Pemilih Muda Bukan Sekadar Angka, Anggota DPRD Sidoarjo Beber Kriteria Calon Pemimpin

27 Oktober 2026 17:16 27 Okt 2026 17:16

Fathur Roziq

Editor
Thumbnail Pemilih Muda Bukan Sekadar Angka, Anggota DPRD Sidoarjo Beber Kriteria Calon Pemimpin

Anggota Komisi A DPRD Kabupaten Sidoarjo dari Fraksi PKB Saifuddin Affandi (dua dari kiri) berbicara kepada audiens saat menjadi narasumber di SMK YPM 3 Taman pada Selasa (27 Oktober 2026)(Foto: Anas/Ketik.com)

KETIK, SIDOARJO – Suara anak muda bukan sekadar angka dalam pemilu. Di balik satu suara, ada harapan tentang pendidikan, lapangan kerja, hingga masa depan bangsa. Karena itu, generasi muda, khususnya pemilih pemula, harus berani menentukan pilihan berdasarkan akal sehat, bukan sekadar ikut-ikutan atau terpengaruh popularitas di media sosial.

Pesan tersebut disampaikan anggota Komisi A DPRD Kabupaten Sidoarjo H Saifuddin Affandi dari Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) saat menjadi narasumber dalam kegiatan sosialisasi pendidikan pemilih di SMK YPM 3 Taman, Sidoarjo.

Mengusung materi “Jadi Pemilih Cerdas, Bukan Sekadar Ikut-ikutan”, Saifuddin mengajak para pelajar untuk memahami pentingnya hak pilih sekaligus memiliki keberanian menentukan sikap secara mandiri. Menurutnya, pemilih pemula memiliki peran strategis dalam menentukan kualitas kepemimpinan dan arah pembangunan pada masa mendatang.

Ia menegaskan, generasi muda tidak boleh hanya mengenali calon pemimpin dari nama, wajah, atau popularitasnya. Lebih dari itu, pemilih harus mampu menilai rekam jejak, integritas, kompetensi, serta program kerja yang ditawarkan.

"Jadilah pemilih yang menggunakan akal sehat, hati nurani, dan pertimbangan yang matang. Jangan memilih hanya karena ajakan teman, popularitas di media sosial, atau sekadar mengikuti tren," menjadi pesan utama Saifuddin dalam kegiatan tersebut, Selasa (27 Oktober 2026).

Politik Dekat dengan Kehidupan Anak Muda

Saifuddin menjelaskan, politik bukan hanya urusan elite atau orang dewasa. Berbagai kebijakan yang berkaitan langsung dengan kehidupan masyarakat, termasuk pendidikan, biaya kuliah, lapangan kerja, dan kondisi perekonomian, tidak terlepas dari proses politik dan keputusan para pemangku kebijakan.

Karena itu, para pelajar perlu memahami bahwa partisipasi politik memiliki hubungan erat dengan masa depan mereka. Sikap apatis terhadap politik justru dapat membuat generasi muda kehilangan kesempatan untuk ikut menentukan arah kebijakan yang berdampak pada kehidupannya.

Menurutnya, pemilih pemula harus mulai membangun kesadaran politik sejak dini. Tidak cukup sekadar menggunakan hak pilih, mereka juga perlu memahami konsekuensi dari pilihan yang dijatuhkan.

Pemilih yang cerdas, lanjutnya, adalah mereka yang mampu mempertimbangkan berbagai informasi secara kritis dan tidak mudah terpengaruh oleh ajakan pihak lain.

Lima Indikator Menilai Calon Pemimpin

Dalam pemaparannya, Saifuddin juga memberikan panduan kepada para siswa agar tidak terburu-buru menentukan pilihan hanya berdasarkan popularitas calon, termasuk konten yang viral di media sosial seperti TikTok.

Ada lima indikator yang perlu diperhatikan sebelum memilih pemimpin maupun wakil rakyat.

Pertama, rekam jejak, yakni melihat pengalaman, prestasi, dan kontribusi nyata calon kepada masyarakat. Kedua, visi dan misi, dengan memastikan program yang ditawarkan realistis, terukur, serta mampu menjawab kebutuhan masyarakat, terutama generasi muda.

