Cerita Mahasiswa UIN KHAS Jember Queen Fahriza Taklukkan Murottal Sab’ah di Hari Santri 2026

27 Oktober 2026 14:26 27 Okt 2026 14:26

Haryono, Mustopa

Redaksi Ketik.com
Thumbnail Cerita Mahasiswa UIN KHAS Jember Queen Fahriza Taklukkan Murottal Sab’ah di Hari Santri 2026

Mahasiswa baru Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI), Fakultas Dakwah, UIN Kiai Haji Achmad Siddiq (UIN KHAS) Jember itu berhasil menyabet juara I Qiraat Murottal Sab’ah kategori remaja putri dalam rangkaian peringatan Hari Santri Nasional (HSN) 2026. (Foto: Humas UIN KHAS Jember for Ketik.com)

KETIK, JEMBER – Keberanian meninggalkan zona nyaman mengantarkan Queen Fahriza Putri meraih prestasi membanggakan.

Mahasiswa baru Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI), Fakultas Dakwah, UIN Kiai Haji Achmad Siddiq (UIN KHAS) Jember itu berhasil menyabet juara I Qiraat Murottal Sab’ah kategori remaja putri dalam rangkaian peringatan Hari Santri Nasional (HSN) 2026 yang diselenggarakan Pemerintah Kabupaten Jember, Sabtu, 10 Oktober 2026.

Prestasi tersebut terasa istimewa karena perlombaan itu merupakan pengalaman pertama Queen mengikuti cabang Qiraat Murottal Sab’ah. Sebelumnya, ia lebih dikenal melalui kiprahnya di dunia Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ), terutama cabang Syarhil Qur’an yang telah ditekuninya sejak kecil.

Perubahan cabang lomba bukan sekadar pergantian arena kompetisi. Queen harus mempelajari teknik bacaan yang berbeda sekaligus menguasai enam riwayat dari tiga imam. Tantangan itu menuntut ketelitian, konsistensi, dan waktu belajar yang tidak sedikit.

Alih-alih bertahan pada bidang yang sudah dikenalnya, Queen memilih mengambil tantangan baru. Batasan usia pada cabang Syarhil Qur’an yang selama ini digelutinya menjadi salah satu alasan untuk mencari ruang pengembangan diri melalui Qiraat Murottal Sab’ah.

“Setiap imam memiliki dua riwayat yang berbeda. Jadi, ada enam riwayat yang harus dipelajari dan dipersiapkan. Karena itu, perlu waktu jauh-jauh hari supaya benar-benar menguasainya,” ungkap Queen.

Sejak Mei 2026, Queen mulai menjalani persiapan secara rutin bersama Ustaz Suyono, pembina kafilah MTQ Kabupaten Jember. Sabtu dan Minggu yang biasanya menjadi waktu untuk beristirahat justru dimanfaatkan untuk mendalami materi dan memperbaiki kualitas bacaannya.

Latihan bersama pembimbing kemudian dilanjutkan secara mandiri di rumah. Selepas salat, Queen kembali mengulang materi yang telah dipelajarinya. Proses tersebut dilakukan berulang kali untuk memperkuat ingatan dan membantunya memahami perbedaan setiap riwayat.

Dukungan keluarga turut menjadi bagian penting dalam perjalanan persiapan tersebut. Orang tuanya mengikuti perkembangan proses belajar Queen, sementara ia terus berusaha menjaga konsistensi latihan hingga mendekati hari perlombaan.

Tantangan semakin terasa ketika Queen mulai menjalani aktivitas sebagai mahasiswa baru. Di tengah perkuliahan dan tugas akademik, ia tetap harus menyediakan waktu untuk berlatih sekaligus membimbing adik-adik yang tengah mempersiapkan lomba Syarhil Qur’an.

Sejumlah tanggung jawab itu datang bersamaan. Namun, Queen berusaha mengatur waktunya agar kewajiban sebagai mahasiswa dan proses pengembangan kemampuan membaca Al-Qur’an tetap berjalan beriringan.

Baginya, mengikuti perlombaan tidak cukup dimaknai sebagai upaya mendapatkan gelar juara. Kompetisi juga menjadi kesempatan untuk menguji kemampuan, mengenali kekurangan, dan mengevaluasi hasil belajar.

“Motivasi saya ingin terus berlanjut di dunia MTQ dan mengamalkan ilmu yang sudah saya dapatkan. Saya juga ingin menambah pengalaman dan menjadikannya sebagai bahan evaluasi dari proses belajar selama ini,” tuturnya.

Persiapan panjang itu akhirnya bermuara pada perlombaan Qiraat Murottal Sab’ah yang berlangsung di musala Kantor Pemerintah Kabupaten Jember. Pada Sabtu, 10 Oktober 2026, Queen harus bersaing dengan peserta lain yang telah mempersiapkan diri, termasuk mereka yang berasal dari lingkungan pesantren dan memiliki pengalaman dalam bidang qiraat.

Sebagai peserta yang baru pertama kali mengikuti cabang tersebut, Queen tidak menaruh ekspektasi berlebihan. Ia memilih menjalani perlombaan sebagai bagian dari proses belajar, sembari berusaha menampilkan kemampuan terbaiknya.

Hasilnya di luar dugaan. Queen berhasil menempati peringkat pertama pada kategori remaja putri.

“Pastinya sangat bersyukur, bahagia, dan tidak menyangka. Apalagi ini pengalaman pertama saya mengikuti cabang Murottal Sab’ah, tetapi langsung mendapatkan juara satu,” ujarnya.

