Lewat “Oemoen dengan Sepoetjoek Soeratnja”, Wayang Nganjor Kenalkan Ingatan Budaya Banten di Bandung

18 September 2026 23:58 18 Sep 2026 23:58

Madani Prasetia, Al Ahmadi

Redaksi Ketik.com
Thumbnail Lewat “Oemoen dengan Sepoetjoek Soeratnja”, Wayang Nganjor Kenalkan Ingatan Budaya Banten di Bandung

Wayang Nganjor Indonesia menampilkan pertunjukan Oemoen dengan Sepoetjoek Soeratnja di Gedung Kesenian Sunan Ambu, ISBI Bandung. Pementasan ini mengangkat kisah Pucuk Umun dan jejak sejarah Banten melalui perpaduan wayang, teater, musik, dan tutur.

KETIK, BANDUNG – Kisah Pucuk Umun dan jejak sejarah Banten dihadirkan dalam pertunjukan Oemoen dengan Sepoetjoek Soeratnja di Gedung Kesenian Sunan Ambu, Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung, Kamis, 17 September 2026.

Melalui perpaduan wayang, teater, musik, dan tutur, Wayang Nganjor Indonesia mengajak penonton membaca kembali ingatan kolektif masyarakat Banten, relasi kekuasaan, serta nilai-nilai tradisi yang diwariskan lintas generasi.

Pementasan tersebut menjadi bagian dari rangkaian Reenchantment of Interculturalizing Theatre Traditions yang diselenggarakan Jurusan Teater Fakultas Seni Pertunjukan ISBI Bandung pada 15–17 September 2026. Forum ini mempertemukan seniman, akademisi, dan komunitas teater untuk membahas praktik penciptaan seni berbasis tradisi dan interkulturalitas.

Disutradarai Tirta N. Pratama, pertunjukan ini mengolah kisah Pucuk Umun dan naskah Babad Banten menjadi tafsir panggung yang lebih kontemporer. Cerita mengalir dari kehidupan masyarakat di kawasan hulu hingga pelabuhan, menyinggung perdagangan lada yang pernah menjadi denyut ekonomi Banten, hingga pergulatan seorang pemimpin menghadapi perubahan sosial dan politik.

Dalam cerita, sepucuk surat menjadi simbol yang menghubungkan harapan masyarakat akan datangnya pertolongan dengan konsekuensi yang lahir dari setiap keputusan penguasa. Melalui sudut pandang warga, pertunjukan menghadirkan pertanyaan tentang tanah, kebun, perdagangan, dan kehidupan sehari-hari yang terdampak oleh perubahan zaman.

Salah satu dialog yang menonjol dalam pertunjukan berbunyi, “Di hulu kita menanam. Di hilir kita bertemu dunia.” Kalimat yang diucapkan tokoh Pucuk Umun itu menggambarkan keterhubungan masyarakat Banten dengan akar tradisinya sekaligus keterbukaan terhadap dunia luar.

Tirta N. Pratama menjelaskan, Wayang Nganjor lahir dari semangat berdialog dengan tradisi, bukan sekadar menampilkan ulang cerita lama di atas panggung.

“Nganjor berarti berkunjung. Kami datang membawa bekal, mendengarkan, berunding, mencoba, lalu membagikan kembali pengalaman itu menjadi sebuah pertunjukan,” ujar Tirta dalam seminar Menguji Interkulturalitas melalui Nganjor, Jumat, 18 September 2026.

Menurut Tirta, proses kreatif Wayang Nganjor dibangun melalui perjumpaan dengan pelaku tradisi, manuskrip, sesama seniman, hingga penonton. Setiap masukan menjadi bagian dari keputusan artistik yang terus berkembang selama proses penciptaan karya.

Dari sisi artistik, pertunjukan memanfaatkan benda-benda sederhana yang memiliki fungsi berlapis. Kotak digunakan sebagai ruang penyimpan ingatan, sedangkan kain berubah menjadi sungai, surat, ruang musyawarah, hingga atap rumah. Permainan aktor, wayang, dan musik kemudian menyatukan unsur-unsur tersebut menjadi narasi yang bergerak antara tradisi dan teater modern.

Produksi Oemoen dengan Sepoetjoek Soeratnja menghadirkan Aming Ajen sebagai dalang. Penataan artistik digarap Agung Septiadi, tata cahaya oleh M. Danuar Indar, serta tata musik oleh Dede Iwan Kurniawan dan Parwa Rahayu bersama para aktor dan pemusik Wayang Nganjor Indonesia.

Bagi Wayang Nganjor Indonesia, keikutsertaan dalam forum ISBI Bandung merupakan bagian dari upaya memperkenalkan kebudayaan Banten melalui seni pertunjukan dan pertukaran pengetahuan. Manuskrip, tradisi lisan, dan warisan budaya Banten diolah menjadi karya yang diharapkan dapat memperluas ruang belajar sekaligus memperkenalkan identitas budaya Banten kepada masyarakat yang lebih luas.(*)

Tombol Google News

Tags:

Wayang Nganjor JAWA BARAT