Hadapi Tantangan Era Society 5.0, Pakar Pendidikan UIN Maliki Tekankan Kurikulum Berbasis Cinta

Acara di MI Cemorokandang Kota Malang

13 Oktober 2026 06:21 13 Okt 2026 06:21

Nurul Aliyah, Rahmat Rifadin

Redaksi Ketik.com
Thumbnail Hadapi Tantangan Era Society 5.0, Pakar Pendidikan UIN Maliki Tekankan Kurikulum Berbasis Cinta

Madrasah Ibtidaiyah (MI) Cemorokandang, Kota Malang menggelar kegiatan Workshop Kurikulum Berbasis Cinta: Membangun Guru Inspiratif dan Peserta Didik Berkarakter yang digelar pada Sabtu, 10 Oktober 2026. (Foto: Dok. Pribadi)

KETIK, MALANG – Menghadapi tantangan era Society 5.0, Madrasah Ibtidaiyah (MI) Cemorokandang, Kota Malang menggelar kegiatan Workshop Kurikulum Berbasis Cinta: Membangun Guru Inspiratif dan Peserta Didik Berkarakter yang digelar pada Sabtu, 10 Oktober 2026.

Kegiatan yang dimulai pukul 07.30 WIB ini bertujuan untuk memperkuat kualitas pendidikan berbasis karakter dan nilai-nilai kemanusiaan kepada para guru dan tenaga kependidikan MI Cemorokandang Kota Malang. 

Kegiatan yang berlangsung di ruang pertemuan MI Cemorokandang tersebut menghadirkan Dr. Mohamad Zubad Nurul Yaqin, M.Pd., pakar pendidikan dari UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, sebagai narasumber utama. 

Workshop ini didampingi langsung oleh Kepala MI Cemorokandang, Siswiyatiningsih, S.Pd., serta diikuti seluruh jajaran dewan guru dan tenaga kependidikan.

Forum diskusi ini menjadi langkah strategis madrasah dalam membangun ekosistem pendidikan yang tidak hanya berorientasi pada capaian akademik, tetapi juga menanamkan nilai spiritual, emosional, sosial, dan karakter kepada peserta didik.

KBC Jadi Jawaban Tantangan Pendidikan Modern

Dalam pemaparannya, Dr. Mohamad Zubad Nurul Yaqin menyoroti berbagai tantangan pendidikan di tengah pesatnya perkembangan teknologi.

Era Society 5.0 yang menawarkan kemudahan dan kecepatan, menurut materi yang disampaikan, juga menghadirkan tantangan berupa pergeseran nilai sosial, kecenderungan ketergantungan pada teknologi, penyebaran hoaks, hingga persoalan mentalitas peserta didik.

Kondisi tersebut menuntut guru untuk tidak sekadar menjalankan fungsi sebagai penyampai materi pelajaran. Lebih dari itu, pendidik perlu mengambil peran sebagai pembimbing yang mampu membangun hubungan positif, menumbuhkan empati, serta mengembangkan potensi peserta didik secara utuh.

Kurikulum Berbasis Cinta (KBC), sebagaimana dirujuk dalam Keputusan Direktur Jenderal Pendidikan Islam Nomor 6077 Tahun 2025, menjadi salah satu pendekatan yang dibahas untuk menghadirkan nilai-nilai cinta dalam proses pembelajaran.

Melalui pendekatan ini, cinta tidak hanya dimaknai sebagai ungkapan kasih sayang, tetapi juga sebagai landasan dalam membangun interaksi edukatif, menciptakan lingkungan belajar yang aman, serta mengembangkan karakter peserta didik.

Guru diharapkan mampu mengintegrasikan nilai cinta dalam empat kompetensi utama, yakni pedagogik, kepribadian, sosial, dan profesional. Dengan demikian, pembelajaran tidak berhenti pada transfer pengetahuan, tetapi turut menjadi proses memanusiakan manusia.

