KETIK, MALANG – Rektor Universitas PGRI Kanjuruhan Malang (Unikama), Prof. Dr. Sudi Dul Aji, M.Si., berpesan bahwa ijazah saja tidak cukup untuk menjamin keberhasilan di tengah persaingan kerja yang semakin kompleks.
Hal tersebut disampaikan Rektor Unikama pada momentum Wisuda Sarjana dan Pascasarjana Semester Genap Tahun Akademik 2025/2026, Sabtu, 24 Oktober 2026.
Saat ini, perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) dan perubahan kebutuhan dunia kerja menjadi tantangan yang harus dihadapi lulusan perguruan tinggi. Mereka akan dihadapkan dengan persaingan dunia kerja.
Prof. Sudi Dul Aji menilai perkembangan teknologi digital, AI, dan otomatisasi telah mengubah cara manusia belajar, bekerja, berkomunikasi, hingga merencanakan masa depan. Kondisi ini menuntut lulusan perguruan tinggi untuk terus mengembangkan kemampuan agar mampu beradaptasi dengan perubahan.
Menurutnya, lulusan tidak cukup hanya mengandalkan pengetahuan akademik yang diperoleh selama kuliah. Mereka juga perlu memiliki kemampuan berpikir kritis, berkomunikasi, bekerja sama, beradaptasi, serta menyelesaikan persoalan nyata.
“Dalam situasi seperti ini, ijazah merupakan bukti bahwa Saudara telah menyelesaikan proses pendidikan akademik. Akan tetapi, ijazah saja tidak cukup untuk menjamin keberhasilan dalam kehidupan,” ujar Prof. Sudi Dul Aji.
Lulusan Diminta Tidak Berhenti Belajar
Prof. Sudi Dul Aji menekankan pentingnya kemauan untuk terus belajar setelah menyelesaikan pendidikan tinggi. Menurutnya, lulusan akan menghadapi situasi yang tidak selalu sesuai dengan harapan, mulai dari sulitnya memperoleh pekerjaan hingga kebutuhan memperbarui keterampilan.
Ia mengingatkan agar lulusan tidak berkecil hati ketika menghadapi kegagalan atau ketika perjalanan karier tidak berjalan sesuai rencana. Sebaliknya, kondisi tersebut perlu menjadi kesempatan untuk belajar dan mengembangkan kemampuan baru.
Prof. Sudi Dul Aji juga mendorong para lulusan untuk terus mengikuti perkembangan teknologi, memperluas jaringan, serta meningkatkan keterampilan sesuai kebutuhan zaman.
Dalam konteks penggunaan AI, ia mengingatkan bahwa teknologi seharusnya dimanfaatkan untuk meningkatkan produktivitas dan kreativitas, bukan menggantikan kemampuan manusia untuk berpikir dan mengambil keputusan secara bertanggung jawab.
“Jangan takut menghadapi perubahan. Takutlah apabila kita berhenti belajar ketika dunia terus bergerak maju,” tegasnya.
Dorong Lulusan Menciptakan Peluang Kerja
Selain mengikuti perkembangan teknologi, Prof. Sudi Dul Aji menyoroti persaingan di dunia kerja yang dihadapi para lulusan perguruan tinggi. Ia menilai keterbatasan kesempatan kerja menuntut lulusan untuk melihat peluang dari sudut pandang yang lebih luas.
Alih-alih hanya mencari pekerjaan, lulusan didorong untuk mengenali potensi diri, memahami kebutuhan masyarakat, dan mencari solusi atas berbagai persoalan di lingkungan sekitar.
Menurutnya, lulusan dengan latar belakang pendidikan dapat mengembangkan layanan belajar yang inovatif. Sementara itu, mereka yang memiliki kompetensi teknologi berpeluang menciptakan solusi digital, sedangkan lulusan dengan pemahaman bisnis dapat akan memberikan peluang usaha produktif.
Prof. Sudi Dul Aji juga menegaskan bahwa kewirausahaan tidak semestinya dipandang sebagai pilihan terakhir ketika seseorang gagal memperoleh pekerjaan. Kewirausahaan dapat menjadi jalan untuk menciptakan nilai ekonomi sekaligus membuka kesempatan kerja bagi orang lain.
“Jangan hanya menjadi pencari peluang. Jadilah pencipta peluang,” ujarnya.
Integritas Tetap Dibutuhkan di Era Teknologi
Di tengah kemajuan teknologi, Prof. Sudi Dul Aji turut mengingatkan pentingnya integritas dalam membangun karier dan kehidupan profesional. Ia menuturkan bahwa kecerdasan dan kemampuan teknis perlu diimbangi kejujuran, tanggung jawab, serta kepedulian terhadap sesama.
Ia juga berpesan agar lulusan selalu menjaga etika dalam bertindak dan menjadikan ilmu pengetahuan sebagai sarana untuk memberikan manfaat bagi masyarakat.
Prof. Sudi Dul Aji juga menekankan bahwa kemajuan teknologi tidak seharusnya membuat manusia kehilangan jati diri dan kepedulian sosial. Nilai-nilai kearifan lokal, seperti gotong royong, penghormatan terhadap perbedaan, dan tanggung jawab sosial, tetap relevan di tengah kehidupan yang semakin terhubung secara digital.
Melalui pesan tersebut, Unikama berharap para lulusan tidak hanya mampu bersaing di dunia kerja, tetapi juga berkontribusi melalui karya, inovasi, dan sikap profesional yang bertanggung jawab.
Bagi lulusan perguruan tinggi, tantangan setelah wisuda bukan hanya mendapatkan pekerjaan pertama. Kemampuan untuk terus belajar, memanfaatkan teknologi secara bijak, menciptakan peluang, dan menjaga integritas menjadi bekal penting dalam menghadapi perubahan dunia kerja.(*)
