Presiden Prabowo: Dengan B50 Indonesia Tak Lagi Impor Solar

9 Juli 2026 19:23 9 Jul 2026 19:23

Al Ahmadi

Editor
Thumbnail Presiden Prabowo: Dengan B50 Indonesia Tak Lagi Impor Solar

Presiden Prabowo Subianto secara resmi meluncurkan Biodiesel B50 bertajuk "Langkah Nyata untuk Kemandirian dan Ketahanan Energi Nasional" di Rest Area KM 57, Kabupaten Karawang, Provinsi Jawa Barat, pada Kamis, 9 Juli 2026. (Foto: BPMI Setpres/Cahyo)

KETIK, JAKARTA – Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto secara resmi meluncurkan Program Mandatori Biodiesel B50 bertajuk "Langkah Nyata untuk Kemandirian dan Ketahanan Energi Nasional" di Rest Area KM 57, Kabupaten Karawang, Jawa Barat, Kamis, 9 Juli 2026.

Peluncuran tersebut menjadi tonggak penting dalam upaya mewujudkan kemandirian energi nasional sekaligus menandai Indonesia sebagai negara pertama di dunia yang menerapkan mandatori Biodiesel B50.

Sebelum peresmian, Presiden Prabowo meninjau Walk-in Gallery yang menampilkan proses produksi hingga implementasi Biodiesel B50.

Selanjutnya, Presiden mengikuti rangkaian acara yang diawali dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya, pembacaan doa, serta laporan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia.

Dalam laporannya, Menteri Bahlil menyebut peluncuran Biodiesel B50 merupakan langkah strategis pemerintah dalam mewujudkan kedaulatan energi sebagaimana menjadi bagian dari Asta Cita Presiden Prabowo.

"Hari ini kita tidak hanya meluncurkan B50, tapi kita juga mengambil suatu langkah besar menuju Indonesia yang makin berdaulat di sektor energi sesuai dengan Asta Cita Bapak Presiden," ujar Bahlil.

Ia menjelaskan, kebutuhan konsumsi solar nasional selama ini mencapai sekitar 38 hingga 40 juta kiloliter per tahun, dengan impor produk solar berkisar 3 hingga 4 juta kiloliter setiap tahunnya. Namun melalui implementasi Biodiesel B50, Indonesia kini tidak lagi mengimpor solar.

"Awalnya kita itu masih impor kurang lebih sekitar 3 sampai 4 juta kiloliter per tahun. Dengan implementasi B50, maka alhamdulillah kita tidak lagi melakukan impor produk solar ke negara kita dan ini adalah pertama kali," ungkapnya.

Sementara itu, Presiden Prabowo menegaskan bahwa keberhasilan penerapan Biodiesel B50 bukan sekadar pencapaian teknologi, tetapi bukti kemampuan Indonesia memanfaatkan sumber daya alamnya sendiri untuk kepentingan rakyat.

"Dengan diluncurkan program ini, Indonesia resmi menjadi negara pertama di dunia yang menerapkan mandatori Biodiesel B50. Ini bukan sekadar pencapaian teknologi, ini adalah bukti bahwa Indonesia mampu memanfaatkan kekayaan alamnya sendiri untuk kepentingan rakyatnya sendiri. Ini adalah tonggak yang sangat penting dalam perjalanan menuju kemandirian energi," kata Presiden.

Didampingi Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia, Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM Rosan Roeslani, serta Direktur Utama PT Pertamina (Persero) Simon Aloysius Mantiri, Presiden kemudian menekan tombol sirene sebagai tanda dimulainya implementasi nasional Biodiesel B50.

"Bismillahirrahmanirrahim, pada siang hari ini, Kamis, 9 Juli 2026, dengan rahmat Tuhan Yang Maha Besar, saya Prabowo Subianto, Presiden Republik Indonesia, dengan ini secara resmi saya luncurkan Biodiesel B50," ucap Presiden.

Dalam kesempatan tersebut, Prabowo juga menegaskan bahwa kedaulatan sebuah bangsa ditentukan oleh kemampuannya memenuhi kebutuhan strategis secara mandiri, yakni pangan, energi, dan air.

"Kelangsungan hidup suatu bangsa antara lain ditentukan oleh tiga hal. Pertama, mampukah bangsa itu menghasilkan pangannya untuk rakyat sendiri. Kedua, mampukah bangsa itu memiliki energi sendiri, tidak tergantung bangsa lain. Yang ketiga, mampukah negara itu juga memiliki sumber air," ujarnya.

Presiden menyampaikan bahwa Indonesia telah berhasil mencapai swasembada pangan lebih cepat dari target yang ditetapkan pemerintah.

"Alhamdulillah kita sudah buktikan bahwa kita mampu mengamankan dan menghasilkan pangan untuk rakyat kita. Kita sudah swasembada pangan. Dari target empat tahun, kita telah berhasil dalam satu tahun," katanya.

Selain itu, pemerintah juga terus mempercepat pengembangan berbagai sumber energi nasional, mulai dari panas bumi, batu bara, gas alam hingga compressed natural gas (CNG) yang dinilai memiliki potensi besar di berbagai wilayah Indonesia.

Presiden menegaskan, kemandirian energi menjadi salah satu prioritas utama pemerintah di tengah ketidakpastian global. Bahkan sejak awal masa pemerintahannya, ia telah meminta jajarannya mempercepat implementasi energi berbasis bahan baku dalam negeri.

"Saya dorong, saya menuntut dari tim saya kemandirian energi. B40 tidak cukup. Bahkan pada saat itu saya mendorong ke arah B100. Tapi menteri-menteri saya meyakinkan saya, Pak, dengan B50 saja kita sudah tidak impor solar lagi dari luar negeri. Jadi ini adalah suatu prestasi bangsa yang luar biasa," tegasnya.(*)

Tombol Google News

Tags:

Prabowo Subianto Bahlil Lahadalia Airlangga Hartarto Rosan Roeslani Simon Aloysius Mantiri Kabupaten Karawang JAWA BARAT Rest Area Km 57 Biodiesel B50 Kementerian ESDM PT Pertamina Asta Cita Kemandirian Energi Swasembada energi Impor solar Kelapa Sawit