KETIK, MALANG – Di balik gemerlap Kota Malang, seorang warga Jalan Kemantren III, Bandungrejosari, Sukun harus hidup dalam kesunyian. Kuswoyo hidup terasing di dalam rumah lapuk yang berisikan tumpukan sampah.
Kondisi bagian dalam rumahnya cukup memprihatinkan. Tumpukan sampah yang ia kumpulkan dari memulung berebut ruang dengan perabot lama tak layak pakai.
Atapnya terlihat mulai jebol, dan kondisi dapurnya berserakan dengan barang rongsokan. Untuk memasak saja, Kuswoyo masih menggunakan pawon tradisional tanpa kompor gas.
Dari pengakuannya, sudah bertahun-tahun Kuswoyo hidup dalam keterbatasan, namun tak tersentuh bantuan pemerintah. Bahkan namanya tercatat sebagai Desil 6 di Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN).
"Tinggal di sini sejak 1988. Tidak pernah dapat bantuan dari Pemkot Malang. Barang-barang di dalam rumah ada yang hasil mulung, ada yang warisan. Tapi banyak yang tidak layak pakai," ujarnya Jumat, 24 April 2026.
Kuswoyo tak hanya hidup menyendiri, ia juga mengalami gangguan pendengaran yang membuatnya sulit bersosialisasi. Kondisinya semakin parah pasca ibunya meninggal dunia pada 2017. Bahkan saat ditemui di kediamannya, Kuswoyo tampak kesulitan berinteraksi dengan orang asing.
Setelah lama terpuruk, Kuswoyo perlahan mampu bangkit dan kembali bekerja sebagai pemulung. Setiap hari, ia berangkat pukul 07.00 WIB dan kembali ke kediamannya pada 15.00 WIB untuk mengumpulkan barang di TPS Perumahan Pondok Indah Sukun.
"Buat makan sehari-hari ya dicukup-cukupkan," jelasnya.
Selama bertahun-tahun, Kuswoyo harus mencukupi kebutuhan hidupnya tanpa uluran tangan dari pemerintah. Berdasarkan keterangan dari Dinsos-P3AP2KB Kota Malang, salah satu kendala perpindahan desil Kuswoyo ialah ia masih satu KK dengan adiknya.
Puput Pujiati, adik Kuswoyo, menjelaskan rumah yang ia tempati merupakan bangunan baru, sedangkan bangunan rumah Kuswoyo sudah lama ada sebelum ibunya berpulang. Meskipun masih berada di satu alamat dengan Kuswoyo, keduanya tinggal di dapur yang berbeda.
"Kalau masalah rumah, kita rumah bersama ibu waktu itu. Jadi satu semua, tapi dulu yang di sini (rumah Puput) cuma lahan kosong, dibangun beberapa tahun ini untuk menemani Mas Kuswoyo," ujar Puput.
Sebelumnya Puput tinggal di Sawojajar bersama tiga anak dan mantan suaminya, namun memutuskan untuk tinggal dekat dengan Kuswoyo. Dulunya Kuswoyo bekerja membuat raket, namun tidak bertahan lama akibat kondisinya.
"Introvertnya kumat, dia diam di rumah. Ikut kerja di sampah baru satu tahunan, daripada diam di rumah nanti makin parah, malah kasihan. Akhir-akhir ini kambuh tidak mau bertemu aku sama orang-orang. Jadi berangkat kerja, pulang langsung di dalam, enggak ada yang boleh masuk," terangnya.
Menurut Puput, Kuswoyo masih terpukul dengan kepergian mendiang sang ibu. Sebelumnya, Kuswoyo masih dapat berinteraksi dengan mudah bersama orang-orang. Namun setelah kepergian sang ibu, Kuswoyo seolah mengurung diri di rumah.
"Kamar ibu sekarang jadi gudang, penuh sama barang hasil memulung. Dia juga dulu enggak mau rumahnya diapa-apakan, kayak di hatinya mungkin ibu masih ada, (rumah) ini punya ibu. Kita enggak tahu apa yang di pikiran dia, kadang aku juga nangis kalau lihat kondisi Mas," ungkap Puput. (*)
