Dzurriyah Hasan Gipo Ketum PBNU Pertama: Muktamar NU di Tambakberas Simbol Ajakan Pulang ke Muassis

19 Agustus 2026 21:04 19 Agt 2026 21:04

M. Rifat, Rahmat Rifadin

Redaksi Ketik.com
Thumbnail Dzurriyah Hasan Gipo Ketum PBNU Pertama: Muktamar NU di Tambakberas Simbol Ajakan Pulang ke Muassis

Ketua Yayasan Insan Keturunan Sagipoddin (IKSA) yang merupakan Dzurriyah H Hasan Gipo (Ketua Umum PBNU pertama) H Abd Wachid Zen bersama Rais Aam PBNU KH. Miftachul Akhyar. (Foto: Dok. Narasumber)

KETIK, SURABAYA – Ketua Yayasan Insan Keturunan Sagipoddin (IKSA) yang merupakan Dzurriyah H Hasan Gipo (Ketua Umum PBNU pertama) H Abd Wachid Zen menilai Muktamar ke-35 NU di Pesantren Tambakberas, Jombang pada 27-31 Agustus 2026 merupakan simbol ajakan pulang (kembali) pada nilai-nilai warisan muassis/pendiri untuk Abad Kedua NU.

“Sebagai ketua Yayasan IKSA (Insan Keturunan Sagipoddin), kami sangat berharap Muktamar ke-35 NU nanti  betul-betul mewujudkan nilai-nilai organisasi yang diwariskan para muassis, termasuk H Hasan Gipo. Jadi, muktamar kali ini ibarat pulang pada nilai-nilai warisan muassis atau kembali pada teladan muassis,” katanya di Surabaya, Rabu 19 Agustus 2026.

Zen yang juga Ketua II Pengurus Takmir Masjid Agung Sunan Ampel itu menjelaskan Muktamar ke-35 NU merupakan muktamar pertama di Abad Kedua NU (2026-2126), karena itu muktamar kali ini perlu menengok peran/kiprah NU di Abad Pertama sebagai Pendiri Bangsa agar NU di Abad Kedua menjadi Penjaga Peradaban Bangsa.

Untuk itu, pelaksanaan Muktamar ke-35 NU perlu merujuk pada teladan para muassis dalam ber-NU, seperti H Hasan Gipo saat menjadi Ketua Umum PBNU yang mendampingi KHM Hasyim Asy’ari selama 9 tahun (1926-1934) dengan satu niat yakni khidmah atau fokus dalam ngopeni (melayani) jamaah (masyarakat), apalagi lokasi muktamar di Tambakberas.

“H Hasan Gipo sebagai petinggi PBNU itu betul-betul berkhidmah ke NU dan ulama, beliau tidak sulit ditemui jamaah dan tidak mencari penghidupan di NU, apalagi niat mencari  dukungan agar bisa duduk di pemerintahan. Beliau adalah teladan ketulusan, khumul, dan tidak mencari popularitas. Beliau adalah tokoh NU yang nyaris tak tersorot dan tidak viral, bahkan situs makamnya di sisi timur Masjid Ampel pun baru terlacak pada 2020-2021,” katanya.

Nama lengkap dari Hasan Gipo adalah Hasan Basri. Ia lahir di Kampung Sawahan Ampel Surabaya pada tahun 1869, tepatnya di kawasan Jalan Ampel Masjid. Dia  berasal dari keluarga besar Sagipoddin (Gipo) sehingga nama tersebut disematkan di belakang namannya menjadi Hasan Gipo.

Secara silsilah, Hasan Gipo merupakan generasi ketiga dari Bani Gipo, yakni H Abdulloh (ayah), H Tarmidzi (kakek), dan Gipo/H Sagipoddin (buyut/leluhur), jadi Hasan Basri bin Abdullah, bin Tarmidzi, bin Sagipoddin, sehingga menjadi Hasan Gipo. Asal-usul dari Bani Gipo juga masih memiliki hubungan darah dengan Sunan Ampel.

Dari jalur keturunan Gipo itu pula, Hasan Gipo memiliki hubungan kekerabatan dengan KH Mas Mansur (Muhammadiyah), karena sama-sama keturunan Sagipoddin/Gipo, tapi KH Mas Mansur dari jalur Perempuan yakni Hj Roudho bin Tarmidzi, sedangkan Hasan Gipo dari jalur laki-laki. Jadi, keluarga Sagipodin memiliki akar kuat di NU dan Muhammadiyah.

“Hasan Gipo merupakan seorang saudagar kaya yang kekayaannya diperoleh dari  kakeknya, diantaranya ekspor palawija/rempah ke luar negeri, impor beras , ketan, pakaian, dan memiliki pergudangan di kawasan Kalimas, serta menyewakan rumah inap dan mempunyai pasar di Pabean Cantikan, Surabaya,” katanya.

Namun, kekayaannya yang melimpah itu banyak digunakan untuk pergerakan/NU. Hasan Gipo-lah yang mendanai Komite Hijaz ke Saudi Arabia untuk memperjuangkan paham bermadzhab/Aswaja, sehingga akhirnya Komite Hijaz menjadi cikal bakal lahirnya NU dan KHA Wahab Hasbullah sebagai penggagas/muassis NU pun merasa terbantu Hasan Gipo.  

“Hasan Gipo pula yang selalu mengantar Kiai Wahab menemui para aktivis pergerakan yang ada di Surabaya, seperti HOS Cokroaminoto dan dr Soetomo, sehingga Kiai Wahab pun berkenalan dengan para murid HOS Cokroaminoto, seperti Soekarno, Kartosoewirjo, Muso, SK Trimurti, dan sebagainya. Hasan Gipo sangat menjunjung tinggi faktor keulamaan,” katanya.

Dari perjuangan harta, raga, dan pemikiran itulah, Hasan Gipo akhirnya menerima penunjukan/penugasan sebagai  Ketua Tanfidziyah PBNU  yang pertama sejak Muktamar ke-1 di Surabaya (1926) hingga Muktamar ke-9 di Banyuwangi (1934) atau selama 9 tahunan, karena dinilai sosok yang lengkap, karena mengenyam pendidikan umum ala  Belanda dan pendidikan ala pesantren serta akrab dengan masyarakat dan ulama.

“Hasan Gipo terlahir dari kalangan santri  yang sedari kecil dipondokkan di sekitar Surabaya, seperti Pesantren Dresmo-Surabaya, Pesantren Ngelom Sepanjang-Sidoarjo, dan Pesantren Buduran-Sidoarjo, juga sempat sekolah umum ala Belanda karena keluarga mapan. Sayang sekali, jasa perjuangannya di NU kurang diketahui, karena fotonya jarang dipajang pada acara NU, namun khidmah beliau kepada NU perlu diteladani PBNU,” katanya. (*)

Tombol Google News

Tags:

PBNU Hasan Gipo Muktamar NU Tambakberas jombang