Ketiga, integritas, yaitu komitmen calon terhadap kejujuran, pemberantasan korupsi, dan penolakan terhadap praktik politik uang. Keempat, kompetensi, yakni kemampuan calon memahami serta menyelesaikan persoalan pendidikan, ekonomi, lapangan kerja, dan kebutuhan masyarakat.

Kelima, konsistensi, yaitu kesesuaian antara perkataan, janji, dan tindakan nyata.

Melalui lima indikator tersebut, Saifuddin berharap para pelajar terbiasa berpikir kritis sebelum menentukan pilihan. Mereka juga diharapkan tidak mudah terkecoh oleh pencitraan atau janji politik yang tidak disertai bukti dan program yang jelas.

Foto Para murid SMK YPM 8 Sidoarjo saat mengikuti jalannya sosialisasi pendidikan pemilihan bagi pemilih muda. (Foto: Anas/Ketik.com)Para murid SMK YPM 8 Sidoarjo yang juga mengikuti jalannya sosialisasi pendidikan pemilihan bagi pemilih muda dengan narasumber anggota DPRD Sidoarjo Saifuddin Affandi. (Foto: Anas/Ketik.com)

Waspadai Hoaks dan Politik Uang

Selain mendorong pemilih bersikap kritis, Saifuddin mengingatkan tiga tantangan yang perlu diwaspadai generasi muda dalam menghadapi dinamika politik, yakni hoaks, ujaran kebencian, dan politik uang.

Menurutnya, derasnya arus informasi digital menuntut pemilih pemula lebih teliti dalam menerima maupun membagikan informasi. Setiap kabar yang beredar harus diperiksa kebenarannya agar tidak ikut menyebarkan berita bohong atau provokasi.

Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga persaudaraan di tengah perbedaan pilihan politik. Penyebaran ujaran kebencian yang membawa isu suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA) harus dihindari karena berpotensi merusak persatuan masyarakat.

Tak kalah penting, para siswa diminta memahami bahaya politik uang yang dapat merusak kualitas demokrasi. Iming-iming uang atau pemberian menjelang pemilihan tidak seharusnya mengalahkan pertimbangan mengenai masa depan masyarakat.

Saifuddin menekankan bahwa suara pemilih memiliki nilai yang jauh lebih besar daripada keuntungan sesaat. Sebab, pemimpin yang terpilih akan menentukan berbagai kebijakan yang berdampak dalam jangka panjang.

Para pemilih juga perlu mengetahui saluran pelaporan resmi, termasuk melalui Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu), apabila menemukan dugaan pelanggaran pemilu sesuai ketentuan yang berlaku.

Bekal Menggunakan Hak Pilih

Materi sosialisasi turut membahas hak dan persyaratan pemilih, pentingnya memastikan status dalam daftar pemilih, serta tata cara memberikan suara secara sah.

Para siswa diperkenalkan pada pentingnya memeriksa status pendaftaran melalui kanal resmi Komisi Pemilihan Umum (KPU) dan memahami prosedur pemungutan suara sesuai jenis pemilihan.

Pengetahuan tersebut menjadi bekal agar pemilih pemula dapat menggunakan hak pilih dengan benar dan menghindari kesalahan yang berpotensi menyebabkan suara tidak sah.

Melalui kegiatan ini, Saifuddin berharap para pelajar SMK YPM 3 Taman tumbuh menjadi generasi yang tidak hanya memiliki pengetahuan politik, tetapi juga mampu mengambil keputusan secara mandiri dan bertanggung jawab.

Pada akhir kegiatan, para peserta diajak meneguhkan komitmen sebagai pemilih pemula yang bertanggung jawab, menggunakan hak pilih, menolak politik uang dan hoaks, serta menentukan pilihan berdasarkan hati nurani.

Bagi Saifuddin, demokrasi yang berkualitas tidak hanya bergantung pada siapa yang terpilih, tetapi juga pada kualitas masyarakat dalam menentukan pilihannya. Semakin cerdas pemilih dalam menilai calon pemimpin, semakin besar pula peluang terwujudnya kepemimpinan yang berintegritas dan berpihak kepada kepentingan masyarakat. (nas/*)

Tombol Google News

Tags:

Pemilih muda DPRD Sidoarjo KPU Sidoarjo ypm