KETIK, MALANG – Fakultas Sains dan Teknologi Peternakan (FAST) Universitas Brawijaya (UB) membekali 823 mahasiswa baru terkait transformasi peternakan berbasis teknologi dan AI. Pembekalan tersebut agar para maba memahami bahwa dunia peternakan lebih luas dan bukan sekadar angon (ternak) sapi.
Dekan FAST UB, Prof Halim Natsir menjelaskan dari total maba tersebut, tersebar ke dalam Prodi Peternakan 735 mahasiswa, dan Prodi Industri Peternakan Cerdas sebanyak 89 mahasiswa.
Ia menjelaskan bahwa maba tidak hanya diajak memperdalam keilmuan terkait sains saja namun juga tekologi dalam dunia pertanian. Hal tersebut yang juga mendasari perubahan nama dari Fakultas Peternakan menjadi FAST.
"Jadi PKKMB di fakultas, ini memang kita bicara bagaimana sebagai seorang mahasiswa yang utuh. Sehingga kita tekankan itu adalah bagaimana attitudenya bagus, kemudian ilmu pengetahuan, dan skillnya," ujarnya, Jumat 14 Agustus 2026.
FAST UB juga memfasilitasi mahasiswa baru untuk masih dalam 6 ruang inovasi. Mulai dari area produksi, nutrisi, teknologi hasil ternak, sosial ekonomi, pemuliaan dan genetik, serta AI. Ia menegaskan bahwa kampus harus menghasilkan sumber daya manusia (SDM) yang mumpuni.
"Kita harus bergerak cepat, agresif, dan revolusioner. Di sini kita menganggap bahwa kita tidak bisa berdiri sendiri. Kita kan bukan perusahaan tetapi menghasilkan SDM. Maka salah satu yang harus dilakukan adalah kolaborasi," ungkapnya.
Selama ini sudah banyak inovasi yang dihasilkan oleh mahasiswa FAST dan mendapatkan pengakuan terkait kebermanfaatannya kepada masyarakat. Seperti inovasi yang dibawa oleh mahasiswa selama masa KKN di semester 4.
"Ternyata mahasiswa semester 4 pada saat KKN itu sudah bisa menghasilkan inovasi yang kemarin langsung diimplementasikan ke masyarakat. Mendapat sambutan dari Bupati Bojonegoro dan Muria. Kami menginginkan 6 bidang (inovasi) ini harus bergerak," katanya.
Dalam pelaksanaan PKKMB, menghadirkan beberapa narasumber termasuk alumi yang telah berkecimpung dalam dunia industri untuk memberikan motivasi kepada maba.
"Ini adalah fakultas yang tidak akan roboh karena selama ada manusia, maka pangan protein hewani ini pasti ada. Maka perlu adanya inovasi, adaptif, dan kolaborasi. Ini yang kita tekankan," tuturnya.
Sementara itu Ahmad Rizal Muzamil, Kepala Bidang Perbibitan, Pakan, dan Produksi Peternakan, Dinas Peternakan Provinsi Jawa Timur menjelaskan peternakan menjadi salah satu destinasi utama bagi bangsa. Peternakan memiliki kotribusi dalam mencerdaskan kehidupan bangsa melalui produk-produk yang dihasilkan.
"Kita kalau hanya makan dengan karbohidrat saja tanpa ada gizi lain protein hewani, kita tentu akan sulit berkembang baik secara fisik, psikis, maupun tenaga," katanya. (*)
