KETIK, MALANG – Perawat Kllinik Pratama Universitas Negeri Malang (UM), Imelda Tri Omega, S.Kep., Ns., AIFO mengajarkan pertolongan yang tepat pada cidera ketika berolahraga yang belum banyak orang tahu.
Kaki terkilir atau otot terasa tertarik merupakan kondisi yang sering ditekukan ketika berolahraga. Banyak orang memilih untuk memijat, mengoleskan krim penghangat, hingga tetap melanjutkan kegiatan.
Respons yang menjadi kebiasaan tersebut belum tentu menjadi pertolongan yang tepat. Ketika cedera terjadi, kita perlu memahami kondisi tubuh sebelum mengambil tindakan. Keinginan untuk segera pulih justru dapat berujung pada penanganan yang memperburuk keluhan.
Olahraga memang bermanfaat bagi kesehatan, tetapi risiko cedera tetap ada. Imelda menyampaikan bahwa kurangnya pemanasan, kelelahan, beban latihan berlebihan, dan gerakan yang kurang tepat dapat meningkatkan risiko tersebut. Karena itu, semangat berolahraga perlu diimbangi dengan pengetahuan tentang keselamatan dan pertolongan pertama.
“Semangat menjaga kesehatan melalui olahraga perlu disertai kepedulian terhadap keselamatan diri. Ketika muncul keluhan setelah cedera, jangan memaksakan aktivitas dan carilah pertolongan tenaga kesehatan yang sesuai,” ujar Imelda.
Memahami Pertolongan Awal
Pada dugaan cedera jaringan lunak ringan, seperti keseleo atau cedera otot dan tendon, salah satu pendekatan pertolongan awal yang dikenal adalah PRICE: Protection, Rest, Ice, Compression, dan Elevation. Pendekatan ini membantu menangani keluhan awal, tetapi tidak menggantikan pemeriksaan untuk memastikan jenis dan tingkat keparahan cedera.
Protection berarti melindungi bagian tubuh yang cedera. Hentikan aktivitas pemicu nyeri dan hindari gerakan yang memperberat keluhan. Memaksakan diri menyelesaikan pertandingan atau mencapai target latihan bukanlah pilihan bijak ketika tubuh sudah memberikan tanda adanya masalah.
Berikutnya, Rest, yakni mengistirahatkan bagian yang cedera dari aktivitas yang membebani. Istirahat tidak harus berarti menghentikan seluruh gerakan dalam waktu lama. Setelah nyeri memungkinkan, gerakan ringan dapat dimulai secara bertahap agar sendi dan otot tidak menjadi kaku.
Langkah ketiga adalah Ice atau kompres dingin. Bungkus es dengan handuk tipis, kemudian tempelkan selama sekitar 15–20 menit. Bila diperlukan, ulangi setiap 2–3 jam pada fase awal cedera. Jangan menempelkan es langsung pada kulit.
Selanjutnya, Compression dilakukan menggunakan perban elastis untuk memberikan dukungan pada bagian yang cedera. Balutan harus nyaman dan tidak terlalu ketat.
Sementara itu, Elevation berarti meninggikan bagian yang cedera dengan bantuan bantal, apabila posisi tersebut tidak menambah nyeri. PRICE umumnya digunakan pada 2–3 hari pertama setelah keseleo atau cedera otot.
Mengubah Kebiasaan yang Berisiko
Memahami pertolongan pertama juga berarti mengetahui tindakan yang sebaiknya dihindari. Dalam penanganan awal cedera, dikenal istilah HARM: Heat, Alcohol, Running, dan Massage.
Pada 48–72 jam pertama, hindari panas pada bagian yang baru cedera, konsumsi alkohol, berlari atau melakukan aktivitas yang memperberat keluhan, serta pijatan pada area cedera. Tindakan tersebut dapat meningkatkan pembengkakan atau memperburuk kerusakan jaringan.
Kebiasaan langsung memijat bagian yang terkilir perlu ditinjau kembali. Sebelum diperiksa, kita belum tentu mengetahui apakah keluhan hanya berupa keseleo ringan atau berkaitan dengan cedera yang lebih berat.
Karena itu, penanganan tidak semestinya hanya didasarkan pada anggapan bahwa semua rasa sakit setelah olahraga dapat diatasi dengan urutan.
Persoalannya bukan sekadar memilih kompres atau pijat, melainkan membangun kebiasaan mengambil keputusan berdasarkan kondisi tubuh. Nasihat dari teman dan pengalaman sebelumnya dapat menjadi pertimbangan, tetapi tidak selalu sesuai dengan cedera yang sedang dialami.
Mengetahui Batas Pertolongan Mandiri
Tidak semua cedera dapat ditangani sendiri. Nyeri sangat hebat atau semakin berat, pembengkakan yang besar, dan kesulitan menggunakan anggota tubuh perlu diperiksa.
Anggota tubuh yang berubah bentuk, terasa kebas, atau tampak kebiruan maupun dingin membutuhkan pertolongan segera. Keluhan yang tidak membaik setelah penanganan awal juga perlu dievaluasi tenaga kesehatan.
“Pertolongan pertama merupakan langkah awal. Jika keluhan menetap atau muncul tanda yang mengkhawatirkan, pemeriksaan diperlukan agar pasien memperoleh penanganan sesuai kondisinya,” ungkap Imelda.
Kesadaran mencari pertolongan perlu menjadi bagian dari budaya olahraga. Berhenti ketika cedera bukan tanda lemah. Justru, keputusan tersebut menunjukkan kemampuan mengenali batas tubuh dan menjaga kesempatan untuk kembali beraktivitas dengan aman.
Kembali Bergerak dengan Bijak
Berkurangnya nyeri sering membuat seseorang merasa siap kembali berolahraga. Padahal, pemulihan juga perlu mempertimbangkan kemampuan bergerak dan menggunakan bagian tubuh yang cedera. Aktivitas sebaiknya dimulai secara bertahap. Jika nyeri atau pembengkakan meningkat, kurangi beban aktivitas dan periksakan kondisi bila diperlukan.
Kita perlu mengubah cara memandang keberhasilan dalam olahraga. Keberhasilan tidak hanya diukur dari jarak tempuh, berat beban, atau kemampuan menuntaskan pertandingan, tetapi juga dari kebijaksanaan menjaga tubuh.
Saat cedera terjadi, hentikan aktivitas pemicu nyeri, lakukan pertolongan awal yang sesuai, dan kenali kebutuhan pemeriksaan. Tujuan olahraga adalah memelihara kesehatan. Jangan sampai keinginan untuk terus bergerak justru membuat kita mengabaikan tubuh yang membutuhkan waktu untuk pulih.(*)
