KETIK, JOMBANG – Menjadi perangkat desa bukan satu-satunya sumber penghasilan bagi Mochamad Effendi, 55. Warga Desa Badang, Kecamatan Ngoro, Kabupaten Jombang, ini mampu meraup penghasilan tambahan hingga Rp 5 juta per bulan dari usaha agen BRILink yang dikelolanya di rumah.
Menariknya, penghasilan dari usaha tersebut selama ini cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari keluarganya. Sementara gaji sebagai perangkat desa lebih banyak disisihkan untuk ditabung.
Usaha itu tidak dibangun dalam semalam. Effendi mulai menjadi agen BRILink pada 2016, setelah mendapat tawaran kemitraan dari seorang mantri Bank BRI. Kesempatan tersebut disambutnya karena ia sudah terbiasa melayani kebutuhan transaksi masyarakat melalui Koperasi Unit Desa (KUD) Badang.
“Awalnya saya memang sudah terbiasa melayani masyarakat lewat KUD, jadi ketika ada tawaran untuk jadi agen BRILink, saya tertarik mencobanya,” ujar Effendi kepada media, Sabtu, 17 Oktober 2026.
Sebelum membuka layanan BRILink, Effendi aktif mengelola KUD Badang yang menyediakan layanan pembayaran listrik dan simpan pinjam bagi warga. Pengalaman tersebut menjadi bekal ketika ia mulai menjalankan usaha layanan transaksi perbankan dari rumah.
Pada tahap awal, Effendi melayani pembayaran listrik, transfer uang, tarik tunai, hingga penyetoran angsuran pinjaman Bank BRI. Seiring waktu, layanan tersebut semakin dikenal masyarakat sekitar.
“Awalnya saya hanya coba-coba, tapi setelah dijalani, respons masyarakat ternyata sangat bagus. Saya juga aktif menawarkan ke teman, tetangga, dan saudara,” katanya.
Transaksi Capai 1.000 Kali Sebulan
Ketekunan menawarkan layanan dan menjaga hubungan dengan pelanggan membuat usaha Effendi terus berkembang. Dalam sebulan, ia mengaku dapat melayani sekitar 600 hingga 1.000 transaksi.
Dari setiap transaksi, agen memperoleh imbalan atau fee dengan nominal berbeda, bergantung pada jenis layanan. Effendi menyebut fee pembayaran listrik sekitar Rp 1.150 per transaksi. Adapun transfer sesama BRI menghasilkan fee Rp 2.500, sedangkan transfer ke bank lain sebesar Rp 4.500.
Dari akumulasi transaksi tersebut, Effendi memperkirakan penghasilan bersih yang diperolehnya mencapai Rp 3 juta hingga Rp 5 juta per bulan.
“Kalau dihitung-hitung, penghasilan bersih saya dari BRILink bisa sekitar Rp 3 juta sampai Rp 5 juta per bulan,” ungkapnya.
Besarnya pendapatan itu tidak terlepas dari jumlah transaksi yang dilayani. Dengan rata-rata ratusan transaksi setiap bulan, pendapatan agen terbentuk dari akumulasi fee, bukan dari satu transaksi bernilai besar.
Meski demikian, hasil usaha setiap agen BRILink dapat berbeda. Jumlah pelanggan, lokasi usaha, jenis transaksi, biaya operasional, dan ketentuan fee yang berlaku turut memengaruhi pendapatan.
Dikelola Bersama Keluarga dari Rumah
Salah satu hal yang membuat usaha tersebut relatif mudah dijalankan adalah pemanfaatan rumah sebagai tempat pelayanan. Effendi tidak perlu membuka tempat usaha terpisah. Dalam kegiatan sehari-hari, ia juga dibantu istri dan anaknya secara bergantian.
Pola tersebut membuat pelayanan kepada warga tetap berjalan tanpa harus sepenuhnya bergantung pada satu orang. Masyarakat sekitar pun memiliki pilihan untuk melakukan sejumlah transaksi keuangan tanpa selalu datang langsung ke kantor bank.
“Alhamdulillah, dari BRILink ini sudah cukup untuk kebutuhan harian. Jadi gaji dari perangkat desa bisa ditabung,” ujarnya.
Bagi Effendi, usaha tersebut bukan sekadar sumber tambahan pendapatan. Pengalaman melayani warga sejak mengelola KUD turut membantunya memahami kebutuhan masyarakat terhadap layanan transaksi yang mudah dijangkau.
Kisahnya menunjukkan bahwa peluang usaha dapat tumbuh dari kebutuhan sehari-hari di lingkungan sekitar. Namun, keberhasilan itu tetap membutuhkan ketekunan, kepercayaan pelanggan, dan pengelolaan usaha yang cermat.
Bagi masyarakat yang tertarik mengikuti jejaknya, menjadi agen BRILink dapat dipertimbangkan sebagai peluang usaha layanan keuangan. Calon agen perlu mempelajari persyaratan kemitraan dari BRI, memperhitungkan kebutuhan modal dan biaya operasional, serta memahami risiko transaksi sebelum memulai usaha.
Pengalaman Effendi di Desa Badang menjadi gambaran bahwa usaha yang berangkat dari rumah pun dapat berkembang ketika mampu menjawab kebutuhan masyarakat.(*)
