KETIK, SURABAYA – Skenario gempa bumi berkekuatan 8,2 Skala Richter yang disusul tsunami setinggi 22 meter diperagakan dalam Latihan Penanggulangan Bencana Alam Tahun Anggaran 2026 di pesisir selatan Jawa Timur (Jatim), kawasan Pantai Pancer Door, Kelurahan Sidoharjo, Kabupaten Pacitan, Kamis, 4 Juni 2026.
Latihan yang memasuki hari kedua tersebut melibatkan sekitar 200 peserta dari unsur TNI, Polri, BPBD, Basarnas, relawan, organisasi perangkat daerah, hingga masyarakat pesisir.
Dipimpin oleh Kasat Bakti TNI AL Kolonel Laut (PM) Dr. M Firdaus A.Md., S.H., M.H., CSBA., CRMP., simulasi dimulai dengan kondisi normal di wilayah Pacitan.
Selang waktu kemudian, peserta latihan menerima skenario terjadinya gempa bumi berkekuatan 8,2 SR yang mengguncang kawasan pesisir selatan.
Guncangan tersebut disertai bunyi kentongan sebagai tanda bahaya yang dibunyikan masyarakat, sementara informasi gempa dari BMKG diteruskan melalui sistem komunikasi kebencanaan yang telah disiapkan.
Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana (Pusdalops) kemudian mengaktifkan peringatan dini tsunami dan membunyikan sirene Early Warning System (EWS).
Informasi bahaya diteruskan kepada warga pesisir melalui radio komunikasi dan handy talky yang terhubung dengan petugas di lapangan.
Dalam simulasi tersebut, personel TNI, Polri, BPBD, Basarnas, Tagana, PMI, tenaga kesehatan, hingga relawan bergerak menuju lokasi evakuasi untuk membantu masyarakat menuju Tempat Evakuasi Akhir (TEA).
Beberapa saat kemudian, skenario memasuki tahap kritis ketika petugas pemantau di kawasan pesisir melaporkan kondisi air laut surut drastis, yang menjadi salah satu tanda datangnya tsunami.
Pusdalops selanjutnya menginstruksikan percepatan evakuasi warga ke lokasi aman.
Masyarakat yang masih berada di wilayah pantai diarahkan menuju titik evakuasi yang telah ditentukan.
Pada puncak simulasi, tsunami setinggi 22 meter digambarkan menerjang kawasan pesisir Pacitan.
Gelombang besar tersebut diskenariokan menghantam permukiman warga, sekolah, perkantoran, serta berbagai fasilitas umum di sepanjang pantai.
Akibat bencana tersebut, sejumlah korban digambarkan mengalami luka-luka, hilang, hingga meninggal dunia.
Tim gabungan kemudian melaksanakan operasi pencarian dan penyelamatan.
Berbagai skenario penyelamatan diperagakan, mulai evakuasi korban yang tertimpa pohon, korban yang terseret arus laut, korban yang terjebak di ketinggian, hingga penanganan jenazah yang ditemukan di pesisir.
Petugas kesehatan juga melakukan simulasi penanganan korban di rumah sakit lapangan yang didirikan di lokasi pengungsian.
Sementara itu, tim logistik menyiapkan kebutuhan dasar berupa makanan, air bersih, tenda, dan perlengkapan darurat lainnya.
Dalam skenario tersebut, Bupati Pacitan menetapkan status tanggap darurat bencana dan menunjuk Komandan Lanal Pacitan sebagai Incident Commander untuk memimpin operasi penanganan pascabencana.
Latihan juga menjadi sarana menguji koordinasi antarinstansi dalam menghadapi kemungkinan terjadinya gempa bumi dan tsunami di wilayah yang berhadapan langsung dengan zona megathrust Samudra Hindia.
Latihan berakhir dengan evaluasi bersama untuk mengukur efektivitas koordinasi, kecepatan evakuasi, serta kesiapan sumber daya yang dimiliki dalam menghadapi potensi bencana di Kabupaten Pacitan.
Latihan tersebut dirancang untuk memastikan seluruh unsur penanganan bencana mampu bergerak cepat dan terkoordinasi ketika terjadi keadaan darurat.
"Kita tidak bisa menghindari ancaman bencana alam, tetapi kita bisa mengurangi risikonya melalui latihan, edukasi, dan kesiapsiagaan yang berkelanjutan," ucap Kolonel Laut (PM) Dr. M Firdaus A.Md., S.H., M.H., CSBA., CRMP usai mengomandoi peserta simulasi.(*)
