Gubernur Khofifah Ajak Peserta PKN Tingkat I Hadirkan Manfaat dan Bangun Perspektif Bersama

26 Juni 2026 12:52 26 Jun 2026 12:52

Simon Naldi E., Mustopa

Redaksi Ketik.com
Thumbnail Gubernur Khofifah Ajak Peserta PKN Tingkat I Hadirkan Manfaat dan Bangun Perspektif Bersama

Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa memberikan arahan kepada peserta PKN Tingkat I Angkatan LXVI di Gedung Negara Grahadi, Surabaya. Khofifah mendorong calon pemimpin strategis menjadi agen perubahan bagi masyarakat.(Foto: Biro Adpim Setdaprov Jatim)

KETIK, SURABAYA – Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menerima kunjungan kehormatan para peserta Kepemimpinan Nasional Pelatihan Kepemimpinan Nasional (PKN) Tingkat I Angkatan LXVI.

Kehadiran para calon pemimpin papan atas ini diharapkan mampu melahirkan inovasi tata kelola pemerintahan yang semakin adaptif, dalam pertemuan yang digelar pada Kamis, 25 Juni 2026.

Program ini merupakan langkah strategis yang diinisiasi oleh Lembaga Administrasi Negara (LAN) RI untuk menggembleng kapasitas para pejabat pimpinan tinggi.

Lewat kolaborasi ini, para pembuat kebijakan dari berbagai kementerian, lembaga, hingga pemerintah daerah dipersiapkan untuk melahirkan inovasi nyata dan kepemimpinan yang berdampak luas bagi masyarakat.

Lewat agenda ini, para peserta dibekali wawasan aplikatif mengenai kepemimpinan transformatif dan inovasi birokrasi. Fokus utamanya adalah memperkuat jembatan kolaborasi antar-sektor demi mendorong roda pembangunan nasional yang lebih progresif.

Instansi yang mengirimkan peserta PKN Tingkat I Angkatan LXVI meliputi sektor penegakan hukum, kementerian, lembaga non-kementerian, dan pemerintah daerah.

Dari unsur penegakan hukum dan kementerian, tercatat perwakilan dari Kejaksaan Agung, Kepolisian Republik Indonesia, Kementerian Hukum, Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal, serta Kementerian Ketenagakerjaan.

Sedangkan dari unsur lembaga dan pemerintah daerah, peserta berasal dari Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas), Arsip Nasional Republik Indonesia, Lembaga Administrasi Negara, Sekretariat Jenderal DPR RI, Pemerintah Provinsi Gorontalo, dan Pemerintah Provinsi Jawa Timur.

Dalam pertemuan tersebut, Gubernur Khofifah mendorong para peserta untuk menjadi pemimpin transformatif. Bentuk kepemimpinan ini diwujudkan melalui kemampuan menghadirkan perubahan berbasis inovasi, kerja kolaboratif, serta penyediaan solusi terhadap berbagai permasalahan di tengah masyarakat.

Dengan didampingi Sekretaris Utama LAN RI Andi Taufik, Gubernur Khofifah menegaskan status para peserta PKN Tingkat I sebagai calon pemimpin strategis bangsa. Para peserta tersebut dipersiapkan untuk memegang tanggung jawab di berbagai institusi pada masa depan.

“Peserta PKN I angkatan LXVI bukan sembarang orang, ada calon Jenderal, calon Menteri bahkan calon Sekda. Pemimpin dituntut tidak hanya mampu menjalankan fungsi administratif, tetapi juga harus mampu menjadi agen perubahan yang menghadirkan solusi atas berbagai persoalan masyarakat. Bapak Ibu semua adalah pemimpin,” ujarnya.

Khofifah menjelaskan bahwa fungsi kepemimpinan saat ini tidak lagi terbatas pada aspek administratif. Seorang pemimpin memikul peran sebagai agen perubahan yang merumuskan solusi atas persoalan masyarakat menggunakan pendekatan inovatif, langkah kolaboratif, serta orientasi pada kemaslahatan publik.

"Pemimpin tidak hanya dituntut mampu menjalankan fungsi administrasi pemerintahan, tetapi juga harus mampu menjadi agen perubahan yang menghadirkan solusi atas berbagai persoalan masyarakat. Bapak-Ibu semua adalah pemimpin," katanya.

Khofifah menyertakan sosok mantan Presiden Iran, Mohammad Khatami, dalam paparannya mengenai kepemimpinan transformatif. Contoh ini digunakan untuk menunjukkan model pemimpin yang membawa perubahan lewat pendekatan persuasif dan pembangunan kesadaran masyarakat.

Khofifah melanjutkan bahwa di tengah situasi keterbatasan regulasi pada masa itu, Khatami menginisiasi perubahan melalui penguatan nilai keagamaan.

Pendekatan tersebut menempatkan laki-laki dan perempuan sebagai mitra yang memiliki peran saling menghormati, melindungi, dan bekerja bersama.

“Pada masa itu tidak ada anggota parlemen perempuan di Iran. Jadi memang harus sesuatu yang bersifat transformatif, yang diinisiasi dan di execute oleh Kepala Pemerintahan dan itu adalah Presiden Khatami,” terangnya.

