Ahli Waris Ungkap Sejarah Hogwan Bumiayu, dari Pabrik Tapioka hingga Eksodus 1980-an

31 Agustus 2026 20:06 31 Agt 2026 20:06

Makroni, Al Ahmadi

Redaksi Ketik.com
Thumbnail Ahli Waris Ungkap Sejarah Hogwan Bumiayu, dari Pabrik Tapioka hingga Eksodus 1980-an

Bangunan tua bekas pabrik tepung tapioka Hogwan di RW 03, Desa Dukuhturi, Kecamatan Bumiayu, Kabupaten Brebes, ambruk dan menimpa tiga rumah warga hingga menyebabkan tiga orang meninggal dunia, Minggu, 30 Agustus 2026. (Foto: Rizal for Ketik.com)

KETIK, BREBES – Bangunan tua bekas pabrik tepung tapioka “Hogwan” di RW 03, Desa Dukuhturi, Kecamatan Bumiayu, Kabupaten Brebes, ambruk pada Minggu, 30 Agustus 2026.

Reruntuhan bangunan era kolonial Belanda tersebut menimpa tiga rumah warga dan mengakibatkan tiga orang meninggal dunia, terdiri dari dua anak dan satu lansia.

Bangunan yang belakangan difungsikan sebagai tempat olahraga badminton itu ternyata menyimpan sejarah panjang perkembangan industri di Bumiayu.

Gedung tersebut sebelumnya merupakan pabrik tapioka milik seorang pengusaha keturunan Tionghoa bernama Tiras Hendarmo, yang juga dikenal dengan nama Hoogwan atau Tan Hien Kiat.

Pemegang Kuasa Pengurusan Aset Keluarga Hogwan, Fuad Hasim Padholi, mengatakan bangunan tersebut pada awalnya merupakan pabrik tapioka terbesar milik Tiras di Bumiayu.

“Gedung itu awalnya pabrik tapioka. Kemudian alih fungsi jadi gedung badminton,” ucap Fuad melalui sambungan telepon.

Menurut Fuad, Tiras menikah dengan Cornelia pada 8 Maret 1949.

Dari pernikahan tersebut, keduanya dikaruniai enam orang anak.

Usaha pabrik tapioka yang dijalankan Tiras sempat mengalami masa kejayaan.

Namun, aktivitas pabrik kemudian terhenti menjelang dekade 1980-an akibat konflik sosial anti-Tionghoa.

“Intinya berhenti karena ada konflik rasis anti China. Keluarga lari ke luar negeri,” terang Fuad.

Beberapa tahun kemudian, keluarga Hogwan kembali ke Bumiayu pada era 1980-an dan kembali menjalankan usaha.

Bisnis keluarga tersebut kemudian berkembang ke sejumlah bidang, mulai dari bioskop, pupuk, beras, rice mill hingga pakan ternak.

Namun, setelah Tiras meninggal dunia di Jakarta pada 26 Juni 1992, pabrik tapioka tersebut berhenti beroperasi.

Bangunan bekas pabrik kemudian tidak lagi menjadi bagian dari aset keluarga. Menurut Fuad, gedung tersebut telah dilepas sehingga tidak tercatat dalam aset keluarga Hogwan.

“Sudah dilepas gedung Hogwan. Di dalam catatan keluarga, sudah bukan lagi sebagai aset,” ungkapnya.

Di sisi lain, bangunan Hogwan yang memiliki keterkaitan dengan sejarah industri Bumiayu tersebut ternyata tidak masuk dalam daftar cagar budaya Kabupaten Brebes.

Edison, selaku Tim Ahli Cagar Budaya Brebes, memastikan gedung tersebut tidak tercatat sebagai cagar budaya berdasarkan Peraturan Daerah Kabupaten Brebes Nomor 10 Tahun 2015.

“Memang dilihat dari sejarahnya gedung Hogwan itu dibangun era Kolonial Belanda. Tapi dalam Perda Nomor 10 Tahun 2015 bangunan ini tidak terdaftar sebagai cagar budaya,” beber Edison.

Menurut Edison, penetapan sebuah bangunan sebagai cagar budaya tidak hanya mempertimbangkan usia bangunan.

Bangunan juga harus memiliki nilai sejarah tertentu, termasuk keterkaitannya dengan peristiwa atau kegiatan penting seperti pendidikan maupun kebudayaan.

Dalam Perda Kabupaten Brebes Nomor 10 Tahun 2015, terdapat tujuh objek diduga cagar budaya di Kecamatan Bumiayu.

Ketujuhnya yakni Situs Lumpang Jaran, Jembatan Sakalibel, Stasiun Bumiayu, Rumah Dinas Ka Stasiun, Rumah Dinas Kepala PPKA Stasiun Bumiayu, Menara Air, dan Taman Makam Pahlawan Bumiayu.

Nama Hogwan tidak tercantum dalam daftar tersebut.

Kini, ambruknya bangunan tua tersebut tidak hanya menyisakan duka akibat jatuhnya korban jiwa.

Peristiwa itu sekaligus kembali membuka jejak sejarah bangunan yang pernah menjadi bagian dari perkembangan industri di Bumiayu, dari masa kolonial, dinamika sosial pada era 1980-an, hingga akhirnya berhenti beroperasi dan beralih fungsi.(*)

Tombol Google News

Tags:

Gedung Hogwan Tragedi Bumiayu Cagar Budaya Pabrik Tapioka Kolonial Belanda Hogwan Bumiayu Tiras Hendarmo Fuad Hasim Padholi Dukuhturi Bumiayu Bumiayu Brebes Bangunan Kolonial Cagar Budaya Brebes Ambruk Bangunan Korban Bangunan Sejarah Bumiayu Kabupaten Brebes Berita Brebes Info Brebes