KETIK, JAKARTA – Di tengah pesatnya perkembangan media sosial, kehadiran kreator konten tidak lagi sekadar menjadi sumber hiburan, tetapi juga dapat menjadi media edukasi dan inspirasi.
Hal itu dibuktikan oleh Ihsan Nurul Fajar, yang dikenal publik dengan nama Ajay, seorang guru ngaji asal Tasikmalaya yang berhasil membangun karier sebagai kreator konten digital melalui permainan Free Fire.
Pria kelahiran Tasikmalaya, 10 Oktober 1998, tersebut memanfaatkan platform digital untuk menghadirkan konten yang menghibur sekaligus menyampaikan pesan positif kepada masyarakat, terutama kalangan remaja yang menjadi pengguna aktif media sosial.
Keberhasilan Ajay tidak diraih secara instan.
Sebelum dikenal luas, ia menjalani berbagai pekerjaan untuk memenuhi kebutuhan hidup, termasuk Menjadi Guru Ngaji di Luar Kota.
Di sela aktivitasnya, ia tetap mengabdikan diri sebagai guru ngaji di lingkungan tempat tinggalnya.
Kondisi ekonomi yang sederhana tidak menyurutkan semangatnya untuk terus belajar dan mengembangkan kemampuan di bidang digital.
Melihat semakin besarnya minat masyarakat terhadap konten video pendek dan gim online, Ajay mulai mempelajari proses pembuatan konten secara otodidak.
Ia memanfaatkan berbagai sumber pembelajaran di internet untuk memahami teknik pengambilan gambar, penyuntingan video, hingga strategi membangun komunikasi dengan audiens.
"Awalnya saya hanya iseng membuat konten prank bahasa arab di Free fire. Tidak disangka, langsung viral dengan ratusan ribu penonton. Lama-kelamaan, saya menyadari bahwa media sosial bisa dimanfaatkan untuk memberikan hiburan yang tetap memiliki nilai positif," ujar Ajay, Sabtu, 18 Juli 2026.
Setelah melalui berbagai percobaan, Ajay menemukan karakter konten yang sesuai dengan dirinya, yakni memadukan permainan Free Fire dengan komedi ringan yang santun dan dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Konten tersebut dikemas tanpa unsur ujaran kebencian, perundungan, maupun bahasa yang tidak pantas, sehingga dapat dinikmati oleh berbagai kalangan.
Pendekatan tersebut mendapat respons positif dari viewers.
Hingga pertengahan tahun 2026, akun TikTok @ini.ajay telah diikuti lebih dari 2 juta pengguna, Instagram dengan nama _ihsan.nf berjumlah 15K Folowers dan YouTube nya telah mencapai 89K Subscriber.
Pertumbuhan pengikut yang konsisten menunjukkan bahwa konten kreatif yang mengedepankan etika tetap memiliki tempat di tengah persaingan industri digital.
Pengamat industri kreatif menilai fenomena seperti ini menunjukkan bahwa media sosial dapat menjadi ruang produktif apabila dimanfaatkan secara bertanggung jawab.
Kreator konten tidak hanya berperan sebagai pembuat hiburan, tetapi juga memiliki tanggung jawab moral dalam membentuk budaya digital yang sehat.
Kisah Ajay menjadi contoh bahwa keterbatasan ekonomi bukan penghalang untuk berkembang di era digital.
Dengan kemauan belajar, disiplin, dan konsistensi, seseorang dapat menciptakan peluang kerja baru tanpa harus meninggalkan nilai-nilai positif yang dianutnya.
Selain memberikan manfaat ekonomi bagi pelakunya, konten digital yang berkualitas juga berkontribusi dalam menciptakan ekosistem media sosial yang lebih aman dan edukatif.
Di tengah maraknya konten yang mengejar sensasi, kehadiran kreator yang mengutamakan kreativitas, kesopanan, dan tanggung jawab menjadi angin segar bagi masyarakat.
Perjalanan Ajay diharapkan dapat menginspirasi generasi muda untuk memanfaatkan teknologi sebagai sarana belajar, berkarya, dan berwirausaha secara sehat.
Media sosial pada akhirnya bukan hanya tentang popularitas, melainkan juga tentang bagaimana sebuah karya mampu memberikan manfaat, menyebarkan nilai-nilai positif, serta menjadi contoh bahwa kesuksesan dapat diraih melalui proses, kerja keras, dan integritas.(*)
.png)