KETIK, JOMBANG – Krisis air bersih yang melanda Dusun Brangkal, Desa Jipurapah, Kecamatan Plandaan, Kabupaten Jombang, Jawa Timur, menyisakan persoalan pada fasilitas Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat (Pamsimas).
Fasilitas yang diharapkan menjadi sumber air bagi masyarakat itu disebut warga telah mengeluarkan air asin sejak awal dibangun. Kondisi tersebut membuat air Pamsimas tidak dapat diandalkan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, terutama saat sumur warga mulai mengering pada musim kemarau.
Kini, sekitar 150 kepala keluarga (KK) atau 700 jiwa di Dusun Brangkal kesulitan mendapatkan air bersih. Sebagian warga terpaksa mengambil air dari cerukan di dasar sungai yang mengering, sedangkan kebutuhan lainnya dipenuhi melalui bantuan distribusi air bersih.
Kondisi ini memunculkan pertanyaan mengenai fungsi dan kelayakan fasilitas Pamsimas di wilayah tersebut. Terlebih, persoalan air asin disebut telah diketahui sejak awal pembangunan, tetapi hingga kini fasilitas itu belum dapat dimanfaatkan sebagai sumber air bersih yang andal.
Kepala Dusun Brangkal, Suwoto, mengatakan warga mulai merasakan kesulitan air bersih sejak awal Oktober 2026. Wilayah terdampak meliputi RT 1, RT 2, dan RT 4.
“Ada 150 kepala keluarga (KK) dari 700 jiwa yang mengalami kesulitan mendapatkan air,” kata Suwoto, Rabu (28/10/2026).
Menurut Suwoto, selama ini warga mengandalkan sumur bor di rumah masing-masing untuk memenuhi kebutuhan air. Namun, memasuki musim kemarau, persediaan air semakin menipis sehingga sebagian warga harus mencari sumber alternatif.
“Biasanya saat kemarau panjang warga masih mengandalkan sumur bor di rumah masing-masing. Sekarang airnya mulai sulit, jadi warga mengambil air ke sungai,” ujarnya.
Persoalan tak hanya berkaitan dengan mengeringnya sumur warga. Fasilitas Pamsimas yang semestinya menjadi alternatif pasokan air komunal juga disebut belum bisa dimanfaatkan karena airnya terasa asin.
“Sejak dibangun airnya asin. Jadi tidak layak digunakan warga,” ungkap Suwoto.
Keterangan tersebut menyisakan sejumlah persoalan yang perlu ditelusuri, mulai dari kondisi sumber air dan hasil pemeriksaan kualitasnya hingga upaya penanganan sejak keluhan pertama muncul.
Hingga kini, belum ada keterangan mengenai hasil pengujian kualitas air Pamsimas maupun penjelasan teknis mengenai penyebab air terasa asin. Pemeriksaan diperlukan untuk memastikan kualitas air sekaligus menentukan langkah perbaikan yang dapat dilakukan.
Akibatnya, warga masih bergantung pada sumur pribadi yang mulai mengering dan bantuan distribusi air bersih dari pemerintah.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jombang telah menyalurkan bantuan air bersih untuk membantu warga Desa Jipurapah.
Kepala Pelaksana BPBD Jombang, Wiku Birawa Felipe Dias Quintas, melalui Supervisor BPBD Jombang, Stevy Maria, mengatakan bantuan disalurkan menggunakan dua tangki air berkapasitas masing-masing 5.000 liter.
“Per hari ini kami sudah luncurkan dua tangki air ke sana,” kata Stevy.
Menurut dia, distribusi air bersih ke wilayah tersebut dilakukan setiap dua hari sekali dengan total 10.000 liter.
“Kita kirim 10.000 liter setiap dua hari sekali untuk warga,” imbuhnya.
Bantuan tersebut menjadi upaya untuk memenuhi kebutuhan air warga selama sumber air di lingkungan mereka mengalami kekeringan.
Namun, distribusi air menggunakan tangki hanya menjadi penanganan jangka pendek. Kondisi Pamsimas yang disebut mengeluarkan air asin sejak awal pembangunan juga perlu diperiksa agar penyebab persoalan diketahui dan fungsi fasilitasnya dapat dievaluasi.
Sementara itu, Kepala Bidang Prasarana, Sarana, dan Utilitas Umum (PSU) Dinas Perumahan dan Permukiman (Perkim) Jombang, Sri Rahayu, mengatakan pihaknya belum menerima laporan resmi mengenai kondisi fasilitas air bersih di Dusun Brangkal dan Dusun Jipurapah.
“Untuk yang di Dusun Brangkal dan Dusun Jipurapah, sampai sekarang kami belum mendapatkan laporan,” kata Sri, Rabu (28/10/2026).
Meski demikian, Sri menyatakan pihaknya berencana mengecek langsung ke lapangan untuk mengetahui kondisi fasilitas air bersih tersebut, termasuk kemungkinan adanya kerusakan sarana.
“Nanti akan kami cek langsung ke lapangan untuk mengetahui bagaimana kondisinya,” ujarnya.
Menurut Sri, pemeriksaan diperlukan untuk mengidentifikasi bagian fasilitas yang mengalami gangguan dan menentukan langkah penanganan yang sesuai.
“Kami harus melihat dulu kondisi di lapangan. Kalau memang ada kerusakan, tentu perlu diketahui bagian mana yang mengalami gangguan,” katanya.
Ia juga meminta masyarakat dan pemerintah desa segera melaporkan kerusakan fasilitas air bersih kepada dinas terkait agar dapat ditindaklanjuti.
“Harapannya kalau ada kerusakan segera dilaporkan ke dinas. Jadi, kami bisa segera mengetahui dan melakukan penanganan,” pungkasnya.
Hingga Rabu, 28 Oktober 2026, warga terdampak masih membutuhkan pasokan air bersih untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Sementara itu, kondisi Pamsimas yang disebut mengeluarkan air asin sejak awal pembangunan masih memerlukan pemeriksaan lebih lanjut.
