KETIK, NGAWI – Dari bahan pangan sederhana, lahir sebuah inovasi yang menawarkan cita rasa sekaligus peluang ekonomi. Tape pisang dan buah markisa yang selama ini lebih dikenal sebagai bahan pangan lokal, diolah menjadi produk kreatif bernama DOMARTAPI oleh SMAN 1 Kwadungan, Kabupaten Ngawi.
DOMARTAPI merupakan inovasi pangan yang digagas dua guru SMAN 1 Kwadungan, Dra. Hadi Sri Suharti Ernaningsih dan Rubiati, S.Ag., M.Pd. Keduanya mencoba melihat bahan pangan yang ada di sekitar bukan sekadar sebagai makanan sehari-hari, tetapi sebagai komoditas yang dapat dikembangkan menjadi produk bernilai tambah.
Nama DOMARTAPI lahir dari perpaduan tape pisang dan markisa. Dua bahan tersebut kemudian diolah menjadi produk dengan karakter rasa yang khas. Manis dan lembutnya tape pisang berpadu dengan cita rasa asam, segar, serta aroma khas markisa, menghasilkan sensasi yang berbeda dari olahan tape pada umumnya.
Selama ini, tape lebih banyak dikenal melalui beragam makanan tradisional. DOMARTAPI mencoba menghadirkan perspektif lain dengan mengembangkan tape pisang melalui perpaduan bahan lokal dan kreativitas pengolahan.
Lebih dari sekadar menghasilkan produk makanan, inovasi ini menjadi bagian dari upaya memanfaatkan potensi pangan yang tersedia di lingkungan sekitar. Bahan yang sederhana dapat memiliki nilai ekonomi lebih tinggi ketika diolah dengan gagasan, kreativitas, dan pengembangan produk yang tepat.
Siswa SMAN 1 Kwadungan membuat DOMARTAPI (Dokumentasi pribadi Rubiati untuk Ketik.com)
DOMARTAPI resmi diperkenalkan melalui launching pada 30 Juni 2026, bersamaan dengan sejumlah produk inovasi lainnya yang dikembangkan di SMAN 1 Kwadungan. Di antaranya minuman herbal markisa, sambal tabur dari telur asin kalium, sambal wagal, abon wagal, serta berbagai produk olahan lainnya.
Kehadiran sejumlah produk tersebut menunjukkan bahwa pengembangan potensi lokal di lingkungan sekolah tidak berhenti pada proses pembelajaran. Inovasi juga diarahkan agar mampu menghasilkan produk yang dapat dikenalkan dan dimanfaatkan oleh masyarakat.
Untuk saat ini, pemasaran DOMARTAPI masih berada di sekitar lingkungan sekolah. Produk tersebut dititipkan di toko yang berada di dekat sekolah dan telah menjadi mitra Dunia Usaha dan Dunia Industri (DuDi). Meski jangkauannya masih terbatas, langkah tersebut menjadi tahap awal untuk mengenalkan produk sekaligus melihat respons konsumen terhadap inovasi pangan yang dihasilkan.
Pengembangan produk seperti DOMARTAPI juga membuka ruang bagi siswa untuk melihat bahwa potensi pangan lokal dapat menjadi bagian dari peluang kewirausahaan. Proses menciptakan produk, mengemasnya, hingga mengenalkannya kepada konsumen menjadi pengalaman yang dapat memperkuat keterampilan sekaligus kreativitas generasi muda.
Di tengah meningkatnya perhatian terhadap produk pangan lokal dan inovatif, DOMARTAPI menunjukkan bahwa inovasi tidak selalu harus berawal dari bahan yang mahal atau sulit ditemukan. Justru dari bahan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, dapat muncul gagasan yang memiliki nilai ekonomi dan cerita tersendiri.
DOMARTAPI pada akhirnya bukan hanya tentang perpaduan tape pisang dan markisa. Produk ini menjadi gambaran tentang bagaimana potensi lokal dapat diolah menjadi sesuatu yang lebih bernilai, sekaligus menjadi sebuah inovasi yang dapat mendorong kemandirian pangan, kreativitas, dan pemberdayaan ekonomi berbasis potensi daerah.(*)
*Penulis Rubiati Guru SMAN 1 Kwadungan
.png)