KETIK, GROBOGAN – Kreator konten gaming asal Grobogan, Jawa Tengah, Ahmad Khanif Mutaqim atau MazNife Gaming, membagikan tujuh strategi bermain Free Fire kepada komunitas pemain. Ia menegaskan kemampuan bermain tidak diukur dari jumlah eliminasi, melainkan dari ketepatan membaca situasi dan mengambil keputusan.
Pria kelahiran 26 Juni 2004 itu merintis konten Free Fire sejak 2020. Kini akun TikTok MazNife Gaming menghimpun sekitar 1,4 juta pengikut, kanal YouTube MazNife GAMING sekitar 79.000 subscriber, dan Instagram @maznife.gamint sekitar 2.170 pengikut.
“Menurut saya, main Free Fire itu bukan cuma soal banyak-banyakan kill. Yang lebih penting bagaimana kita bisa membaca situasi, menentukan kapan harus maju dan kapan harus bertahan,” kata Ahmad Khanif Mutaqim atau MazNife Gaming.
Dorongan mengejar eliminasi secara cepat, menurut dia, justru berisiko membuat pemain mengabaikan posisi, perlengkapan, pergerakan zona, hingga kondisi rekan satu tim.
“Kadang pemain terlalu fokus mengejar kill sampai lupa melihat keadaan sekitar. Padahal, satu keputusan yang terburu-buru bisa membuat kita kehilangan kesempatan untuk menang,” ujar MazNife.
Pertama, menentukan lokasi pendaratan. Area yang relatif aman memberi ruang mengumpulkan perlengkapan sebelum berhadapan dengan lawan.
“Kalau baru mulai bermain atau masih belajar, jangan selalu memaksakan turun di tempat yang ramai. Cari tempat yang memungkinkan kita untuk loot dengan aman dan memahami kondisi permainan terlebih dahulu,” kata MazNife.
Kedua, mengenali senjata. Pemilihannya disesuaikan dengan gaya bermain, bukan tren yang sedang populer.
“Senjata yang bagus belum tentu cocok untuk semua pemain. Yang paling penting adalah kita tahu cara menggunakan senjata tersebut dan nyaman ketika memakainya,” ujarnya.
Ketiga, memperhatikan mini-map untuk membaca perubahan zona dan perkiraan keberadaan lawan.
“Jangan cuma lihat musuh di depan. Biasakan juga lihat mini-map karena dari situ kita bisa mendapatkan banyak informasi tentang keadaan sekitar,” tuturnya.
Keempat, menggunakan Gloo Wall sesuai kondisi, bukan sekadar reaksi spontan saat diserang.
“Gloo Wall itu bukan cuma untuk panik ketika ditembak. Kalau penggunaannya sudah terbiasa dan tahu kapan harus memasang, kita bisa lebih mudah mengatur posisi saat duel,” kata MazNife.
Kelima, menentukan waktu menyerang. Menemukan lawan tidak berarti harus langsung menyerang.
“Ketika ketemu musuh, jangan langsung berpikir harus nge-push. Lihat dulu posisi kita, HP, perlengkapan, dan jumlah musuh. Kalau situasinya tidak menguntungkan, mundur atau mencari posisi yang lebih baik juga merupakan strategi,” ujarnya.
Keenam, membangun komunikasi tim untuk membagi peran dan menekan kesalahan koordinasi.
“Kalau main squad, komunikasi itu penting. Tidak harus banyak bicara, tetapi informasi yang disampaikan harus jelas, misalnya posisi musuh, arah pergerakan, atau kapan kita harus maju dan mundur,” katanya.
Ketujuh, melakukan evaluasi seusai pertandingan dengan meninjau kembali keputusan yang diambil.
“Kalau kalah, jangan langsung menyalahkan teman atau menyalahkan keadaan. Coba lihat lagi kesalahan kita sendiri. Dari situ kita bisa tahu apa yang harus diperbaiki di game berikutnya,” tutur MazNife.
Selain teknik bermain, MazNife menyoroti sportivitas. Persaingan dalam pertandingan dinilai tidak seharusnya berujung pada penghinaan maupun perundungan terhadap pemain lain.
“Menang dan kalah itu bagian dari permainan. Jangan sampai karena kalah kita malah menghina atau menjatuhkan pemain lain. Menurut saya, tetap sportif itu jauh lebih penting,” ujar MazNife.
Penekanan itu relevan karena kontennya menjangkau pemain Free Fire dari jenjang SD, SMP, SMA, hingga remaja, baik laki-laki maupun perempuan.
“Kalau kita sudah punya banyak penonton, menurut saya ada tanggung jawab juga. Jangan hanya membuat konten yang ramai, tetapi sebisa mungkin ada pesan positif yang bisa diambil oleh penonton,” kata MazNife.
“Harapannya, pemain Free Fire bukan cuma semakin jago bermain, tetapi juga bisa belajar berpikir sebelum mengambil keputusan dan tetap menghargai pemain lain,” kata MazNife. (*)
