KETIK, MALANG – Upaya memperkuat pilar kebangsaan terus disuarakan oleh kalangan pesantren. Melalui inisiasi para ulama kharismatik, kini lahir Ikatan Himpunan Santri dan Alumni Pesantren se-Nusantara (IHSAN) yang diproyeksikan menjadi motor penggerak pembangunan nasional.
Aktifis pergerakan sekaligus warga Nahdlatul Ulama (NU), Abd. Aziz, menyebut bahwa pendirian IHSAN merupakan jawaban atas kebutuhan bangsa saat ini. Menurutnya, santri bukan sekadar entitas agama, melainkan aset strategis dalam menjaga stabilitas NKRI.
Ketua Umum DPP Gerakan Masyarakat Perangi Korupsi (GMPK) ini mengungkapkan, gagasan tersebut lahir dari diskusi intensif bersama Lora Imam Buchori Cholil (Ra Imam). Beliau merupakan cicit Syaikhona Cholil Bangkalan yang memiliki visi besar terhadap masa depan alumni pesantren.
Dalam pandangan Abd. Aziz, santri dan alumni pesantren memiliki tanggung jawab moral untuk berada di barisan terdepan dalam merawat hubungan kemanusiaan. Persatuan ini dianggapnya sebagai kekuatan fundamental yang belum tergarap secara maksimal untuk kemajuan negeri.
"Santri harus menjadi garda terdepan tidak hanya dalam menjaga moralitas, tetapi juga dalam mendukung keberlanjutan pembangunan nasional melalui etika yang kuat," ujar Abd. Aziz saat memaparkan urgensi kehadiran IHSAN dalam keterangan tertulisnya Senin (13/4/2026).
Lebih lanjut, ia menyampaikan bahwa gagasan besar ini juga bersumber dari pemikiran Kiai Muhammad Ali Cholil (Ra Ali). Sosok pengasuh pesantren di Kalimantan Timur tersebut menginginkan adanya wadah konkret bagi jutaan alumni pesantren di seluruh Indonesia.
Sebagai praktisi hukum, Abd. Aziz melihat bahwa potensi alumni pesantren sangat besar jika disatukan dalam satu visi keumatan. Hal ini penting agar kontribusi mereka terhadap negara menjadi lebih terukur dan memberikan dampak nyata bagi masyarakat luas.
Pertemuan strategis yang digelar di Kota Malang beberapa waktu lalu menjadi momentum penting bagi Abd. Aziz untuk membedah konsep "rumah bersama" ini. Ia menekankan bahwa harmonisasi dalam bermasyarakat adalah kunci utama pembangunan bangsa.
Menurut Aziz, IHSAN hadir untuk mengikis sekat perbedaan dan lebih mengedepankan persamaan. Semangat ini selaras dengan cita-cita luhur para pendiri bangsa yang menginginkan hidup berdampingan secara damai dalam bingkai keberagaman.
"Kita ingin mendorong perubahan yang diinginkan bersama melalui nilai-nilai pesantren. Itulah mengapa manifesto gerakan santri ini menjadi sangat fundamental untuk kita publikasikan," tegas pria yang juga CEO Firma Hukum PROGRESIF LAW tersebut.
Aziz menjelaskan bahwa sejarah telah membuktikan peran strategis santri sebagai pengawal moral dan penggerak sosial. Di era globalisasi saat ini, peran tersebut harus ditransformasikan ke dalam kontribusi pembangunan yang lebih luas dan modern.
Dalam diskusinya bersama Ra Ali dan Ra Imam, Abd. Aziz menyoroti pentingnya peran santri dalam menjaga marwah ulama. Menurutnya, mengamalkan nilai Islam rahmatan lil alamin adalah fondasi utama untuk mewujudkan ketentraman di tengah masyarakat.
Salah satu poin menonjol yang ditekankan Aziz adalah fungsi preventif dari organisasi ini. IHSAN dirancang untuk melakukan langkah proaktif dalam mencegah potensi konflik sosial sebelum benar-benar terjadi di lapangan.
"Jika para Ketua Alumni Pesantren bersatu, kita bisa melakukan pencegahan konflik secara terencana, terukur, dan terprediksi atau yang saya sebut sebagai formula 3T," jelas Aziz saat memberikan masukan pada para ulama tersebut.
Ia merujuk pada beberapa konflik sosial masa lalu yang pernah terjadi di berbagai daerah di Indonesia. Menurutnya, peran alumni pesantren sebagai mediator dan penengah sangat krusial agar gesekan SARA tidak lagi menjadi penghambat pembangunan.
Selain urusan stabilitas, Abd. Aziz juga mendorong IHSAN untuk memelopori kegiatan yang bersifat nasionalis-religius. Salah satunya adalah rencana Peringatan Hari Santri Nasional (HSN) dan Doa Kebangsaan di ratusan kabupaten/kota se-Indonesia.
Hingga saat ini, sambutan dari para ulama di berbagai penjuru negeri sangat antusias. Abd. Aziz mencatat banyak pengasuh pesantren yang menyatakan siap bersinergi untuk mewujudkan misi mulia yang dibawa oleh IHSAN.
Tugas berat kini berada di pundak Abd. Aziz untuk merapikan administrasi kelembagaan. Sebagai seorang advokat, ia memimpin proses penyusunan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) agar sesuai dengan regulasi yang berlaku.
Ia menargetkan proses pendaftaran kelembagaan di Kementerian Hukum dan HAM dapat selesai dalam waktu dekat. Pasca legalitas rampung, Aziz akan segera mengonsolidasikan seluruh tokoh pesantren yang telah menyatakan dukungannya.
"Domain saya adalah memastikan wadah ini memiliki legal standing yang kuat. Setelah itu, kita akan merapatkan barisan dengan seluruh ulama dan tokoh pesantren yang sudah terkonfirmasi," tambah pria yang juga aktif sebagai mediator non-hakim ini.
Deklarasi nasional IHSAN rencananya akan dipusatkan di wilayah Kalimantan. Acara tersebut diprediksi akan menjadi pertemuan akbar para ulama dan pengasuh pesantren sebagai simbol kebangkitan peran santri untuk kejayaan bangsa Indonesia. (*)
