Prof Faisol UIN Malang Ungkap Rekam Jejak Intelektual Islam Nusantara dari Manuskrip Pesantren

31 Agustus 2026 21:44 31 Agt 2026 21:44

Al Ahmadi

Editor
Thumbnail Prof Faisol UIN Malang Ungkap Rekam Jejak Intelektual Islam Nusantara dari Manuskrip Pesantren

Prof. Dr. M. Faisol Fatawi, M.Ag. menyerahkan sertifikat peserta usai menyampaikan materi tentang manuskrip pesantren dan jati diri Islam Nusantara dalam Seminar Turots Internasional di Aula MAN 3 Jombang, Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Ahad, 30 Agustus 2026. (Foto: Faisol Fatawi for Ketik)

KETIK, JOMBANG – Manuskrip pesantren tidak sekadar peninggalan masa lalu yang disimpan sebagai benda bersejarah.

Di dalamnya tersimpan rekaman kehidupan intelektual, tradisi keilmuan, hingga proses pembentukan jati diri Islam Nusantara.

Perspektif tersebut diungkapkan Dekan Fakultas Humaniora UIN Malang sekaligus Sekretaris PCNU Kota Malang, Prof. Dr. M. Faisol Fatawi, M.Ag., dalam Seminar Turots Internasional bertajuk “Khidmah Turots & Keberlangsungan Estafet Keilmuan Ulama Nusantara” di Aula MAN 3 Jombang, Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Ahad, 30 Agustus 2026.

Seminar tersebut merupakan bagian dari rangkaian Turots dalam Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama.

Dalam forum itu, Prof. Faisol mengangkat tema “Manuskrip Pesantren dan Jati Diri Islam Nusantara”.

Ia menjelaskan, manuskrip pesantren menjadi salah satu pintu penting untuk memahami perjalanan Islam di Nusantara, termasuk bagaimana ajaran Islam berkembang, berinteraksi dengan kebudayaan lokal, serta diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Karena itu, manuskrip tidak cukup dipandang hanya sebagai kumpulan teks.

Lebih dari itu, manuskrip merupakan bagian dari sejarah sosial dan intelektual masyarakat pesantren.

Foto Suasana peserta dalam Seminar Turots Internasional di Aula MAN 3 Jombang, Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Ahad, 30 Agustus 2026. (Foto: Faisol Fatawi for Ketik)

Menurut Prof. Faisol, manuskrip menyimpan teks, memori, sekaligus konteks yang dapat menggambarkan cara ulama dan masyarakat pada masa lalu memahami agama serta merespons kondisi sosial di sekitarnya.

Nilai manuskrip pesantren pun tidak berhenti pada aspek material.

Dokumen-dokumen tersebut dapat menjadi sumber untuk menelusuri gagasan, praktik keagamaan, tradisi intelektual, hingga hubungan antara ulama, santri, pesantren dan masyarakat.

Prof. Faisol juga mengajak peserta melihat pesantren sebagai sebuah ekosistem pengetahuan. Di dalamnya terdapat proses transmisi keilmuan yang melibatkan ulama, kitab, santri, pesantren dan masyarakat.

Manuskrip menjadi salah satu medium penting dalam proses tersebut.

Pengetahuan yang terkandung di dalamnya tidak berhenti sebagai teks, tetapi terus mengalami proses pembacaan, pengajaran, penafsiran dan transformasi sehingga tetap dapat hidup di tengah perubahan masyarakat.

Dalam pemaparannya, Prof. Faisol juga menunjukkan sejumlah lapisan manuskrip yang dapat digunakan untuk memahami karakter Islam Nusantara.

Salah satunya melalui penggunaan aksara Pegon yang memperlihatkan bagaimana tradisi keilmuan Islam berinteraksi dengan bahasa dan kebudayaan lokal.

Selain itu, iluminasi, ilustrasi serta berbagai unsur artistik dalam manuskrip menunjukkan kreativitas masyarakat Nusantara dalam mempertemukan estetika dengan spiritualitas.

Dengan demikian, manuskrip menjadi ruang perjumpaan antara teks keagamaan, bahasa, budaya, seni dan pengalaman masyarakat Nusantara.

Namun, menurut Prof. Faisol, upaya pelestarian manuskrip tidak cukup hanya dengan menyelamatkan bentuk fisiknya maupun melakukan digitalisasi.

Tantangan yang lebih besar adalah bagaimana manuskrip tersebut kembali dibaca dan dimaknai sehingga dapat memberikan kontribusi bagi kehidupan masyarakat saat ini.

Ia menawarkan pendekatan “Preserve → Interpret → Activate”.

Manuskrip perlu diselamatkan dan didigitalisasi, kemudian diinterpretasikan secara kontekstual, sebelum akhirnya diaktifkan kembali sebagai sumber pengetahuan bagi kehidupan masa kini.

Foto

Melalui pendekatan tersebut, manuskrip tidak berhenti sebagai benda kuno yang tersimpan di tempat penyimpanan.

Sebaliknya, warisan intelektual tersebut dapat kembali dihidupkan sebagai sumber pengetahuan sekaligus bagian dari pembentukan identitas masyarakat.

Gagasan tersebut juga menempatkan pemahaman terhadap masa lalu sebagai bagian penting dalam mempersiapkan masa depan.

“Memahami masa lalu adalah perisai masa depan” menjadi salah satu pesan penting yang mengemuka dalam presentasi Prof. Faisol.

Melalui manuskrip pesantren, generasi masa kini dapat mengenali jejak kreativitas, kemampuan adaptasi dan tradisi keilmuan ulama Nusantara.

Pada saat yang sama, manuskrip dapat menjadi sumber pengetahuan untuk memperkuat jati diri Islam Nusantara di tengah perubahan zaman.(*)

Tombol Google News

Tags:

Faisol Fatawi UIN Malang PCNU Kota Malang Manuskrip Pesantren Islam Nusantara Turots Internasional Muktamar Ke-35 Nu Pesantren Tambakberas pondok pesantren Jati Diri Islam Tradisi Keilmuan Aksara Pegon Muktamar NU jombang berita jombang info jombang