Edukasi Kesehatan Gigi, Dokter Klinik UM Jelaskan Bahaya Karies yang Terabaikan

10 Oktober 2026 04:00 10 Okt 2026 04:00

Nurul Aliyah, Gumilang

Redaksi Ketik.com
Thumbnail Edukasi Kesehatan Gigi, Dokter Klinik UM Jelaskan Bahaya Karies yang Terabaikan

Dokter Gigi Klinik Pratama Universitas Negeri Malang (UM), drg. Hafsah Nurul Ummah, S.KG., memberikan edukasi terhadap karies gigi. (Foto: Humas UM)

KETIK, MALANG – Dokter Gigi Klinik Pratama Universitas Negeri Malang (UM), drg. Hafsah Nurul Ummah, S.KG., memberikan edukasi terhadap karies gigi yang dapat berkembang dan belum banyak orang tahu.

Beberapa orang mungkin pernah merasakan ngilu ketika menikmati es krim atau menyeruput kopi panas. Bahkan banyak orang uang menemukan bercak kecokelatan di permukaan gigi, namun tak terasa sakit. 

Kondisi ini bisa menjadi tanda adanya masalah kesehatan gigi, salah satunya karies atau gigi berlubang. Sayangnya, banyak orang baru menyadari pentingnya merawat gigi ketika rasa sakit mulai mengganggu aktivitas sehari-hari.

Karies gigi bukan sekadar persoalan penampilan atau rasa nyeri. Permasalahan pada gigi ini dapat berkembang secara perlahan tanpa disadari hingga kerusakan gigi semakin parah. 

Dari Data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 terdapat prevalensi karies gigi di Indonesia sebesar 82,8%. Angka tersebut menunjukkan bahwa kesehatan gigi dan mulut masih memerlukan perhatian serius, baik melalui peningkatan kesadaran masyarakat maupun pemeriksaan rutin oleh tenaga kesehatan.

Dokter Gigi Klinik Pratama Universitas Negeri Malang (UM), drg. Hafsah Nurul Ummah, S.KG., memberikan penjelasan bahwa membangun kebiasaan merawat gigi sebelum ada keluhan itu penting. Menurutnya, kesehatan gigi tidak seharusnya baru diperhatikan ketika seseorang mengalami sakit gigi.

“Kesehatan gigi dan mulut perlu dijaga setiap hari, bukan hanya ketika gigi terasa sakit. Pemeriksaan secara berkala juga penting agar masalah pada gigi dapat diketahui lebih awal dan ditangani sebelum berkembang menjadi lebih parah,” ujar drg. Hafsah.

Mengenal Karies, Kerusakan yang Berawal dari Kebiasaan Sehari-hari

Karies gigi merupakan kerusakan jaringan keras gigi yang diakibatkan proses demineralisasi, di mana bakteri di dalam plak menghasilkan asam. Proses tersebut dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk konsumsi gula, kebersihan gigi dan mulut, produksi air liur, serta lamanya paparan asam pada permukaan gigi.

Di dalam rongga mulut, terdapat berbagai jenis mikroorganisme yang hidup secara alami. Ketika seseorang mengonsumsi makanan atau minuman yang mengandung gula, bakteri tertentu memanfaatkan gula tersebut dan menghasilkan asam. Ketika kondisi iki terjadi berulang kali, mineral pada email gigi dapat larut secara bertahap.

Pada tahap awal, kerusakan mungkin belum menimbulkan rasa sakit. Namun, ketika proses demineralisasi berlanjut dan kerusakan semakin dalam, karies dapat berkembang dari lapisan email menuju dentin, bahkan mencapai pulpa yang berisi saraf dan pembuluh darah. Pada tahap tersebut, keluhan dapat berupa ngilu, nyeri spontan, hingga infeksi.

Inilah alasan karies kerap disebut sebagai musuh senyap. Kerusakannya dapat berlangsung tanpa gejala yang jelas pada awal proses. Karena itu, menunggu sampai gigi terasa sakit bukanlah strategi yang tepat untuk menjaga kesehatan gigi dan mulut.

Kebiasaan mengonsumsi makanan manis secara berulang, terlalu sering meminum minuman berpemanis, serta kurang menjaga kebersihan gigi dapat meningkatkan risiko karies. 

Menurut drg. Hafsah, bukan berarti seseorang harus sepenuhnya menghindari semua jenis makanan, melainkan perlu mengatur frekuensi konsumsi gula dan membangun kebiasaan membersihkan gigi dengan benar.

Dampaknya Lebih Besar Dibandingkan dengan Sakit Gigi

Gigi berlubang tidak bisa hanya dianggap dapat menimbulkan rasa sakit. Jika tidak ditangani, karies dapat menyebabkan kerusakan jaringan gigi yang semakin luas, infeksi pada pulpa, terbentuknya abses, hingga kehilangan gigi. Kondisi ini dapat menggangu aktivitas sehari-hari seperti mengunyah, berbicara, dan menikmati makanan.

Dampaknya juga dapat dirasakan dalam kehidupan sosial. Gigi yang rusak, rasa nyeri berkepanjangan, dan bau mulut dapat memengaruhi kenyamanan seseorang saat berinteraksi dengan orang lain. Pada anak-anak, masalah kesehatan gigi dapat mengganggu tidur, konsentrasi belajar, dan aktivitas sehari-hari.

drg. Hafsah juga menyampaikan bahwa kesehatan gigi dan mulut juga berkaitan dengan kondisi kesehatan tubuh secara keseluruhan. Terdapat beberapa penyakit sistemik yang memiliki hubungan dua arah dengan kesehatan periodontal atau jaringan pendukung gigi, seperti diabetes.