Khofifah menambahkan, Muhammad Khatami adalah sosok pemimpin transformasi yang juga dikenal sebagai seorang ulama, memilih melakukan transformasi pemikiran melalui diseminasi nilai-nilai keagamaan yang menempatkan laki-laki dan perempuan sebagai mitra yang saling melindungi dan menghormati.

“Beliau mentransformasikan proses yang sulit sebetulnya karena menembus barikade regulasi yang tidak mudah. Kemudian beliau membangun kesadaran publik, hunna libasun lakum wa antum libasun lahunna yang bermakna bahwa kalian calon suami istri kalian harus saling memproteksi, nasihat itu tersebar dengan bahasa yang lebih soft dan menempatkan egalitarianisme,” ungkapnya.

“Selain itu, beliau juga mengedepankan prinsip wa ‘asyiruhunna bil ma’ruf yang mengajarkan pentingnya memperlakukan perempuan dengan baik dan penuh penghormatan,” katanya.

Khofifah mengungkap bahwa diseminasi referensi Al-Qur'an tersebut menjadi instrumen Presiden Iran Mohammad Khatami dalam membangun cara pandang baru. Dari contoh ini, ia menilai bahwa perubahan besar tidak selalu bergantung pada penyusunan regulasi yang kompleks, melainkan dapat diinisiasi melalui transformasi cara berpikir masyarakat.

Pandangan mengenai kepemimpinan transformatif kembali ditegaskan oleh Khofifah. Ia menyampaikan bahwa kepemimpinan tidak hanya bertumpu pada otoritas jabatan, melainkan pada kapasitas pemimpin dalam memengaruhi, menginspirasi, dan menggerakkan kesadaran bersama demi mewujudkan perubahan ke arah yang lebih baik.

“Menurut saya beliau adalah pemimpin transformatif. Mereka yang mampu menemukan jalan perubahan di tengah keterbatasan. Ketika regulasi sulit ditembus, dibutuhkan pendekatan yang mampu membangun kesadaran dan perspektif baru di masyarakat,” tegasnya.

Gubernur Khofifah selanjutnya mengimbau para peserta PKN Tingkat I untuk mengorientasikan peran mereka pada kemaslahatan publik. Pemimpin strategis yang dilahirkan dari program ini diharapkan dapat berkontribusi langsung dalam memberikan manfaat bagi lingkungan sekitar serta masyarakat luas.

“Bapak-Ibu semua adalah pemimpin dan insya Allah makin tinggi tingkat kepemimpinan dan amanah yang diembannya usai mengikuti PKN I ini,” tuturnya.

“Bagaimana sesungguhnya hadirnya kita. anfa’uhum linnas. Kita hadir dimana-mana, upayakan bahwa kita akan memberikan manfaat,” imbuhnya..

Ia juga mengingatkan bahwa dalam menjalankan peran tersebut, setiap pemimpin akan berhadapan dengan berbagai tantangan di lapangan. Dinamika yang harus dihadapi di antaranya meliputi munculnya kesalahpahaman serta perbedaan perspektif antar-pihak.

“Kita sering ketemu komunitas dan menemukan sosok trouble maker. Orang mengenal sebagai sosok TM, salah persepsi, salah paham. Bagi saya kalau salah paham oke, tapi kalau fahamnya yang salah itu yang repot,” katanya.

“Maka bagaimana kemudian kita bisa membangun perspektif diantara seluruh yang terkait dengan policy yang kita ambil. Tidak ada sukses kalau kita berjalan sendiri. Kita sukses karena kita bersama-sama,” tambahnya mengingatkan.

Pemberian apresiasi datang dari Deputi Bidang Penyelenggaraan Pengembangan Kapasitas ASN LAN RI, Tri Widodo Wahyu Utomo, terhadap langkah Gubernur Khofifah. Respons ini ditujukan atas komitmen nyata yang ditunjukkan dalam mendorong agenda penguatan kapasitas aparatur sipil negara di wilayah Jawa Timur.

Peningkatan kompetensi ASN menjadi prioritas utama di bawah kepemimpinan Gubernur Khofifah. Agenda ini diposisikan sebagai fondasi dasar guna menciptakan sistem tata kelola pemerintahan yang profesional, adaptif, serta responsif terhadap dinamika zaman.

“Ibu Gubernur Khofifah sosok kepala daerah yang memiliki kepedulian dan komitmen luar biasa terhadap pengembangan kapasitas ASN. Beliau sadar betul, kepemimpinan harus dibangun secara berkesinambungan,” kata Tri.

“Maka komitmen itu bersambut, siapapun yang dikirim mengikuti PKN 1 mereka melakukan dengan sungguh-sungguh. Bukti kesungguhannya adalah teman-teman Jawa Timur sering mendominasi, bahkan menjadi lima terbaik. Terima kasih atas dukungan Ibu terhadap program pengembangan kapasitas pimpinan,” imbuhnya.

Berbagai capaian yang diraih menjadi indikator bagi Tri Widodo untuk menilai bahwa Jawa Timur telah menjelma sebagai laboratorium kepemimpinan yang nyata. Wilayah ini dipandang sebagai tempat lahirnya beragam praktik baik serta inovasi dalam agenda pengembangan sumber daya aparatur.(*)

 

 

 

Tombol Google News

Tags:

Khofifah Indar Parawansa Lembaga Administrasi Negara Pelatihan Kepemimpinan Nasional Inovasi Pemerintahan Pemprov Jatim Jawa timur