Pompa Irigasi Bantuan Kementan Menyala, Puluhan Sumur Warga di Jombang Malah Mendadak Kering

6 Oktober 2026 13:56 6 Okt 2026 13:56

Syaiful Arif, M. Rifat

Redaksi Ketik.com
Thumbnail Pompa Irigasi Bantuan Kementan Menyala, Puluhan Sumur Warga di Jombang Malah Mendadak Kering

Warga Dusun Guwo, Desa Latsari, Kecamatan Mojowarno, Jombang, mandi di saluran irigasi karena sumur mereka kering saat pompa pengairan menyala. (Foto: Syaiful Arif/ketik.com)

KETIK, JOMBANG – Persoalan air bersih mulai menghantui warga Dusun Guwo, Desa Latsari, Kecamatan Mojowarno, Jombang. Puluhan sumur warga disebut mendadak menyusut bahkan mengering setelah sumur pompa irigasi dari proyek Kementerian Pertanian mulai dioperasikan sekitar dua pekan terakhir.

Warga menduga aktivitas penyedotan air dari sumur irigasi tersebut berdampak terhadap ketersediaan air di sumur-sumur permukiman.

Keluhan itu salah satunya disampaikan Dayu, 28, warga Dusun Guwo. Dia mengatakan proyek sumur pompa sebenarnya telah dibangun sejak 2025. Namun, pompa baru mulai diaktifkan sekitar dua pekan lalu.

Sejak saat itu, warga mulai merasakan perubahan pada sumur yang selama puluhan tahun menjadi sumber air kebutuhan sehari-hari.

"Dan semenjak diaktifkan itu langsung dampaknya kami rasakan, sumur-sumur kami di permukiman jadi kering," kata Dayu, Selasa, 6 Oktober 2026.

Menurut dia, penyusutan debit air terjadi di sejumlah RT. Kondisi sumur warga pun berbeda-beda. Ada yang masih mengeluarkan air meski sangat sedikit, ada yang hanya menyisakan lumpur, bahkan ada yang sudah tidak mengeluarkan air sama sekali.

"Ada yang muncul air tapi sangat sedikit, ada yang menyisakan lumpur saja, ada yang tidak nyumber lagi," ujarnya.

Kondisi tersebut membuat puluhan keluarga harus mencari cara agar tetap mendapatkan air. Sebagian warga bahkan terpaksa memperdalam sumur menggunakan biaya pribadi.

Dayu memperkirakan sekitar 20 hingga 30 kepala keluarga terdampak persoalan tersebut.

"Banyak yang terdampak, puluhan sumur. Buat yang punya uang akhirnya harus mendalamkan sumur dengan biaya sendiri yang bisa sampai Rp3 juta satu titik," ungkapnya.

Pompa Berhenti, Air Sumur Kembali

Keluhan serupa dirasakan Sekar, warga RT 7 RW 2 Dusun Guwo. Ia mengaku sumurnya sudah sekitar dua pekan tidak bisa digunakan karena kekurangan air.

Warga sebenarnya telah menyampaikan persoalan tersebut kepada pemerintah desa. Bahkan, mediasi telah dilakukan. Namun, hasilnya belum menyelesaikan persoalan.

"Sudah sempat juga mengeluhkan ke desa, dan sudah dimediasi, tapi hasilnya tidak maksimal," katanya.

Salah satu hasil mediasi adalah pembatasan waktu operasional pompa irigasi. Mesin diesel tidak lagi dioperasikan sepanjang hari, melainkan hanya pada jam tertentu.

Namun, pola tersebut justru membuat warga melihat adanya perubahan debit air yang mereka anggap berkaitan dengan pengoperasian pompa.

"Jadi ada jam pagi sampai siang, nanti setelah itu berhenti, nah itu justru memperlihatkan dampak aslinya," ujar Sekar.

Menurut dia, ketika pompa irigasi beroperasi, air di sumur warga cepat menyusut. Sebaliknya, setelah pompa dihentikan, air perlahan kembali mengisi sumur.

Persoalannya, warga harus menunggu berjam-jam sebelum air kembali cukup untuk digunakan.

"Itupun harus menunggu berjam-jam dulu, jadi kebutuhan air bersih kami juga tetap sulit," imbuhnya.

Unjung, warga RT 6 RW 2 Dusun Guwo, juga merasakan kondisi serupa. Pembatasan waktu operasional pompa dinilai belum menjadi solusi.

Dalam kondisi tertentu, warga bahkan harus menunggu hingga dini hari agar sumur kembali terisi.

"Kadang-kadang jam 02.00–03.00 itu baru penuh sumurnya, bisa dipakai, ini kan mengganggu sekali," katanya.

Warga mengaku telah menyampaikan persoalan tersebut kepada sejumlah pihak. Mulai pemerintah desa hingga Pemkab Jombang.

"Terakhir sudah ke Inspektorat dan DLH juga, kami berharap ada solusi, bagaimana sumur warga tetap bisa ada airnya," kata Unjung.

Kepala Dinas Pertanian Jombang Much Rony membenarkan adanya keluhan warga tersebut. 

Menurut dia, laporan dari lapangan telah diterima dan pihaknya sedang mengumpulkan data untuk mengetahui kondisi sebenarnya.

"Jadi kami sudah dengar keluhannya, teman-teman di lapangan juga sudah mengumpulkan data dan membuat laporan," ujar Rony.

Proyek yang dipersoalkan warga tersebut merupakan pembangunan konstruksi irigasi perpompaan. Program itu merupakan kerja sama Kementerian Pertanian RI, Dinas Ketahanan Pangan Provinsi Jawa Timur, dan Dinas Pertanian Kabupaten Jombang.

Proyek tersebut menggunakan dana APBN 2025 sebesar Rp153 juta dan dikerjakan Kelompok Tani (Poktan) Guwo.

Rony menjelaskan, sumur yang dibangun merupakan sumur dangkal dengan kedalaman kurang dari 100 meter.

"Jadi proyek itu memang pembuatan sumur dangkal ya, seperti sumur dangkal lainnya, kedalamannya ya di bawah 100 meter memang," katanya.

Mengenai dugaan bahwa pengoperasian pompa irigasi menyebabkan sumur warga mengering, Rony belum dapat memastikan.

Dinas Pertanian Jombang masih akan melakukan kajian dan pengecekan lapangan untuk mengetahui hubungan antara pengoperasian sumur pompa dengan kondisi sumur warga.

Menurutnya, persoalan serupa belum pernah ditemukan pada proyek irigasi perpompaan lainnya.

"Yang jelas dari semua proyek serupa, ini yang pertama kejadian begini. Kami akan cek dulu nanti sebelum melangkah," ujarnya.

Jika hasil pengecekan menunjukkan pengoperasian pompa memang berdampak terhadap ketersediaan air sumur warga, Dinas Pertanian Jombang membuka kemungkinan menghentikan pengoperasian pompa tersebut.

"Kalau memang berakibat ke warga ya dihentikan saja pompanya," pungkasnya. (*)

Tombol Google News

Tags:

saluran irigasi Pompa Irigasi Bantuan Kementan disperta jombang