Kemenangan itu menjadi buah dari proses yang dijalani selama berbulan-bulan. Waktu akhir pekan yang tersita untuk latihan, materi yang terus diulang di rumah, hingga upayanya membagi konsentrasi antara perkuliahan dan persiapan lomba menjadi bagian dari perjalanan menuju podium juara.

Queen juga menyadari bahwa pencapaian tersebut tidak lepas dari dukungan keluarga dan bimbingan Ustaz Suyono yang mendampinginya selama proses persiapan.

Sebagai mahasiswa baru, ia bahkan belum sempat melaporkan keikutsertaannya dalam perlombaan kepada pihak fakultas. Setelah kabar keberhasilannya diketahui, Queen memperoleh apresiasi dari Fakultas Dakwah UIN KHAS Jember.

Di balik kemenangan pertamanya dalam Qiraat Murottal Sab’ah, Queen menyimpan pengalaman lain yang turut membentuk keteguhan dirinya. Ia pernah mengalami kegagalan dalam perjalanan menuju MTQ Nasional.

Pengalaman tersebut tidak membuatnya meninggalkan dunia MTQ. Sebaliknya, kegagalan menjadi bagian dari proses untuk mengevaluasi kemampuan dan memperbaiki kekurangan.

Bagi Queen, keberhasilan tidak selalu datang melalui jalan yang lurus. Ada kesempatan yang tidak berjalan sesuai harapan, tetapi setiap pengalaman tetap memberikan pelajaran untuk menghadapi tantangan berikutnya.

Karena itu, gelar juara pertama dalam Qiraat Murottal Sab’ah bukan hanya menjadi tambahan daftar prestasi. Pencapaian tersebut juga memperkuat keyakinannya bahwa mencoba bidang baru dapat membuka peluang yang sebelumnya tidak pernah dibayangkan.

Queen berharap generasi muda, khususnya mahasiswa, tidak mudah menyerah ketika menghadapi kegagalan. Selama masih ada kemauan untuk belajar dan memperbaiki diri, selalu ada kesempatan untuk berkembang.

Hari Santri sebagai Momentum Memperkuat Kedekatan dengan Al-Qur’an

Bagi Queen, peringatan Hari Santri Nasional bukan sekadar momentum untuk berkompetisi atau merayakan prestasi. Lebih dari itu, Hari Santri menjadi pengingat pentingnya menjaga kedekatan dengan Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari.

Ia menilai semangat mencintai Al-Qur’an seharusnya tidak hanya muncul ketika ada perlombaan atau peringatan hari besar keagamaan. Kebiasaan membaca, mempelajari kaidah-kaidahnya, dan mengamalkan nilai-nilainya perlu terus dijaga dalam keseharian.

“Jangan hanya pada momentum Hari Santri Nasional kita berlomba-lomba menyemarakkan Al-Qur’an. Dalam kehidupan sehari-hari, kita juga harus konsisten membaca, mempelajari kaidah-kaidahnya, dan mengamalkan nilai-nilai Al-Qur’an,” pesannya.

Pandangan tersebut sekaligus menjadi pengingat bahwa prestasi di bidang Al-Qur’an idealnya berjalan seiring dengan upaya memahami dan menerapkan ajarannya dalam kehidupan.

Gelar juara pertama tidak membuat Queen berhenti melangkah. Ia bertekad melanjutkan pembinaan dan mempersiapkan diri menghadapi proses seleksi MTQ tingkat Provinsi Jawa Timur sebagai salah satu tahapan menuju kompetisi nasional.

Pengalaman berpindah dari Syarhil Qur’an ke Qiraat Murottal Sab’ah memberinya pelajaran bahwa keterbatasan dalam satu bidang bukan berarti perjalanan harus berakhir. Keberanian mencoba, kesediaan memulai dari awal, dan ketekunan menjalani proses dapat membuka kesempatan baru.

Queen pun membagikan pesan kepada mahasiswa lain agar tidak takut mengambil tantangan positif, meskipun harus meninggalkan kenyamanan yang selama ini dikenal.

“Jangan pernah takut untuk mencoba hal baru dan keluar dari zona nyaman. Sesuatu yang indah membutuhkan proses dan perjuangan. Teruslah mencoba hal-hal positif, baik untuk diri sendiri, orang lain, maupun lingkungan sekitar,” pungkasnya.

Perjalanan Queen Fahriza Putri menjadi gambaran bahwa prestasi bukan hanya ditentukan oleh kemampuan pada hari perlombaan. Ada kedisiplinan yang dibangun jauh sebelumnya, dukungan orang-orang terdekat, pengalaman menghadapi kegagalan, serta keberanian untuk memulai sesuatu yang baru.

Dari latihan setiap akhir pekan hingga penguasaan enam riwayat, mahasiswa baru UIN KHAS Jember itu menunjukkan bahwa ketekunan dapat mengubah pengalaman pertama menjadi pencapaian yang membanggakan.

Kini, setelah menorehkan prestasi di tingkat Kabupaten Jember, Queen bersiap menghadapi tantangan selanjutnya. Baginya, juara pertama bukanlah garis akhir, melainkan pijakan untuk terus belajar, memperdalam ilmu Al-Qur’an, dan mengembangkan potensi diri.(*)

Tombol Google News

Tags:

UIN KHAS Jember Sabet Juara 1 Hari Santri Nasional Hsn 2026 Queen Fahriza Putri