Rupiah Melemah di Tengah Penguatan Dolar AS Imbas Ketegangan Timur Tengah

10 Mei 2026 01:05 10 Mei 2026 01:05

Dinda Ayu A., Rahmat Rifadin

Redaksi Ketik.com
Thumbnail Rupiah Melemah di Tengah Penguatan Dolar AS Imbas Ketegangan Timur Tengah

Donald Trump sebelumnya sempat menyaksikan simulasi peluncuran rudal dari kapal induk USS George H.W. Bush pada 2025 lalu. Kapal induk tersebut menjadi salah satu dari tiga armada utama yang kini berada di kawasan Teluk guna mendukung operasi Angkatan Laut Amerika Serikat (Getti Image)

KETIK, JAKARTA – Ketegangan di kawasan Timur Tengah kembali meningkat usai muncul laporan mengenai insiden militer antara Amerika Serikat dan Iran di wilayah Selat Hormuz. Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) menyatakan Iran melancarkan serangan terhadap kapal perusak berpeluru kendali Angkatan Laut AS yang tengah melintas menuju Teluk Oman pada Kamis (7/5/2026).

Perkembangan situasi tersebut memicu kekhawatiran pasar global terhadap stabilitas pasokan energi dunia. Sentimen geopolitik turut mendorong kenaikan harga minyak mentah internasional, sementara dolar Amerika Serikat terapresiasi terhadap sejumlah mata uang global, termasuk rupiah.

Kepala Ekonom Permata Bank, Josua Pardede, menyatakan pelemahan rupiah meningkat seiring memanasnya tensi geopolitik di Timur Tengah.

“Tensi di Timur Tengah kembali meningkat pasca penyerangan AS ke Iran di hari ini. Alhasil, harga minyak global kembali meningkat dan dolar AS kembali terapresiasi secara luas,” ujarnya, dilansir dari Antara pada Jumat, 8 Mei 2026.

Sementara itu, mengutip Sputnik Internasional, Juru Bicara Markas Besar Pusat Khatam al-Anbiya, Ebrahim Zolfaghari, menyatakan Iran menuduh Amerika Serikat melakukan pelanggaran keamanan di sejumlah wilayah, termasuk kawasan Pelabuhan Khamir, Kota Sirik, Pulau Qeshm, serta terhadap dua kapal Iran. Menurut pihak Iran, situasi tersebut kemudian diikuti serangan balasan terhadap kapal perang Amerika Serikat di sekitar timur Selat Hormuz dan selatan Pelabuhan Chabahar.

Meningkatnya tensi geopolitik tersebut langsung berdampak pada pasar energi global. Dikutip dari The Wall Street Journal, berdasarkan data penutupan perdagangan Jumat, 8 Mei 2026, kontrak futures Brent ditutup menguat 1,2 persen ke level USD101,29 per barel, sedangkan minyak mentah WTI naik 0,6 persen menjadi USD95,42 per barel. Penguatan harga terjadi di tengah kekhawatiran pasar terhadap potensi terganggunya distribusi minyak global akibat meningkatnya tensi geopolitik di kawasan Timur Tengah. 

Di pasar keuangan global, dolar Amerika Serikat tercatat menguat seiring meningkatnya permintaan investor terhadap aset safe haven di tengah ketidakpastian geopolitik dunia. Kondisi tersebut turut memberikan tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah yang ditutup melemah 49 poin ke level Rp17.382 per dolar AS pada perdagangan Jumat (8/5/2026), dibandingkan posisi sebelumnya di Rp17.333 per dolar AS. (*)

Tombol Google News

Tags:

Donald Trump Rupiah Melemah Konflik Timur Tengah AS Dollar AS

Berita Lainnya oleh Dinda Ayu Anggraeni