KETIK, JAKARTA – Israel terus menunjukkan wajah brutalnya tanpa terkendali. Serangan udara terbaru yang dilancarkan militer negeri Zionis itu ke wilayah selatan Lebanon menewaskan sedikitnya lima warga sipil. Salah satu korban merupakan jurnalis yang tengah meliput di lokasi terdampak, Rabu, 23 April 2026.
Dilansir dari Aljazeera, Amal Khalil, wartawan yang bekerja untuk media lokal Al Akhbar menjadi salah satu korban tewas dari serangan Israel tersebut.
Insiden terjadi di desa At-Tiri ketika sebuah serangan awal menghantam mobil yang menewaskan dua orang di dalamnya.
Serangan tersebut menghantam area yang sebelumnya sudah menjadi sasaran, saat sejumlah jurnalis berada di lokasi untuk melaporkan situasi pasca-serangan.
Rekan Amal Khalil sesama jurnalis, Zeinab Faraj, dilaporkan mengalami luka serius dan harus menjalani operasi.
Insiden ini kembali menyoroti tingginya risiko yang dihadapi pekerja media di wilayah konflik, terutama di perbatasan selatan Lebanon yang kerap menjadi titik panas ketegangan antara Israel dan kelompok bersenjata Hezbollah.
Pihak militer Israel menyatakan serangan tersebut menargetkan pihak yang diduga terkait Hezbollah di zona perbatasan. Namun, mereka membantah secara sengaja menargetkan jurnalis dan menyebut insiden tersebut masih dalam proses peninjauan.
Di sisi lain, pemerintah Lebanon mengecam keras serangan tersebut dan menilai tindakan itu sebagai pelanggaran terhadap hukum internasional, terutama karena menewaskan warga sipil dan pekerja media.
"Militer Israel sengaja menargetkan bangunan tempat para jurnalis berlindung," ujar pernyataan resmi Kementerian Kesehatan Lebanon. Dalam hukum internasional, berlaku aturan militer sebuah negara tidak boleh menyasar atau menyerang warga sipil termasuk pekerja medis dan jurnalis.
Ketegangan di kawasan ini pun kembali meningkat, terlebih serangan terjadi di tengah situasi yang masih rapuh terkait upaya perpanjangan gencatan senjata antara kedua pihak.
Menteri Informasi Lebanon, Paul Morcos mengecam keras serangan Israel tersebut. Ia menegaskan bahwa Lebanon menuntut perlindungan bagi pekerja media dan bertanggung jawab penuh atas keselamatan mereka.
Di sisi lain, militer Israel membantah menargetkan jurnalis dan menyatakan telah berupaya meminimalkan korban sipil. Insiden ini terjadi di tengah meningkatnya eskalasi antara Israel dan Hezbollah, dan menihilkan upaya gencatan senjata.
