KETIK, MALANG – Jelang memasuki musim kemarau 2026, warga Kota Malang patut berhati-hati terhadap ancaman bencana kebakaran. Berdasarkan data kejadian sepanjang tahun 2025 lalu, kasus kebakaran di Kota Malang tercatat mencapai 118 kejadian dan tersebar di lima kecamatan.
Dari jumlah tersebut, penyebab yang paling dominan berasal dari korsleting listrik dan menyumbang setengah dari total kasus. Diketahui, korsleting terjadi akibat sambungan listrik yang longgar atau kelebihan beban maupun adanya kabel yang terkelupas.
Kepala UPT Pemadam Kebakaran (Damkar) Kota Malang, Pandu Rizki Darmawan, mengatakan, dari jumlah kejadian sepanjang 2025, Kecamatan Lowokwaru menjadi wilayah dengan angka kejadian kebakaran tertinggi yaitu sebanyak 30 kasus atau menyumbang 25,4 persen dari total keseluruhan.
"Kemudian, disusul Kecamatan Kedungkandang sebanyak 26 kasus dengan persentase 22 persen, Kecamatan Sukun 24 kasus atau 20,3 persen serta Kecamatan Klojen dan Blimbing masing-masing 19 kasus atau 16,1 persen," ujarnya kepada Ketik.com, Minggu, 26 April 2026.
Apabila dilihat dari lokasi kebakaran, Pandu mengungkapkan, mayoritas terjadi di kawasan permukiman atau rumah warga dengan 45 kasus atau 38,1 persen. Selain itu, kebakaran juga kerap terjadi pada instalasi listrik seperti gardu PLN sebanyak 19 kasus.
"Di samping itu, kami juga menangani beberapa kasus seperti di kawasan pertokoan atau ruko dengan jumlah 12 kasus maupun kejadian kebakaran di kawasan terbuka atau lahan kosong yang mencapai 15 kasus," ungkapnya.
Sedangkan untuk beberapa kejadian lain, menimpa bangunan restoran maupun kendaraan. Dari sisi penyebab, korsleting listrik menjadi faktor utama dengan 59 kejadian atau 50 persen.
Selain itu, kebocoran saluran elpiji menyumbang 16 kasus disusul kelalaian atau human error sebanyak 15 kasus. Bentuk kelalaian ini, antara lain membakar sampah atau obat nyamuk yang kemudian ditinggalkan hingga memicu api.
"Kami juga mendapati kasus kebakaran yang disebabkan unsur kesengajaan, dengan total kejadian mencapai lima kasus" tambahnya.
Selain itu, kebakaran juga bisa disebabkan karena adanya perambatan api atau panas dengan jumlah kejadian di 2025 mencapai lima kasus. Perambatan ini umumnya terjadi akibat gesekan ranting kering dengan instalasi listrik, terutama saat musim kemarau.
"Kami mengingatkan terkait potensi kebakaran saat musim kemarau cenderung meningkat, terutama akibat kelalaian dan perambatan api. Hal ini bisa disebabkan karena kondisi cuaca kering dan suhu tinggi, sehingga mempercepat penyebaran api khususnya jika terdapat material mudah terbakar di sekitar lokasi," bebernya.
Pandu juga mengingatkan masyarakat agar lebih waspada, terutama saat melakukan aktivitas yang berpotensi memicu api seperti membakar sampah. Selain itu, pemangkasan ranting pohon yang dekat dengan jaringan listrik juga dinilai penting untuk mencegah terjadinya kebakaran.
"Kesadaran dan kehatian-hatian masyarakat menjadi kunci utama dalam mencegah kebakaran. Terutama, saat memasuki musim kemarau," pungkasnya. (*)
