Alumni UIN KHAS Jember Tembus Jurnal Scopus Q1, Soroti Mandeknya Pemenuhan Hak Kerja Penyandang Disabilitas

5 Juli 2026 21:09 5 Jul 2026 21:09

Haryono, Mustopa

Redaksi Ketik.com
Thumbnail Alumni UIN KHAS Jember Tembus Jurnal Scopus Q1, Soroti Mandeknya Pemenuhan Hak Kerja Penyandang Disabilitas

Abd Munib, alumni Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI), Fakultas Dakwah, Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq (UIN KHAS) Jember. (Foto: Haryono/Ketik.com)

KETIK, JEMBER – Prestasi membanggakan kembali ditorehkan akademisi asal Jawa Timur. Riset kolaboratif lintas perguruan tinggi yang mengupas persoalan ketenagakerjaan penyandang disabilitas di Indonesia berhasil menembus jurnal internasional bereputasi Scopus Q1.

Salah satu penulis dalam penelitian tersebut adalah Abd. Munib, alumni Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI), Fakultas Dakwah, Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq (UIN KHAS) Jember.

Penelitian tersebut mengangkat persoalan mendasar mengenai masih lebarnya kesenjangan antara regulasi yang menjamin hak penyandang disabilitas dengan implementasi kebijakan di lapangan.

Meski Indonesia telah memiliki landasan hukum yang kuat melalui Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2016 tentang Penyandang Disabilitas dan Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun 2020, realisasi pemenuhan hak bekerja secara setara dinilai masih jauh dari harapan.

Hasil riset mengungkap bahwa kepatuhan instansi pemerintah maupun dunia usaha terhadap kewajiban menyediakan kuota tenaga kerja bagi penyandang disabilitas masih rendah.

Di sisi lain, fasilitas pendukung di lingkungan kerja belum sepenuhnya ramah disabilitas, sementara stigma dan diskriminasi terhadap pekerja disabilitas masih menjadi tantangan besar dalam menciptakan dunia kerja yang inklusif.

Sebagai solusi, tim peneliti menawarkan rekonstruksi kebijakan berbasis maqashid al-syariah, yakni pendekatan yang menekankan perlindungan terhadap hak-hak dasar manusia melalui implementasi kebijakan yang substantif, terukur, dan berorientasi pada keadilan sosial.

Model tersebut diharapkan mampu menggeser orientasi kebijakan dari sekadar memenuhi kewajiban administratif menuju sistem ketenagakerjaan yang benar-benar menjamin kesempatan kerja yang setara, inklusif, dan bermartabat bagi penyandang disabilitas.

"Keberpihakan negara tidak boleh berhenti di atas teks regulasi. Ia harus hadir dalam praktik nyata, mulai dari proses rekrutmen, budaya kerja, hingga pengawasan yang tegas agar hak penyandang disabilitas benar-benar terpenuhi," ujar Abd. Munib saat dihubungi melalui sambungan telepon, Minggu, 5 Juli 2026.

Selain menghasilkan publikasi pada jurnal internasional bereputasi Scopus Q1, penelitian tersebut juga melahirkan sejumlah rekomendasi kebijakan yang diharapkan dapat memperkuat langkah afirmatif pemerintah sekaligus meningkatkan kepatuhan sektor usaha dalam memenuhi kuota pekerja disabilitas.

"Penelitian ini diharapkan mampu membangun ekosistem ketenagakerjaan yang bersinergi antara pemerintah, dunia usaha, dan perguruan tinggi sehingga kebijakan yang dihasilkan benar-benar berdampak bagi masyarakat," tambahnya.

Riset tersebut merupakan hasil kolaborasi sejumlah akademisi dari berbagai institusi di Jawa Timur, yakni Himawan Estu Bagijo dari BRIDA Jawa Timur, Frans Sadewo dari Universitas Negeri Surabaya (UNESA), Budi Raharjo dari Universitas Airlangga (UNAIR), Nunuk Nuswardani dari Universitas Trunojoyo Madura, serta Abd. Munib dari STIDKI Al-Hamidiy Pamekasan.

Abd. Munib lahir di Desa Sana Laok, Kecamatan Waru, Kabupaten Pamekasan, pada 11 Februari 1995. Ia menyelesaikan pendidikan sarjana di Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam, Fakultas Dakwah UIN KHAS Jember, sebelum melanjutkan studi magister pada bidang Komunikasi dan Penyiaran Islam di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Selama meniti karier akademik, Munib aktif menghasilkan berbagai karya ilmiah yang dipublikasikan pada jurnal nasional terakreditasi maupun jurnal internasional bereputasi, termasuk jurnal terindeks SINTA 2, Scopus Q1, hingga jurnal yang diterbitkan University Malaya.

Salah satu karya ilmiahnya bahkan meraih penghargaan dalam kompetisi penulisan jurnal yang diselenggarakan Komisi Pemilihan Umum Republik Indonesia (KPU RI).

Tak hanya aktif di dunia akademik, pria yang mengidolakan Mahfud MD itu juga dikenal produktif menulis artikel populer di berbagai media cetak dan media daring.

Tulisan-tulisannya banyak membahas isu komunikasi, dakwah, pendidikan, demokrasi, media digital, literasi, hingga dinamika sosial-keagamaan.

Melalui berbagai karya tersebut, Munib berupaya menjembatani hasil penelitian akademik agar lebih mudah dipahami masyarakat luas, sehingga ilmu pengetahuan tidak berhenti di ruang-ruang kampus, melainkan mampu memberikan manfaat nyata bagi publik.

Ia juga telah menerbitkan sejumlah buku, di antaranya Sertifikasi Dai: Wacana dan Pro-Kontra serta Narasi dan Daya Tipu Tampilan Luar, yang mencerminkan perhatian intelektualnya terhadap perkembangan komunikasi Islam, budaya digital, dan perubahan sosial.

Menurutnya, kolaborasi lintas disiplin dan lintas perguruan tinggi menjadi kunci dalam menghasilkan penelitian yang berkualitas sekaligus mampu menjadi dasar penyusunan kebijakan publik berbasis bukti (evidence-based policy).

"Saya berkomitmen untuk terus mengembangkan riset pada bidang komunikasi Islam, media digital, dakwah, literasi, demokrasi, disabilitas, dan kecerdasan artifisial dalam komunikasi," ujarnya.

Bagi Munib, riset, publikasi ilmiah, literasi publik, dan pengabdian kepada masyarakat merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan dalam membangun peradaban berbasis ilmu pengetahuan.

"Melalui kolaborasi dengan berbagai akademisi dan peneliti, saya berharap dapat melahirkan inovasi yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Setiap penelitian bukan sekadar mencatat gagasan, tetapi juga menggerakkan kesadaran dan menghadirkan solusi bagi persoalan bangsa," pungkasnya.(*)

Tombol Google News

Tags:

UIN KHAS Jember Scopus Abd Munib