Gus Mujab: Al-Qur'an Perintahkan Cek Kebenaran Berita atau Informasi

19 September 2026 18:05 19 Sep 2026 18:05

Agitha Putri I. R., Muhammad Faizin

Redaksi Ketik.com
Thumbnail Gus Mujab: Al-Qur'an Perintahkan Cek Kebenaran Berita atau Informasi

Gus Mujab dalam Kajian Senja Al-Yasmin di Ballroom Pensantren Digipreneur Al-Yasmin, Surabaya pada Rabu, 16 September 2026.

KETIK, SURABAYA – Pengasuh Pesantren Darut Ta’lim an-Nawawi, Ampel, Surabaya, KH A Mujab Muthohar (Gus Mujab) menyatakan Al-Qur'an memerintahkan pengecekan kebenaran berita atau informasi dan melarang mencaci maki.

"Surah Al-Hujarat dalam Alqur'an dikatakan para ahli tafsir sebagai Surat Akhlak atau Surat Etika," ujarnya dalam Kajian Senja Al-Yasmin di Ballroom Pesantren Digipreneur Al-Yasmin Surabaya pada Rabu, 16 September 2026.

Dalam kajian episode ke-28 yang bertemakan "Kompas Akhlak (bagian 2 atau renungan Surat Al-Hujurat)" itu, Gus Mujab menjelaskan ayat 1 sampai 5 dari Surat Al-Hujurat terkait akhlak saat berada di hadapan Rasulullah di antaranya, tidak meninggikan suara di hadapan Rasulullah dan dilarang memanggil Rasulullah dengan berteriak dari belakang rumah Nabi.

"Sahabat yang sowan juga diminta bersabar menunggu sampai Rasulullah keluar dari rumah, bukan teriak-teriak," ujarnya, mengulang kajian bagian 1 tentang Surat Al-Hujurat dalam kajian episode sebelumnya.

Untuk kajian bagian 2 ini, Surah Al-Hujurat ayat ke-6 sampai ke-8 mengajarkan pentingnya mencari tahu kebenaran berita atau informasi dan melarang mencaci orang. 

"Al-Qur'an mengajarkan bila ada orang fasik yang datang membawa berita, maka kita disuruh meneliti, jangan mudah percaya. Bisa jadi, keteledoran atau ketidaktelitian kita akan membahayakan orang lain sehingga terjadi penyesalan," ucap Gus Mujab.

Latar belakang adanya perintah pengecekan kebenaran informasi itu ada banyak bentuk, salah satunya dari hadis yang diriwayatkan Abdullah Ibnu Abbas bahwa ketika pajak untuk orang kafir dzimmi (non-Islam) dan zakat untuk Muslim, maka Nabi pernah mengutus Walid bin Utbah ke Bani Mustholid, keduanya tidak ada kecocokan.

Saat Walid datang, maka Bani Mustholid langsung keluar kampung, sehingga Walid menganggapnya ajakan perang dan Walid pun pulang melapor kepada Nabi bahwa Bani Mustholid tidak mau membayar zakat, maka turunlah ayat ini. Mereka datang bukan untuk mengajak perang, tetapi justru datang untuk menyambut.

Walid dianggap ceroboh karena memberi kesimpulan tanpa konfirmasi dan bisa menyebabkan perang yang nyata, hal ini menjadi persepsi sendiri. Akhirnya, ada perintah Al-Qur'an untuk mencari tahu kembali sehingga Nabi tidak mau menerima laporan Walid.

"Jadi, kalau ada berita apapun, jangan langsung percaya dan cerita dulu," ujar Gus Mujab.

Sementara itu, ayat ke-7 memerintahkan untuk mendamaikan bila ada dua saudara beriman yang bertengkar. Syaratnya, menjadi penengah harus adil dan tidak memihak saudara sendiri.

"Ayat itu turun juga dari riwayat Anas bin Malik. Nabi pernah mau berkunjung ke Saad bin Ubadah. Tiba-tiba, Nabi berpapasan dengan Abdullah bin Ubaid bin Salul (pimpinan Munafik tapi mukmin) Nabi sedang naik khimar/keledai. Salul bilang air kencing khimar itu baunya menyengat. Sahabat Nabi Abdullah bin Ruwahah bilang kalau air kencing khimar yang dinaiki Nabi itu masih lebih wangi daripada bau badanmu," ujarnya.

Turunlah ayat ini akibat Salul berkelahi karena tidak menerima ungkapan itu. Jika ada orang yang memiliki konflik, maka damaikan dengan adil. Juru damai jangan terlalu jujur karena orang yang tidak suka akan terus mencari kesalahan, maka dari itu seorang juru harus bisa mengambil hati keduanya agar bisa tercipta kedamaian.

"Ayat 11 menyatakan jangan merasa lebih tinggi dengan menganggap remeh orang lain, karena bisa jadi orang yang diolok-olok itu lebih baik. Penyebab turun ayat ini, sahabat yang kaya sering mengolok-olok sahabat yang nggak miskin, seperti Bilal, Suhed, Salman, Salim. Bilal yang ahli adzan itu berkulit hitam. Istri Nabi, Sofiya binti Huyai, juga pernah diolok-olok sebagai Yahudi. Selain itu, istri nabi, Ummu Salamah juga pernah diolok-olok bertubuh pendek," ucapnya.

Terkait mencaci maki lewat media sosial, Gus Mujab menyarankan jika mendapat informasi dari media sosial, harus memastikan link dari media yang terpercaya dan jangan meneruskan informasi yang tidak ada memiliki nama penulisnya. 

"Kalau informasi offline bisa konfirmasi ke guru atau narasumber. Konfirmasi informasi atau tabayyun itu penting sebagai validator. Kalau sekarang bisa saja cek informasi di AI atau web, apa ada rujukan atau tidak? Kalau asal share dan  terlanjur salah itu, maka status kita sama dengan orang yang share dan salah itu," ujar Gus Mujab. (*)

Tombol Google News

Tags:

Gus Mujab Kajian Islam Surat Al-hujurat Pesantren Digipreneur