KETIK, MALANG – Akademisi psikologi Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang mengungkapkan bahwa kehadiran suami dalam perawatan bayi akan menurunkan baby blues sebanyak 40 persen pada ibu yang baru melahirkan.
Baby blues menjadi fase yang umum dialami oleh ibu baru atau wanita yang baru saja melahirkan anak, khususnya anak pertama. Banyak orang belum tahu bahwa setiap perempuan akan melewati fase tersebut selama dua minggu. Selama fase tersebut, ibu akan meraskan lonjakan emosional.
Dr. Elok Halimatus Sa'diyah, M.Si., Wakil Dekan II Bidang Administrasi Umum, Perencanaan, dan Keuangan Fakultas Psikologi UIN Malang menyampaikan bahwa 80 persen wanita yang baru melahirkan, khususnya anak pertama akan mengalami fase baby blues yang disebabkan oleh faktor biologis dan lingkungan sosial.
Elok menyampaikan bahwa baby blues adalah fenomena biologis yang wajar terjadi pada ibu melahirkan. Secara biologi, hormon estrogen dan progesteron ibu setelah melahirkan akan naik 50 persen kali lipat. Lonjakan hormon estrogen dan progesteron sangat kuat.
Ia menjelaskan bahwa selain ibu melahirkan, terjadinya lonjakan hormon estrogen juga terdapat pada fase PMS, di mana adanya perubahan emosi. Elok menyebut ketika ibu melahirkan lonjakan hormon estrogen dan progesteron setara 100 kali PMS. Sehingga, perubahan emosi menjadi suatu hal yang dimaklumi.
"Memang itu adalah fenomena biologis semua orang mengalami itu karena memang ketika kita ada perubahan hormon itu, sama kayak PMS. Orang PMS itu kan dari haid orang yang mau haid itu kan biasanya mengalami PMS. PMS itu sebenarnya ada lonjakan hormon estrogen itu juga," ujar Elok.
"Makanya kan itu, kalau PMS itu sudah menunjukkan adanya perubahan emosi, kalau PMS itu tersinggung emosinya. Itu padahal lonjakannya itu sedikit. Orang yang habis melahirkan itu lonjakannya, itu kan 50 kali lipat hormon estrogen sama progesterone. Itu dikatakan oleh para ahli itu hampir setara dengan 100 kali PMS. Sehingga bisa dimaklumi perubahan-perubahan emosinya," imbuhnya.
Tak hanya itu, Elok juga menjelaskan faktor lainnya yang menyebabkan baby blues, seperti kurang tidur, hingga luka nyeri pasca melahirkan.
Menurutnya, wajar ketika terjadi baby blues kepada ibu melahirkan. Ia menjelaskan ciri-ciri baby blues di mana seorang ibu merasa tiba-tiba cemas, menangis tanpa sebab, kelelahan, mudah marah, merasa tidak woth it jadi seorang ibu, merasa tidak bisa atau tidak pintar jadi seorang ibu.
Elok mengatakan bahwa aspek lingkungan menjadi penyebab seseorang mengalami baby blues pasca melahirkan. Ia menjelaskan di mana baby blues dapat terjadi ketika suami tidak membantu mengurus bayi dan lingkungan sekitar yang banyak menuntut.
"Ketika dia tidak ada support dari eksternal, itu akhirnya baby bluesnya menjadi menguat, menjadi semakin parah. Apalagi kemudian misalnya, kumpul sama mertua. Jadi ekspektasi sosial itu sangat kuat kepada dia, sehingga akan semakin menambah, problem-problem psikologis yang sudah dia rasakan. Ini akan memperkuat aspek psikologis yang itu sebenarnya dia alami pada saat sedang baby blues," ucapnya.
Seorang ibu yang baru saja melahirkan sangat membutuhkan dukungan dari lingkungan sosial, khususnya sang suami. Elok menegaskan bahwa suami memiliki peran penting dalam menemani dan membantu ibu pasca melahirkan agar tidak terjadi baby blues yang parah.
Elok menjelaskan bahwa beberapa watak dari ibu akan memperparah risiko baby blues, seperti ibu yang memiliki kelekatan cemas atau anxiety. Kemudian orang-orang yang perfeksionis. Menurutnya orang perfeksionis memiliki standar hidup yang cukup tinggi. Sehingga, ketika pasca melahirkan terjadi tidak sesuai dengan kebiasaan, itu akan memperparah risiko baby blues.
"Secara psikologis ada watak-watak tertentu itu yang semakin membuat baby blues, itu menjadi memuat atau semakin parah, misalnya watak pencemas. Kemudian ada lagi yang orang-orang dengan perfeksionis. Orang-orang perfeksionis itu biasanya karena tuntutannya sangat tinggi, tentang segala hal, tentang diri, tentang lingkungan pokoknya harus perfect segala sesuatunya maka dia juga akan menjadi lebih parah baby bluesnya ketika dia melahirkan dan hidupnya tidak sama seperti sebelum melahirkan," jelas Elok.
Peran suami dalam menemani selama face baby blues menjadi sangat penting. Elok mengungkapkan bahwa kehadiran suami untuk membantu dan mendukung ibu setelah melahirkan akan mengurangi risiko baby blues sebanyak 40 persen.
"Bahkan itu dari banyak riset itu, ayah atau suami yang terlibat dalam proses perawatan bayi, di awal-awal kelahiran bayi, itu menurunkan baby blues 40 persen," ungkapnya.
Menurut Elok, sosialisasi terkait baby blues kepada masyarakat perlu dilakukan sebagai upaya mencegah risiko yang terjadi. Dari beberapa kasus di Indonesia, banyak sekali isu yang terjadi disebabkan oleh baby blues hingga membentuk depresi pasca melahirkan.(*)
