Anggota PWI Halsel Mengaku Ditempeleng Oknum TNI Berseragam

15 Juli 2026 08:04 15 Jul 2026 08:04

Thumbnail Anggota PWI Halsel Mengaku Ditempeleng Oknum TNI Berseragam

Gambar ilustrasi penganiayaan wartawan (Sumber: Detik)

KETIK, HALMAHERA SELATAN – Dugaan tindakan kekerasan yang melibatkan seorang oknum anggota Tentara Nasional Indonesia (TNI) terjadi di tengah arena nonton bareng Piala Dunia 2026 di Coffee Palm, Desa Tomori, Kecamatan Bacan, Kabupaten Halmahera Selatan, Rabu (15/7/2026) dini hari.

Korban diketahui bernama Samuel Ahasweros Ahiyate, anggota Persatuan Wartawan Indonesia (PWI). Ia mengaku ditampar secara tiba-tiba oleh oknum anggota TNI yang saat kejadian disebut mengenakan seragam dinas lengkap dan diduga berada dalam pengaruh minuman beralkohol.

Insiden tersebut terjadi menjelang berakhirnya pertandingan antara Prancis dan Spanyol, sekitar pukul 05.50 WIT. Saat itu, Samuel bersama sejumlah penonton sedang menyaksikan jalannya pertandingan.

Samuel mengatakan dirinya tidak terlibat perselisihan ataupun melakukan tindakan yang ditujukan kepada terduga pelaku. Ia hanya berteriak sebagai bentuk euforia atas hasil pertandingan.

“Saya juga tidak tahu apa-apa. Tiba-tiba saya ditampar oleh yang bersangkutan. Padahal saya hanya berteriak karena euforia atas kekalahan Prancis. Menjelang akhir pertandingan, kurang lebih pukul 05.50 WIT, saya lalu ditampar,” kata Samuel.

Menurut Samuel, tindakan tersebut menjadi semakin serius karena dilakukan oleh seseorang yang mengenakan atribut resmi militer. Ia juga menduga oknum tersebut telah mengonsumsi minuman keras sebelum melakukan pemukulan.

“Yang saya sayangkan, yang bersangkutan menggunakan pakaian dinas lengkap dan dalam kondisi mabuk. Atas kejadian tersebut, saya meminta keadilan. Yang bersangkutan harus diproses sesuai dengan ketentuan yang berlaku,” tegasnya.

Dugaan kekerasan yang dilakukan dengan mengenakan seragam dinas bukan sekadar persoalan pribadi antara dua orang. Peristiwa tersebut menyentuh kehormatan institusi, disiplin militer, serta kepercayaan masyarakat terhadap aparat negara yang seharusnya hadir memberikan rasa aman.

Seragam dinas melekatkan kewenangan sekaligus tanggung jawab. Karena itu, apabila dugaan tersebut terbukti, tindakan kekerasan di ruang publik—terlebih dalam kondisi diduga dipengaruhi alkohol—tidak boleh diselesaikan secara informal ataupun dibiarkan menguap tanpa proses hukum dan pemeriksaan disiplin yang transparan.

Samuel meminta institusi TNI segera turun tangan, memeriksa oknum yang bersangkutan, mengungkap kronologi secara terang, serta memberikan kepastian hukum kepada korban. Ia menegaskan tidak menginginkan kekerasan tersebut dianggap sebagai peristiwa biasa hanya karena terduga pelaku berasal dari institusi bersenjata.

Hingga berita ini disusun, identitas, pangkat, dan satuan oknum anggota TNI tersebut belum dipublikasikan. Keterangan resmi dari pihak TNI maupun terduga pelaku juga belum diperoleh. Namun puluhan saksi yang melihat secara langsung pelaku saat melakukan penganiayaan di tempat kejadian perkara.

 

Tombol Google News

Tags:

oknum TNI Penganiayaan Wartawan Halmahera Selatan Maluku Utara