KETIK, YOGYAKARTA – Jika Indonesia adalah sebuah simfoni besar, maka Yogyakarta adalah salah satu petikan indahnya. Di kota ini, keberagaman bukan sekadar konsep di atas kertas, melainkan udara yang dihirup setiap hari. Namun, menjaga keharmonisan di atas panggung kemajemukan tentu bukan hal yang mudah. Dibutuhkan tangan yang cekatan, kepala yang dingin, dan hati seluas samudra.
Nilai-nilai itulah yang kini menjadi napas perjuangan Paulus Freddy Krisanjaya, S.Si. Pada Rabu (2/9/2026), pria asal Bangka Belitung ini resmi dilantik oleh Kepala Kanwil Kementerian Agama DIY, Ahmad Bahiej, sebagai Pembimbing Masyarakat (Pembimas) Kristen yang baru. Bagi Freddy, jabatannya bukanlah sekadar deretan huruf di atas plakat nama, melainkan sebuah amanat moral yang sakral.
Kisah Freddy adalah sebuah narasi tentang ketekunan yang menemukan takdirnya. Dua dekade lalu, ia menginjakkan kaki di Yogyakarta sebagai seorang pemuda perantauan, menimba ilmu teologi di Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW). Di ruang-ruang kuliah itulah ia menempa ketajaman berpikir secara analitis dan sistematis.
Takdir pula yang membawanya masuk ke dalam lingkaran pengabdian negara di bawah panji Kementerian Agama. Kini, sang alumnus teologi itu kembali ke Yogyakarta—bukan lagi sebagai mahasiswa yang membawa ransel buku, melainkan sebagai nakhoda baru yang memegang kemudi pelayanan umat Kristiani di DIY.
Bagi Freddy, transisi dari dunia akademik ke birokrasi pemerintahan bukanlah sebuah lompatan asing. Jika dalam dunia sains kebenaran diuji melalui eksperimen dan pembuktian empiris, maka dalam birokrasi keagamaan, kebenaran diuji melalui ketulusan niat, transparansi proses, dan dampak nyata yang dirasakan oleh masyarakat.
Pelantikan yang berlangsung khidmat di Aula Lantai 3 Kanwil Kemenag DIY awal September lalu menyisakan pesan yang tajam. Kakanwil Kemenag DIY, Ahmad Bahiej, mengingatkan agar para pejabat tidak pernah mengorbankan integritas demi mempertahankan jabatan.
Kakanwil Kemenag DIY, Kabag TU, dan Pembimas Kristen DIY
Pesan itu meresap kuat dalam sanubari Freddy. Pria ramah ini percaya bahwa kursi Pembimas Kristen menuntutnya untuk tidak sekedar menjadi administrator di belakang meja, melainkan sosok yang hadir sebagai jembatan dialog, perangkul perbedaan, dan pelayan yang transparan.
“Jabatan boleh berganti dan tempat pengabdian bisa berpindah, tetapi tanggung jawab moral kepada masyarakat, negara, dan Tuhan Yang Maha Esa akan terus melekat,” ujar Freddy merefleksikan filosofi kerjanya.
Ia memastikan kehadiran Kementerian Agama benar-benar nyata di tengah umat Kristiani DIY: mulai dari kemudahan akses pelayanan yang humanis, pembinaan yang inklusif, hingga penguatan moderasi umat yang membumi.
Zaman telah berubah, dan tantangan di depan mata kian kompleks. Seorang Pembimas Kristen hari ini tidak lagi cukup hanya pandai berkhotbah; ia harus adaptif terhadap isu-isu kebangsaan, penguatan kerukunan antarumat beragama, peningkatan kualitas pendidikan keagamaan, hingga digitalisasi birokrasi agar pelayanan publik kian cepat dan transparan.
Berbekal ketenangan khas seorang pemikir dan kepekaan sosial seorang pelayan, Freddy siap membawa Bimas Kristen Kanwil Kemenag DIY melangkah lebih progresif. Ia memegang teguh trilogi kriteria: benar dalam niat, benar dalam proses, dan benar dalam hasil.
Di bawah kepemimpinannya, Bimas Kristen DIY tidak dicitrakan sebagai lembaga birokrasi yang kaku, melainkan sebuah “rumah yang nyaman” bagi umat untuk mendapatkan pelayanan terbaik. Lebih dari itu, unit ini diproyeksikan sebagai mitra strategis pemerintah dalam merawat miniatur kebinekaan di bumi Mataram.
Bagi Paulus Freddy Krisanjaya, babak baru ini baru saja dimulai. Di atas tanah Yogyakarta—tempat di mana toleransi dirawat setiap hari—komitmennya begitu benderang: melayani dengan hati, berpikir jernih, bertindak lurus, dan menjaga toleransi mercusuar tetap menyala terang. (*)
