KETIK, SURABAYA – Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa meninjau langsung rumah warga penerima bantuan renovasi Rumah Tidak Layak Huni (Rutilahu) di Dusun Daja, Desa Bates, Kabupaten Sumenep, pekan lalu.
Peninjauan tersebut menjadi bagian dari rangkaian peringatan Hari Jadi ke-81 Provinsi Jawa Timur sekaligus upaya memastikan bantuan bedah rumah memberikan manfaat bagi masyarakat untuk memperoleh hunian yang layak, aman, dan sehat.
Dalam kunjungannya, Gubernur Khofifah meninjau rumah milik Santi B. Ali (85) di Dusun Daja, Desa Bates, yang menerima bantuan senilai Rp40 juta, serta rumah Fatima (90) di Dusun Tajjan Laok, Desa Slopeng, dengan bantuan sebesar Rp25 juta.
Bantuan renovasi rumah Santi bersumber dari BAZNAS Provinsi Jawa Timur sebesar Rp20 juta dan BAZNAS Kabupaten Sumenep sebesar Rp20 juta. Sementara itu, bantuan untuk rumah Fatima berasal dari BAZNAS Provinsi Jawa Timur sebesar Rp20 juta dan Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) Jawa Timur sebesar Rp5 juta.
Selain dua penerima tersebut, terdapat tiga penerima manfaat lainnya sehingga total lima warga Sumenep menerima bantuan bedah rumah dalam rangka Hari Jadi ke-81 Provinsi Jawa Timur.
Dukungan pendanaan tersebut merupakan wujud sinergi BAZNAS tingkat provinsi dan kabupaten serta BUMD Jawa Timur dalam membantu memenuhi kebutuhan dasar masyarakat, khususnya warga yang membutuhkan perbaikan tempat tinggal.
Setibanya di Desa Bates, Gubernur Khofifah menyempatkan diri berbincang dengan Santi. Ia menanyakan kondisi keluarga dan aktivitas sehari-hari perempuan berusia 85 tahun tersebut.
“Tinggal di sini sama siapa?” tanya Khofifah.
Khofifah juga menanyakan keseharian Santi yang berjualan sapu lidi di pasar setiap Jumat. Sebagai bentuk dukungan terhadap usaha yang dijalankannya, Khofifah turut membeli sapu lidi dagangan Santi.
“Biasanya jualan sapu lidi di mana, Nenek Santi?” tanya Khofifah.
Pada kesempatan itu, Khofifah menegaskan bahwa program Rutilahu tidak hanya berfokus pada perbaikan bangunan, tetapi juga memperhatikan kelayakan hunian, ketersediaan sanitasi, dan kesehatan lingkungan tempat tinggal penerima manfaat.
“Pemerintah terus menghadirkan hunian yang layak, sehat, dan berkeadilan bagi seluruh masyarakat. Bagaimana kondisi bangunannya, apakah sanitasi memadai atau tidak, kita upayakan hal tersebut,” ungkap Khofifah.
Menurutnya, rumah merupakan kebutuhan dasar yang berpengaruh terhadap kualitas hidup masyarakat. Karena itu, penanganan rumah tidak layak huni perlu dilakukan secara berkelanjutan agar kelompok berpenghasilan rendah memiliki tempat tinggal yang memenuhi standar kesehatan dan keselamatan.
Khofifah menambahkan bahwa perhatian terhadap warga miskin dan kelompok rentan perlu diperkuat melalui program yang menyentuh kebutuhan mendasar. Hunian yang layak diharapkan dapat memberikan perlindungan serta rasa aman dan nyaman bagi penghuninya.
“Tentu harapannya kebutuhan dasar masyarakat terkait rumah layak huni, terutama untuk warga miskin di Jawa Timur, dapat terpenuhi,” katanya.
Untuk memperluas jangkauan program, Khofifah menekankan pentingnya kolaborasi antara Pemprov Jatim, pemerintah kabupaten, BAZNAS, dan BUMD Jawa Timur. Sinergi tersebut diperlukan agar semakin banyak warga yang membutuhkan dapat memperoleh bantuan perbaikan rumah.
Ia juga menekankan pentingnya penyelesaian renovasi tepat waktu agar rumah segera dapat ditempati oleh penerima manfaat.
“Penguatan dan perluasan untuk Rutilahu harus membangun sinergi bersama BAZNAS. Kuncinya sinergi, sinergi, sinergi. Selain itu ditargetkan selesai satu bulan jadi butuh tiga minggu lagi,” jelasnya.
Sementara itu, Suhatmina (45), anak Fatima (90), menyampaikan rasa syukur dan terima kasih atas perhatian Gubernur Khofifah serta bantuan bedah rumah yang didukung BAZNAS Provinsi Jawa Timur dan BUMD Jawa Timur.
Ia menceritakan bahwa sebelum mendapatkan bantuan, kondisi rumah ibunya memprihatinkan. Sejumlah bagian bangunan mengalami kerusakan sehingga kurang aman untuk ditempati.
“Atap jebol, kamar mandi mau rubuh dan lantai sudah mau ambles,” ungkapnya.
Suhatmina menyambut baik renovasi tersebut karena memberikan harapan bagi ibunya untuk menempati rumah yang lebih layak, aman, dan nyaman.
“Saya sebagai anak mengucapkan terima kasih sekaligus bahagia dan bangga ibu saya sudah dibantu bedah rumah sehingga bisa tinggal dengan layak,” ungkapnya.
Ungkapan terima kasih juga disampaikan Istriawati (30), perwakilan keluarga Santi. Ia mengungkapkan bahwa Santi telah tinggal seorang diri di rumah yang tidak layak huni selama kurang lebih lima tahun.
Ia mengapresiasi perhatian Gubernur Khofifah serta dukungan BAZNAS Provinsi Jawa Timur dan BAZNAS Kabupaten Sumenep yang memungkinkan rumah Santi diperbaiki secara menyeluruh.
“Ibu tinggal sendiri dan rumah tidak layak huni selama 5 tahun. Terima kasih rumah dibenahi secara total. Mulai bangunannya, atap, kamar tidur, kamar mandi dan WC semua diperbaiki,” pungkasnya.(*)
