KETIK, MALANG – Siswa baru kelas X SMAN Taruna Nala Jawa Timur mulai menjalani kehidupan asrama yang menerapkan kedisiplinan tinggi. Untuk menjaga ketertiban dan mencegah penimbunan, pihak sekolah membatasi jenis serta jumlah barang bawaan, termasuk makanan ringan (snack) yang boleh dibawa siswa.
Humas SMAN Taruna Nala Jatim, Abdul Ghofir, menjelaskan ketentuan tersebut tertuang dalam surat edaran yang disebarkan melalui komite sekolah dan bersifat mengikat.
"Surat edaran tentang makanan, snack, atau susu yang boleh dibawa taruna ke Ksatrian Nala sudah di-share lewat komite sekolah. Sekolah menghendaki tidak ada penimbunan makanan, sehingga perlu pembatasan jumlah makanan yang dibawa. Semua kebijakan diambil untuk kenyamanan dan ketertiban di asrama," ujarnya, Kamis 15 Oktober 2026.
Siswa diperbolehkan membawa maksimal dua jenis makanan ringan dari kategori yang telah ditentukan dan memiliki batas jumlah yang berbeda. Untuk kategori snack ciki, siswa diperbolehkan membawa satu bungkus ukuran sedang. Sementara itu, wafer dan biskuit dibatasi masing-masing satu buah, bukan satu pak. Ketentuan serupa berlaku untuk cokelat, yang jumlahnya dibatasi maksimal satu buah, bukan satu pak.
Adapun makanan ringan seperti stik balado, stik bawang, stik usus, dan roti kering, dibatasi maksimal 250 gram atau seperempat kilogram. Batas jumlah yang sama juga berlaku untuk kategori keripik, termasuk keripik tempe, keripik singkong, basreng, dan keripik buah.
Selain camilan, surat edaran juga mengatur batasan untuk bubur kemasan, susu bubuk, susu kotak, minuman sereal, teh, hingga gula kemasan.
"Untuk makanan ringan jumlahnya terbatas yang diperbolehkan sesuai dalam edaran. Jika sudah habis para taruna bisa membeli lewat koperasi sekolah atau kantin. Di mana jajanan yang dijual di kantin mayoritas adalah jajanan basah serta buah potong," lanjutnya.
Kendati demikian, sekolah tidak mempermasalahkan apabila terdapat siswa maupun wali siswa yang tidak menghendaki membawa makanan ringan tersebut. Pihak sekolah menegaskan tidak mewajibkan siswa membawa camilan. Pembatasan ini justru dilakukan agar para taruna tidak berlebihan mengonsumsi makanan kurang sehat.
"Selain itu di kantin juga tersedia kios jus buah segar, saya yakin taruna yang sudah terbiasa dengan pola hidup sehat saat di rumah bisa diteruskan saat di sekolah. Ini mendukung kesiapan para taruna dalam mempersiapkan diri dengan budaya disiplin serta hidup sehat yang berkelanjutan," tegasnya.
SMAN Taruna Nala menerapkan kebijakan pengawasan konsumsi makanan harian untuk memastikan siswa memperoleh nutrisi yang cukup dan bergizi guna mendukung daya saing mereka.
"Semua proses makan dilakukan secara terpimpin, maka semua taruna terpantau makannya saat makan bersama di ruang makan. Untuk snack bawaan ini yang di luar kontrol dari pembina sehingga jumlah yang bisa dibawa kami batasi. Hanya opsi saja, malah lebih bagus jika tidak membawa," pungkasnya.(*)
