KETIK, JEMBER – Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK) Fakultas Dakwah UIN KHAS Jember 2026 tampil dengan konsep berbeda. Di tengah agenda pengenalan kehidupan akademik, mahasiswa baru justru diajak keluar dari ruang kelas untuk melakukan aksi nyata menjaga lingkungan.
Sebanyak 280 mahasiswa baru, termasuk mahasiswa internasional dari Afghanistan, Nigeria, dan Thailand, terlibat dalam gerakan penanaman pohon dan “Sedekah Oksigen” di lingkungan Fakultas Dakwah.
Bukan sekadar seremoni, para mahasiswa turun langsung memegang bibit, menggali tanah, hingga menanam pohon secara bersama-sama. Aktivitas tersebut turut melibatkan Komunitas Sahabat Alam Jember yang diwakili ketuanya, Parmuji.
Kegiatan ini sekaligus menjadi cara Fakultas Dakwah menerjemahkan nilai-nilai pendidikan ke dalam tindakan konkret. Mahasiswa tidak hanya diperkenalkan dengan program studi, organisasi kemahasiswaan, maupun tradisi akademik, tetapi juga diajak memahami bahwa status sebagai insan akademik membawa tanggung jawab terhadap lingkungan dan masyarakat.
Dekan Fakultas Dakwah UIN KHAS Jember, Prof. Dr. Fawaizul Umam, M.Ag., mengatakan penanaman pohon sengaja dimasukkan dalam rangkaian PBAK untuk membangun kesadaran ekologis mahasiswa sejak hari pertama mereka menjadi bagian dari perguruan tinggi.
“Mahasiswa jangan hanya pintar secara akademik, tetapi juga harus memiliki kepedulian terhadap lingkungan. Menanam pohon hari ini mungkin terlihat sederhana, tetapi dari sinilah kita belajar bahwa kehidupan membutuhkan kontribusi dan kepedulian kita bersama,” ujarnya.
Menurut Fawaizul, konsep “Sedekah Oksigen” memiliki makna yang lebih luas daripada sekadar aktivitas penghijauan. Pohon yang ditanam hari ini, kata dia, merupakan bentuk kebaikan yang manfaatnya dapat dirasakan orang lain bahkan ketika penanamnya sudah tidak lagi berada di kampus.
“Ketika kita menanam pohon, sebenarnya kita sedang memberikan sesuatu yang mungkin tidak langsung kita nikmati. Kita memberikan oksigen, kesejukan, dan kehidupan untuk orang lain. Inilah bentuk sedekah yang manfaatnya terus mengalir,” katanya.
Ia berharap gerakan tersebut tidak berhenti setelah PBAK berakhir. Kesadaran merawat lingkungan diharapkan menjadi bagian dari karakter mahasiswa selama menjalani pendidikan di kampus dan ketika mereka kembali berbaur dengan masyarakat.
Ketua Komunitas Sahabat Alam Jember, Parmuji, menyambut positif langkah Fakultas Dakwah yang menjadikan aksi lingkungan sebagai bagian dari pengenalan mahasiswa baru.
Menurutnya, keterlibatan mahasiswa dalam penanaman pohon merupakan momentum penting untuk membangun kesadaran bahwa persoalan lingkungan bukan hanya tanggung jawab pemerintah atau komunitas tertentu.
“Sedekah oksigen ini bukan sekadar menanam pohon. Ini adalah gerakan untuk menyadarkan kita bahwa udara bersih adalah kebutuhan semua manusia. Ketika kita menanam satu pohon, kita sedang menyiapkan kehidupan untuk hari ini dan masa yang akan datang,” tutur Parmuji.
Ia juga memberikan perhatian khusus terhadap keterlibatan mahasiswa internasional dalam kegiatan tersebut.
“Saya sangat mengapresiasi mahasiswa dari berbagai negara yang ikut menanam dan menyerahkan pohon. Lingkungan tidak mengenal batas negara. Siapa pun kita, dari mana pun kita berasal, mempunyai tanggung jawab yang sama untuk menjaga bumi,” tegasnya.
Parmuji berharap kegiatan serupa dapat dikembangkan menjadi gerakan yang lebih besar, baik di lingkungan kampus maupun di tengah masyarakat.
Bagi mahasiswa internasional, kegiatan tersebut menjadi pengalaman yang tidak sekadar berkaitan dengan lingkungan, tetapi juga membuka ruang interaksi lintas budaya.
Arezo, mahasiswa asal Afghanistan, mengaku senang dapat terlibat langsung dalam penanaman pohon bersama mahasiswa Indonesia.
“Saya sangat senang bisa ikut menanam pohon bersama teman-teman. Ini pengalaman yang sangat baik bagi saya. Menanam pohon bukan hanya tentang lingkungan, tetapi juga tentang memberikan sesuatu yang baik untuk masa depan,” ungkapnya.
Ia juga menilai kegiatan tersebut menjadi kesempatan untuk mengenal lebih dekat kehidupan mahasiswa di Indonesia.
“Saya merasa senang bisa belajar dan melakukan kegiatan bersama mahasiswa Indonesia. Kami berasal dari negara yang berbeda, tetapi ketika menjaga lingkungan, kita mempunyai tujuan yang sama,” katanya.
Konsep PBAK tersebut memperlihatkan bahwa pengenalan kehidupan kampus tidak harus selalu berlangsung melalui penyampaian materi di dalam ruangan. Pesan tentang pentingnya membaca, berdiskusi, dan menulis sebagai bagian dari keberhasilan akademik juga mulai diterjemahkan melalui aksi sosial dan lingkungan.
Satu bibit pohon mungkin terlihat sederhana. Namun ketika ratusan mahasiswa menanam dan merawatnya secara bersama-sama, aktivitas tersebut dapat tumbuh menjadi budaya baru di lingkungan kampus.
PBAK Fakultas Dakwah UIN KHAS Jember 2026 pun meninggalkan pesan yang lebih luas: menjadi mahasiswa bukan hanya tentang mengejar nilai dan gelar, tetapi juga tentang belajar memberi manfaat.
Dari halaman fakultas, pesan itu dimulai dengan cara sederhana-menanam pohon, merawat bumi, dan menyedekahkan oksigen untuk generasi yang akan datang. (*)
