KETIK, TULUNGAGUNG – Geliat pelestarian budaya Jawa kembali menggema di Bumi Ngrowo. Pendapa Djayeng Koesoemo UPT TB2KS Kabupaten Tulungagung menjadi saksi bisu berkumpulnya ratusan pencinta sekaligus praktisi budaya dalam perhelatan Reuni Akbar dan Orasi Budaya Pawiyatan Panatacara Tuwin Pamedhar Sabda, Persaudaraan Masyarakat Budaya Nasional Indonesia (Permadani), Minggu pagi 5 Juli 2026.
Momentum ini sekaligus menandai hari jadi ke-42 organisasi yang konsisten bergerak di lajur kebudayaan tersebut. Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya yang kerap digelar dalam kesahajaan, peringatan kali ini dikemas lebih visioner dengan memadukan ruang temu kangen lintas generasi dan penguatan khazanah intelektual budaya.
Ketua Panitia Pelaksana, Jarno, S.E., menyampaikan bahwa esensi dari perayaan ini adalah sebuah refleksi sekaligus penegasan komitmen Permadani dalam menjaga benteng budaya nasional. Langkah ini dirasa krusial di tengah gempuran modernisasi yang kian deras.
"Rangkaian kegiatan ini sebenarnya sudah kami awali sejak kemarin melalui ziarah kubur ke makam para syuhada Permadani di wilayah Kabupaten Tulungagung." ujar Jarno kepada ketik.com.
"Istilah syuhada di sini kami sematkan sebagai bentuk penghormatan tertinggi bagi para pejuang yang semasa hidupnya telah gigih, tanpa pamrih, mengembangkan dan melestarikan budaya di Tulungagung," ungkapnya saat ditemui di sela-sela acara.
Tidak sekadar menjadi ajang nostalgia, agenda reuni tahun ini disuntik dengan bobot edukasi yang mendalam melalui sebuah orasi budaya bertajuk "Bedahan Kembar Mayang".
Sesi ini mengupas tuntas struktur, simbol, serta ornamen spiritual yang melekat pada Kembar Mayang, sebuah elemen sakral yang lazim ditemui dalam laku pernikahan adat Jawa namun kerap kali kehilangan maknanya di ranah kontemporer.
Langkah edukatif seperti ini dinilai sangat relevan mengingat besarnya gerbong organisasi Permadani di Tulungagung. Tercatat hingga hari ini, lembaga ini telah melahirkan 32 angkatan pawiyatan (lembaga pendidikan informal panatacara).
Dengan rata-rata kelulusan 30 hingga 50 personel pada tiap angkatannya, keluarga besar Permadani Tulungagung kini diperkirakan telah menembus angka di atas 1.000 anggota aktif.
Melalui momentum pertambahan usia yang ke-42 ini, Permadani Tulungagung berharap kepakan sayap organisasi dapat menjangkau ruang publik yang lebih luas dan tidak eksklusif. Sinergi strategis dengan pemerintah daerah pun diharapkan bisa berjalan lebih masif ke depannya.
"Harapan besar kami, Permadani bisa semakin dikenal luas dan melekat di hati masyarakat Tulungagung, bahkan hingga tingkat nasional. Kami ingin kehadiran organisasi ini mampu berdiri tegak sebagai mitra strategis pemerintah, ikut andil secara aktif dan nyata dalam mengawal pelestarian serta pengembangan kebudayaan bangsa," pungkas Jarno optimistis.(*)
.png)