Sementara itu, infeksi gigi yang tidak ditangani dapat menyebar ke jaringan di sekitarnya dan menimbulkan komplikasi serius. 

Namun, hubungan tersebut perlu dipahami secara tepat. Tidak setiap gigi berlubang secara langsung menyebabkan penyakit jantung atau komplikasi kehamilan. Meski demikian, menjaga kesehatan gigi dan mulut tetap menjadi bagian penting dari upaya memelihara kesehatan secara menyeluruh.

Pencegahan dari Kebiasaan Sederhana

Sebagian besar kasus karies dapat dicegah melalui kebiasaan yang tepat dan perawatan profesional sesuai kebutuhan. drg. Hafsah menegaskan upaya pencegahan juga tidak harus dimulai dengan langkah yang rumit. Justru, konsistensi dalam melakukan kebiasaan sederhana menjadi kunci utamanya.

Pertama, sikat gigi dua kali sehari menggunakan pasta gigi berfluorida, terutama sebelum tidur malam dan pada waktu lain yang sesuai dengan rutinitas harian, misalnya setelah sarapan. 

Gunakan sikat gigi berbulu lembut dan teknik menyikat yang menjangkau seluruh permukaan gigi, termasuk bagian belakang dan garis pertemuan gigi dengan gusi. Menyikat gigi sebaiknya dilakukan dengan lembut agar tidak melukai gusi atau menyebabkan keausan gigi.

Fluorida berperan membantu memperkuat email gigi dan mendukung proses remineralisasi, yaitu pengembalian mineral pada bagian gigi yang mengalami kehilangan mineral tahap awal. Karena itu, pemilihan pasta gigi berfluorida menjadi salah satu langkah penting dalam pencegahan karies.

Kedua, batasi mengonsumsi makanan dan minuman manis. Selain memperhatikan jumlah gula, penting pula memperhatikan seberapa sering gigi terpapar gula sepanjang hari. 

Kebiasaan menyeruput minuman manis sedikit demi sedikit dalam waktu lama akan membuat gigi lebih sering terpapar asam hasil metabolisme bakteri. Air putih dapat menjadi pilihan utama untuk memenuhi kebutuhan cairan sehari-hari.

Ketiga, bersihkan sela-sela gigi menggunakan benang gigi (dental floss) atau alat pembersih interdental yang sesuai. Sikat gigi saja belum tentu mampu menjangkau seluruh permukaan di antara gigi. Pembersihan sela gigi membantu mengurangi penumpukan plak pada area yang sulit dijangkau.

Keempat, lakukan pemeriksaan gigi secara berkala. Kunjungan ke dokter gigi tidak perlu menunggu munculnya keluhan. Jadwal pemeriksaan dapat disesuaikan dengan kondisi dan tingkat risiko setiap orang berdasarkan rekomendasi dokter gigi.

Apabila terdapat karang gigi, dokter gigi akan menyarankan tindakan pembersihan profesional sesuai kebutuhan.

Karang gigi berbeda dengan karies. Karang gigi merupakan plak yang mengeras dan tidak dapat dihilangkan hanya dengan menyikat gigi, sedangkan karies adalah kerusakan jaringan keras gigi.

Pembersihan karang gigi membantu menjaga kesehatan gusi dan kebersihan rongga mulut, tetapi tidak menggantikan perawatan karies.

Terakhir, jangan mengabaikan tanda awal masalah gigi. Bercak putih, cokelat, atau hitam pada gigi tidak selalu menunjukkan kondisi yang sama.

Pemeriksaan dokter gigi diperlukan untuk memastikan penyebabnya. Jika muncul nyeri spontan, pembengkakan, atau keluhan yang menetap, segera cari pertolongan profesional.

Menjaga Gigi adalah Investasi Kesehatan

drg. Hafsah menyampaikan bahwa karies gigi mengingatkan kita bahwa persoalan kesehatan yang terlihat sederhana dapat berkembang ketika kebiasaan pencegahan diabaikan. Menjaga kesehatan gigi bukan hanya tentang memiliki senyum yang indah, tetapi untuk menjaga fungsi mengunyah, kenyamanan beraktivitas, dan kualitas hidup.

Kesadaran tersebut perlu dibangun sejak dini melalui keluarga, sekolah, lingkungan kerja, dan fasilitas pelayanan kesehatan. Menurut drg. Hafsah, edukasi kesehatan gigi juga harus mendorong masyarakat untuk memahami bahwa pemeriksaan rutin merupakan bagian dari perawatan, bukan sekadar tindakan ketika sakit.

Melawan karies tidak cukup hanya dengan mengandalkan kunjungan ke dokter gigi setelah rasa nyeri muncul. Upaya tersebut perlu dimulai dari rumah dengan kebiasaan menyikat gigi dengan benar, menggunakan pasta gigi berfluorida, membatasi konsumsi gula, membersihkan sela gigi, dan menjalani pemeriksaan berkala.

drg. Hafsah mengingatkan untuk tidak menunggu gigi berlubang semakin dalam untuk mulai peduli. Sebab, langkah kecil yang dilakukan secara konsisten hari ini dapat membantu menjaga kesehatan gigi dan mulut untuk jangka panjang.(*)

Tombol Google News

Tags:

Universitas Negeri Malang Kampus Um Karies Gigi Dokter Gigi Um Klinik Um Kesehatan Gigi