KETIK, MALANG – Dosen Departemen Geografi Universitas Negeri Malang (UM), Melati Julia Rahma, S.P., M.Ling., menyoroti masifnya alih fungsi lahan agroforestri menjadi perkebunan monokultur di Jawa Timur. Kondisi tersebut terjadi di sejumlah wilayah, mulai dari Malang Selatan hingga lereng Pegunungan Anjasmoro, dan dinilai turut mengancam fungsi ekologis hutan.
Sampai saat ini, kasus kebakaran hutan yang masih menjadi permasalahan di Indonesia belum mendapatkan solusi untuk menghentikannya. Persoalan ini pun menjadi sorotan bagi para akademisi, salah satunya dari Universitas Negeri Malang (UM).
Melati Julia Rahma, S.P., M.Ling., mengungkapkan bahwa alih fungsi lahan agroforestri menjadi perkebunan monokultur tengah masif dilakukan. Hal tersebut didorong kebijakan swasembada gula yang membuat petani beralih dari kebun kopi ke tebu karena dianggap lebih menguntungkan secara ekonomi.
Menurutnya, aspek ekologi selalu dikorbankan ketika terjadi ketegangan antara kepentingan ekologi dan ekonomi. Hutan masih dan sering dipandang sebagai lahan tidak produktif, padahal terdapat banyak fungsi hutan, salah satunya sebagai penopang biodiversitas dan paru-paru dunia yang tidak dapat digantikan oleh nilai ekonomi semata.
“Hutan adalah suatu ekosistem tumbuh yang sangat kompleks yang mana dia berperan sebagai paru-paru dunia, paru-paru negara. Karena menghasilkan oksigen, biodiversity, keragaman plasma nutfah, itu semua ada di hutan dan itu tidak ternilai secara ekonomi,” jelas Mela.
Agroforestri sebagai sistem pertanian yang memadukan tanaman produksi dengan tanaman tegakan hutan menjadi solusi yang ditawarkan untuk menyeimbangkan kepentingan tersebut.
Sejak 2024, Mela bersama Anvesaka Coffee Terroir Research Group meneliti keberagaman varietas kopi Liberika dan Excelsa di sepanjang lereng Anjasmoro. Tim lintas disiplin ini melibatkan pakar ekologi, taksonomi, cita rasa, hingga mikrobiologi fermentasi dari UM dan Universitas Brawijaya (UB).
Riset tersebut tidak hanya berhenti di laboratorium, tetapi hasilnya dihilirisasi melalui kelas sensori dan cupping test bagi petani agar mereka menyadari nilai ekonomi yang tinggi jika kopi diolah dengan baik. Dengan demikian, tidak ada petani yang tergiur mengonversi lahan agroforestri menjadi perkebunan tebu.
Langkah ini menegaskan peran UM dalam menjalankan Tri Dharma Perguruan Tinggi secara utuh, mulai dari riset kredibel, pengabdian kepada masyarakat yang menyentuh akar masalah petani, hingga pendidikan berjenjang yang menumbuhkan kesadaran lingkungan sejak dini.
Mahasiswa sebagai agen perubahan turut terlibat dalam persoalan hutan di Indonesia, salah satunya melalui program penanaman Sansevieria serentak saat kegiatan PKKMB. Tanaman tersebut diketahui mampu menyerap logam berat dan polusi udara.
Inovasi lain juga dapat dilakukan, seperti mengganti papan bunga ucapan dengan bibit pohon yang mencerminkan komitmen kampus dalam mengurangi limbah tanpa mengesampingkan tradisi.
Kontribusi UM ini selaras dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDG) ke-15, Ekosistem Daratan, yang menekankan pentingnya melindungi, memulihkan, dan mendukung penggunaan berkelanjutan ekosistem daratan, termasuk hutan. Hal ini juga sekaligus mendorong penghentian dan pemulihan degradasi lahan serta penghentian hilangnya keanekaragaman hayati.
Riset kopi Liberika dan Excelsa menjadi bukti konkret bagaimana pendekatan ilmiah dapat mendorong praktik agroforestri yang menjaga tutupan hutan sekaligus memberikan insentif ekonomi bagi petani agar tidak beralih ke sistem monokultur.
Mela menyebutkan bahwa penyelesaian isu deforestasi memerlukan langkah kecil yang konsisten dan melibatkan banyak pihak. Ia menggarisbawahi bahwa kesadaran kolektif menjadi fondasi utama sebelum perubahan perilaku dapat terwujud.
“Kesadaran adalah salah satu kunci penting untuk bagaimana manusia ini mau menjaga keutuhan hutan dan meminimalisir terjadinya deforestasi,” tuturnya.
Melalui riset, pengabdian, dan pendidikan yang berkelanjutan, UM menunjukkan bahwa kampus dapat menjadi motor penggerak pelestarian hutan tanpa mengabaikan kesejahteraan masyarakat sekitar.
Sinergi antara dosen dan mahasiswa dalam menjaga keanekaragaman hayati diharapkan terus digalakkan demi bumi yang lestari dan berkelanjutan. (*)
.png)