insyaallah rasionalisasi dengan peningkatan pendapatan di Puskesmas Slawe dan Munjungan, saya kira bisa untuk mewujudkan pembangunan mushola," pungkas orang nomor satu PKB Trenggalek (*)
