KETIK, PROBOLINGGO – September 2026 menjadi bulan penuh kebanggaan bagi MAN 2 Kota Probolinggo. Dalam rentang waktu berdekatan, madrasah dikenal dengan jargon MandaPro SAKTI itu berhasil menorehkan prestasi di dua bidang berbeda sekaligus.
Satu tim membawa pulang medali emas dari ajang nasional EXTRANAS 2026 di Lamongan, sementara seorang siswi berhasil menyumbangkan dua medali perak dari kejuaraan Jawa Timur Archery Series 2026 di Malang.
Prestasi pertama datang dari ajang Expo MA Plus Keterampilan Nasional (EXTRANAS) 2026. Acara ini digelar pada 10 -13 September di Sport Center Lamongan dan MAN 1 Lamongan.
Kegiatan diikuti MA Plus Keterampilan dan Madrasah Aliyah Kejuruan Negeri (MAKN) dari berbagai daerah di Indonesia itu mengusung tema “Berdaya Saing Global, Berkarakter Lokal.”
Di tengah persaingan antar madrasah dari berbagai provinsi, MAN 2 Kota Probolinggo berhasil mencuri perhatian melalui kategori Lomba Video Profil MA Plus Keterampilan. Karya diproduksi tim siswa madrasah tersebut dinilai unggul dan mengantarkan mereka meraih medali emas.
Tim peraih emas itu adalah Ali Subadar, dari kelas XI-A6, Trisnazifa Durrotun Nasihah, dari XI-A2, dan Aira Tsabitah Syifani, dari XI-A7. Mereka berhasil menyajikan video profil tidak hanya menampilkan identitas madrasah, tetapi juga menggambarkan berbagai program keterampilan ciri khas MAN 2 Kota Probolinggo.
Kebanggaan madrasah tidak berhenti di Lamongan. Sebelumnya, peserta didik MAN 2 Kota Probolinggo juga mencatatkan prestasi di arena olahraga panahan tingkat provinsi.
Fatimathus Zahra Tifany Soenarto, siswi kelas X-B, sukses meraih dua medali perak dalam kejuaraan Jawa Timur Archery Series 2026 Stage 2. Acara tersebut berlangsung pada 24 - 30 Agustus di Lapangan Sudirman, Dodikjur Rindam V/Brawijaya, Kota Malang.
Kejuaraan diikuti atlet panahan dari berbagai daerah di Jawa Timur dan digelar dalam rangka Hari Ulang Tahun ke-66 Rindam V/Brawijaya.
Dalam kompetisi itu, Zahra, yang memperkuat Probolinggo Archery Sport, tampil konsisten hingga berhasil meraih posisi kedua pada Divisi Paralon Putri serta posisi kedua pada nomor Mixed Team Divisi Paralon Umum.
“Yang susah dalam panahan, adalah mempertahankan konsentrasi selama pertandingan. Memang bukan perkara mudah. Faktor cuaca, tekanan kompetisi, hingga kestabilan teknik menjadi penentu hasil akhir,” kata Zahra.
Dia juga mengaku performanya stabil sepanjang perlombaan dan menutup kejuaraan dengan dua medali perak.
Kepala MAN 2 Kota Probolinggo, Abd. Ghofur, menyebut capaian itu sebagai hasil dari proses panjang melibatkan kreativitas, kerja sama tim, dan kemauan belajar para siswa.
“Prestasi ini menunjukkan peserta didik mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi sekaligus menghasilkan karya yang memiliki nilai kompetitif di tingkat nasional,” ujarnya, Kamis 17 September 2026.
Dia menilai prestasi anak didiknya menjadi bukti madrasah memiliki potensi beragam dan mampu bersaing pada berbagai bidang. “Keberhasilan Fatimathus Zahra meraih dua medali perak di tingkat Jawa Timur merupakan pencapaian membanggakan. Hasil ini menunjukkan bahwa siswa MAN 2 Kota Probolinggo memiliki disiplin, ketekunan, dan daya saing yang baik. Kami berharap prestasi ini menjadi motivasi bagi peserta didik lainnya untuk terus mengembangkan bakat yang dimiliki,” katanya.
Masih menurut Abd Ghofur, jika medali emas EXTRANAS menjadi representasi keberhasilan di bidang kreativitas digital, maka dua medali perak diraih Zahra menjadi simbol ketangguhan dalam olahraga prestasi. Dua capaian tersebut memperlihatkan wajah MAN 2 Kota Probolinggo yang tidak terpaku pada satu bidang unggulan, melainkan mendorong peserta didik berkembang sesuai potensi masing-masing.
Komite MAN 2 Kota Probolinggo, Djando, mengatakan, beberapa tahun terakhir, madrasah tersebut memang aktif mendorong keseimbangan antara pencapaian akademik dan non-akademik. Berbagai program pengembangan bakat terus diperkuat. Mulai dari keterampilan berbasis teknologi, olahraga, seni, hingga kegiatan keagamaan.
“September 2026 pun menjadi catatan tersendiri bagi keluarga besar MAN 2 Kota Probolinggo. Dari arena nasional di Lamongan hingga lapangan panahan di Malang, nama madrasah kembali terdengar melalui karya dan prestasi para siswanya,” ujar pria asli NTB itu.
“Satu tim mengangkat trofi emas melalui kreativitas visual, sementara seorang atlet muda membawa pulang dua medali perak melalui ketepatan bidikan. Dua panggung berbeda, dua cerita berbeda, tetapi memiliki pesan yang sama, prestasi lahir dari kerja keras, latihan yang konsisten, dan keberanian untuk bersaing,” tutup pria juga berprofesi sebagai lawyer tersebut. (*)