Foto Penyerahan piagam kepada Dr. Mohamad Zubad Nurul Yaqin, M.Pd., pakar pendidikan dari UIN Maulana Malik Ibrahim Malang dari guru dan tendik MI Cemorokandang Kota Malang. (Foto: Dok. Pribadi)Penyerahan piagam kepada Dr. Mohamad Zubad Nurul Yaqin, M.Pd., pakar pendidikan dari UIN Maulana Malik Ibrahim Malang dari guru dan tendik MI Cemorokandang Kota Malang. (Foto: Dok. Pribadi)

Guru Dibekali Strategi Pembelajaran Holistik dan Integratif

Tidak sekadar menyampaikan konsep, workshop ini juga memberikan pemahaman mengenai perancangan dan implementasi pembelajaran berbasis cinta secara lebih komprehensif.

Para peserta mendapatkan penguatan tentang desain pembelajaran yang holistik dan integratif dengan menginternalisasikan lima dimensi nilai cinta, meliputi cinta kepada Tuhan, diri sendiri, sesama manusia, lingkungan, dan negara. 

Selain itu, peserta dibekali pemahaman mengenai metode pembelajaran yang interaktif dan eksploratif, penyusunan tahapan pembelajaran, penilaian yang komprehensif, hingga praktik mendesain bahan ajar yang relevan dengan prinsip Kurikulum Berbasis Cinta.

Melalui materi tersebut, guru diharapkan mampu menghadirkan pembelajaran yang lebih kontekstual, menyenangkan, dan bermakna. 

Peserta didik tidak hanya didorong untuk menguasai pengetahuan, tetapi juga belajar menghargai perbedaan, menjaga lingkungan, membangun kepedulian sosial, serta mengembangkan tanggung jawab.

Pendekatan ini sekaligus menjadi bagian dari upaya mewujudkan lingkungan madrasah yang ramah anak, dengan mengedepankan rasa aman, penghargaan terhadap martabat peserta didik, serta hubungan yang positif antara guru dan siswa.

Kepala Madrasah Dorong Implementasi Nyata di Kelas

Kepala MI Cemorokandang, Siswiyatiningsih, S.Pd., menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya workshop tersebut. Dengan berjalannya kegiatan ini, besar harapannya untuk bisa menjadi implementasi yang berkelanjutan 

"Saya berharap kegiatan ini tidak berhenti sebagai forum berbagi pengetahuan, tetapi dapat ditindaklanjuti melalui penerapan nyata dalam kegiatan belajar mengajar," ujarnya.

Menurut harapan yang disampaikan dalam kegiatan tersebut, nilai-nilai Kurikulum Berbasis Cinta perlu hadir dalam keseharian pembelajaran sehingga tercipta suasana kelas yang aman, hangat, nyaman, dan menginspirasi.

Implementasi tersebut diharapkan dapat memperkuat peran guru sebagai pendidik yang tidak hanya mengembangkan kemampuan intelektual siswa, tetapi juga membimbing pertumbuhan karakter, spiritualitas, dan kecerdasan emosional mereka.

Bagi MI Cemorokandang, penguatan kompetensi pendidik melalui workshop ini menjadi bagian penting dalam merespons perubahan zaman tanpa kehilangan nilai-nilai kemanusiaan dan spiritualitas yang menjadi fondasi pendidikan madrasah.

Ditutup dengan Penyerahan Sertifikat

Rangkaian workshop diakhiri dengan penyerahan sertifikat penghargaan kepada narasumber, dilanjutkan dengan sesi foto bersama seluruh peserta. 

Suasana kebersamaan yang terbangun sepanjang kegiatan mencerminkan semangat para pendidik MI Cemorokandang untuk terus belajar, beradaptasi, dan meningkatkan kualitas pembelajaran.

Melalui Workshop Kurikulum Berbasis Cinta ini, MI Cemorokandang Kota Malang diharapkan semakin siap menghadirkan pendidikan yang adaptif terhadap perkembangan teknologi, sekaligus tetap berpijak pada nilai kasih sayang, keteladanan, dan pembentukan karakter.

Sebab, di tengah kemajuan teknologi dan perubahan sosial yang begitu cepat, pendidikan yang berkualitas bukan hanya tentang seberapa banyak pengetahuan yang dikuasai peserta didik, melainkan juga tentang bagaimana mereka tumbuh menjadi manusia yang berakhlak, berempati, dan bertanggung jawab.(*)

Tombol Google News

Tags:

Mi Cemorokandang UIN Malang UIN Maliki Malang Kampus Malang Mi Malang Kota Malang