KETIK, NAGEKEO – Ketakutan akan gempa dan tsunami susulan sempat membuat sejumlah warga terdampak gempa bumi di Nusa Tenggara Timur (NTT) menahan staf Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) di posko pengungsian.
Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani mengungkapkan peristiwa itu terjadi karena masyarakat masih dilanda kecemasan akibat gempa berkekuatan magnitudo 7,7 yang mengguncang NTT pada Sabtu, 15 Agustus 2026.
Hal tersebut disampaikan Faisal saat melaporkan perkembangan kondisi pascagempa dalam rapat koordinasi penanganan bencana yang dipimpin Presiden Prabowo Subianto di Nagekeo, Rabu, 26 Agustus 2026.
Menurutnya, staf BMKG yang berada di lokasi terus memberikan pemahaman kepada masyarakat mengenai kondisi kegempaan dan potensi gempa susulan. Namun, tingginya kekhawatiran warga membuat keberadaan petugas BMKG dianggap mampu memberikan rasa aman.
“Di sini kami juga memberikan pembelajaran ke masyarakat, memberi pemahaman karena masyarakat khawatir sekali sampai staf BMKG ditahan di posko-posko agar mereka merasa nyaman, tenang, takut ada gempa susulan dan sebagainya,” ungkap Faisal.
Ia mengatakan, upaya edukasi dan pemberian pemahaman secara bertahap mulai membuahkan hasil. Sejumlah warga yang sebelumnya bertahan di posko kini mulai kembali ke rumah masing-masing.
“Nah, sekarang sudah mulai kembali ke rumah. Rumahnya juga kondisinya satu lantai dan jarang-jarang ini kadang mengambil bantuan ke posko, tapi nanti kembali ke rumah jika kerusakannya ringan, tidak membahayakan. Ini kami memberikan pemahaman seperti itu,” jelasnya.
Dalam rapat tersebut, Faisal juga menjelaskan langkah cepat BMKG ketika gempa magnitudo 7,7 mengguncang wilayah NTT. BMKG langsung menjalankan protokol internasional untuk menyampaikan informasi mengenai potensi tsunami dalam waktu kurang dari tiga menit.
“Sejak hari pertama ketika gempa, kami melaksanakan protokol internasional. Ketika terjadi gempa, maka kurang dari 3 menit kita harus menginformasikan dan menyampaikan potensi tsunami akan terjadi di mana,” ujar Faisal.
Menurutnya, peringatan tsunami berhasil disampaikan melalui seluruh kanal BMKG dalam waktu 2 menit 16 detik setelah gempa terjadi. Tsunami kemudian terjadi di sejumlah lokasi di bagian utara Pulau Flores dengan ketinggian mencapai 2,5 meter.
“Tsunami sendiri terjadi di beberapa lokasi terutama di bagian utara dari Flores ini sampai dengan ketinggian 2,5 meter, tapi tidak ada korban sama sekali, Bapak Presiden,” tuturnya.(*)
.png)